
POV Rio
Rio, sedang asyik bermain dengan Syena, di atas balkon. Tiba-tba terdengar suara deruan mesin yang berasal dari mobil temannya Rio, pun segera bangkit dari duduknya berjalan ke arah pagar pembatas untuk menengok benarkah dugaannya jika itu mobil Willy.
Ternyata dugaan nya benar. Terlihat mobil spyder berwarna putih melaju dengan cepat membelah jalanan padat di siang ini. Rio, pun bertanya-tanya mau kemana kah Willy, pergi tidak pamit padanya. Membuat Rio, berpikir jika Willy, mengajak Dinda, untuk pergi berkencan.
"Bukankah itu mobil Willy? Mau kemana?" gumam Rio, sambil berpikir.
"Syena, ayo kita ke bawah lagi. Om mau bikin mie lapar." Rio, pun memangku Syena, lalu melangkah pergi meninggalkan balkon.
Sesampainya di lantai dasar Rio, di kejutkan dengan pecahan beling yang berasal dari gelas yang Willy, lempar. Serta lantai yang licin karena cipratan air dari gelas itu.
"Ada apa ini? Kenapa kacau sekali?" pikirnya.
Rio, menurunkan Syena, dalam pangkuannya. Tubuhnya berjongkok mengambil satu persatu pecahan beling yang berserakan di bawah lantai. Tangannya begitu cekatan membersihkan pecahan hingga mengepel lantai yang basah hingga kering.
Sesekali Rio, melirik ke arah Syena, yang asyik bermain gedget yang Rio, pinjamkan. Agar Syena, tetap diam tidak turun ke lantai. Takut jika pecahan beling yang tersisa di injaknya.
Sesekali mata bulatnya memutar malas, hembusan nafas menghela berat. Jika di pikir-pikir dirinya seperti seorang pengasuh atau pembantu. Sejak kapan Rio, menjaga seorang batita dan memegang alat pel dan sapu. Sungguh tidak terlihat seperti pengacara yang hebat dan berwibawa.
"Aish, apa yang aku lakukan ini!" umpatnya yang melempar gagang sapu dan alat pel.
"Dasar Willy, dia asyik bersenang-senang dengan wanita sedangkan aku di tinggal untuk mengasuh anak kecil dan membersihkan lantai. Dimana kewibawaan ku sebagai pengacara. Harga diriku sudah turun. Awas saja kamu Willy, saat pulang nanti ku cecar kau!" umpatnya yang kembali memungut sapu dan alat pel.
Setelah lantai bersih Rio, pun meletak 'kan kembali alat pembersih itu ke tempatnya semula.
"Huh, lelahnya."
Rio, menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Hingga sepasang netranya menangkap satu benda pipih yang tergeletak di bawah lantai.
Rio, kembali bangkit lalu berjalan untuk mengambil benda pipih itu yang ternyata milik Dinda.
"Ponsel siapa ini?" ucapnya. Yang tidak sengaja menyentuh layar ponsel yang tidak di kunci pasword sama sekali. Membuat ponsel itu menyala menampilkan sebuah pesan.
[Dinda, aku ingin bertemu putriku. Jangan larang lagi untuk kami bertemu. Sebagai ayah aku juga berhak atas Syena, dan aku hanya ingin meminta waktu agar Syena, bisa bersama dengan ku walau hanya beberapa hari ini saja. Jika kamu masih melarang ku untuk bertemu dengan putriku jangan salahkan aku jika membawa Syena, pergi.]
Seketika wajