Life After Married

Life After Married
Bab 89- Kedatangan Velove


__ADS_3

Sepanjang hari ini hati Asih, tidak tenang. Menimbang-nimbang tawaran dari Danu dan juga memikirkan perasaan Dinda. Asih, terus menatap sebuah map di tangan nya. Apakah yang dilakukannya benar atau salah.


Jika di tolak, bagaimana dengan kehidupan Dinda dan juga Syena cucunya. Betahun-tahun lamanya mereka hidup sederhana dan serba kekurangan bahkan Dinda, selalu merasakan kepedihan dan penderitaan.


Rumah, perusahaan, tanah dan mobil semua aset yang di berikan Fras, memang sangat membantu untuk masa depan putri dan cucunya nanti. Apalagi saat ini tidak ada yang bertanggung jawab atas Dinda, dan Syena. Asih tidak ingin Dinda selalu pergi pagi pulang pagi hanya untuk mencukupi kehidupannya.


Mungkin ini lah saat nya, untuk Dinda, bahagia. Dinda berhak menerima semua ini semua barang mewah ini. Tapi bagaimana caranya untuk meyakinkan Dinda.


Tok, tok, tok,


Sontak Asih, terjejut saat pintu kamarnya di ketuk. Di tariknya nafas perlahan lalu di hembuskan. Asih, berpikir sejenak seraya menyapu setiap sudut kamarnya untuk menyembunyikan map itu.


Sehingga tidak ada cara lain. Asih, memasukkan itu ke dalam laci lemari nya. Setelah merasa aman Asih menutup lemarinya berjalan ke arah pintu untuk membuka nya.


Cklek,


Suara pintu terbuka memperlihatkan wajah Dinda, yang manis di balik pintu. Wajah manis itu memancarkan senyuman yang begitu indah.


"Ibu, Dinda mau pergi sebentar. Titip Syena, ya karena sedang tidur."


"Mau kemana?"


"Mau ke tempat Karin, sekalian mau kasih tahu kita akan pindah Bu."


"Ehm … baiklah. Jangan lama-lama ya Nak."


"Enggak lama kok Bu. Tadi Karin, telepon aku di suruh ke sana. Mungkin Karin, sedang ada masalah. Dinda, pergi dulu ya Bu."


"Iya."


Setelah mendapat izin dari Asih, Dinda segera pergi.


Asih, masih menatap punggung putrinya yang kian menghilang. Pikirannya masih mencari alasan yang tepat agar Dinda, mau menandatangani dokumen itu.


*****


Dinda, berjalan menuruni anak tangga tahap demi tahap. Hingga sampai di lobby utama. Kaki jenjangnya mulai melangkah keluar dari apartemen hingga menapaki jalanan aspal yang terasa sekali panasnya. Karena sinar matahari sedang menyorot ke bumi siang ini.

__ADS_1


Sekilas matanya melirik ke arah samping kirinya, dimana letak kantor Willy, berada.


Tertulis kata 'Close' pada pintu kaca menandakan jika kantor itu tutup dan Willy, tidak ada di dalam kantornya.


Sedetik lirik 'kan matanya ia lempar ke arah jalanan aspal. Sambil menunggu taksi yang di pesan pikiran nya kembali teringat pada percakapan nya dengan Karin waktu lalu.


Percakapan antara nazar dan janji yang di katakan nya. Bahwa dirinya akan menikahi seseorang yang sudah menolong dan membayar pengobatan putrinya saat itu.


Yang ternyata orang itu adalah Willy, pria yang selama ini selalu ada untuk nya. Bahkan pria satu-satunya yang mampu menggetarkan hatinya.


Tiba-tiba bayangan seorang wanita muncul. Samar-samar Dinda, mengenali wanita itu yang kini semakin dekat menghampirinya. Dinda, perpikir jika dirinya sedang berhalusinasi tapi ternyata tidak, wanita itu memang sungguhan dan bukan bayangan.


Matanya kini semakin melebar saat tahu jika wanita itu adalah Velove, yang kini berada di depan matanya.


Rasa benci, kesal, masih Dinda rasakan tidak akan pernah terlupakan masa-masa pahit dan awal kehancuran hidupnya karena wanita ini.


Tubuh Dinda, melengos berniat untuk menghindar namun tanpa di duga perkataan Velove, menghentikan langkahnya.


"Hai, kakak? Apa kamu tidak ingin menyapa adik mu ini." Ucap Velove, yang melirik ke arah Dinda. Dengan senyuman licik Velove, memandangi tubuh Dinda, yang membelakanginya.


Bibir Dinda, tersungging sinis. Baginya sangat jijik mendengar kata kakak yang keluar dari mulut Velove. Sedetik tubuhnya berbalik menghadap Velove, yang memandanginya sinis.


"Maaf, tapi aku tidak pernah menganggap mu adik." Tegas Dinda, dengan sorot mata tajam nya.


Dinda, tidak ingin berlama-lama menghadapi wanita ular ini. Dinda, melihat aplikasi hijau pada ponselnya ingin memastikan jika mobil taksi nya segera sampai. Dalam map terlihat beberapa menit lagi taksinya akan tiba.


"Tunggu dulu Dinda, aku punya satu permintaan."


"Aku bukan ibu atau ayahmu yang harus mengikuti permintaan mu. Untuk adik ku yang tak di anggap lebih baik kamu pergi dari sini."


"Apa ini sambutan mu atas kedatangan ku? Padahal aku ingin sekali bisa dekat dan akrab dengan mu. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi."


"Kamu sudah tahu jawaban nya 'kan. Sekarang pergi lah!"


Velove, masih belum juga pergi membuat Dinda, semakin kesal. Sebuah mobil avanza putih mendekat, kaca jendelanya mulai turun, seorang pria bertanya pada Dinda, apa dia salah satu penumpangnya.


Akhirnya Dinda, bisa bebas dan pergi karena taksi nya sudah datang. Dinda, pun mengangguk lalu melangkah mendekati pintu. Saat pintu mulai terbuka tiba-tiba ucapan Velove menghentikan nya lagi.

__ADS_1


"Jauhi Rey, jangan pernah lagi datang padanya. Dan satu lagi bawa pergi anak mu itu jangan sampai Rey, mengambil Syena, karena aku tidak mau itu terjadi. Sudah seharusnya seorang kakak mengalah untuk adik nya bukan."


Seketika tubuh Dinda berbalik menghadap Velove. Lalu berkata,


"Tanpa kamu minta aku akan melakukan nya. Sampai kapan pun aku tidak akan melepas putri ku apalagi memberikan nya pada Rey. Dan satu hal lagi aku melakukan ini bukan karena menganggap mu sebagai adik. Tapi karena tugas ku sebagai seorang ibu."


Tegas Dinda, lalu masuk ke dalam taksinya. Meninggal 'kan Velove, yang kini diam mematung. Sedikit kesal karena rencananya gagal. Dinda, sama sekali tidak takut atau cemburu. Niat nya untuk memanas-manasi hatinya malah hatinya yang panas.


Jendela mobil perlahan turun, taksi yang di tumpangi Dinda, belum melaju. Velove merasa heran ada apa dengan wanita ini kenapa menurunkan kaca mobil taksinya.


Sedetik Dinda, melirik ke arah Velove, membuat mata mereka saling bertatapan.


"Satu hal lagi, jangan pernah kamu muncul di hadapan ku lagi. Karena aku jijik melihat wajahmu."


Velove, membelalak 'kan matanya. Terkejut dengan apa yang Dinda, katakan. Sedang 'kan Dinda, menutup kembali kaca mobil nya. Mobil pun melaju meninggal 'kan Velove yang kini menahan rasa kesalnya.


"Jijik! Dia bilang aku jijik. Hei, Dinda kamu pikir aku tidak jijik melihat wajahmu berani nya kamu menghina wajah ku." Umpat Velove, yang terus berteriak merutuki taksi yang sudah menjauh dari pandangannya.


Urat lehernya hingga terlihat karena teriakannya itu.


Sedetik tangannya langsung mengeluarkan ponsel dalam tasnya. Hanya untuk melihat wajahnya pada bayangan layar ponselnya.


"Wajah ku cantik dan mulus seperti ini di bilang jijik. Dasar perempuan tak waras menyebalkan," gumamnya kesal.


*****


Di tempat lain Karin, duduk melamun memikirkan peristiwa semalam. Hatinya benar-benar tidak bisa tenang saat mendengar Vikram, kabur dari penjara.


Suara ponsel bergetar membuyarkan lamunannya. Satu pesan masuk terbaca saat layar ponselnya menyala.


Di raihnya ponsel itu lalu di buka. Kening Karin, mengerut menandakan heran karena pesan itu datang dari nomor yang tidak di kenal.


Sedetik ponsel itu langsung di lemparnya. Raut wajahnya berubah seperti sedang ketakutan.


...----------------...


Ada apakah dengan Karin?

__ADS_1


Like dan komentar nya dulu dong nanti othor kasih tahu 🤭.


__ADS_2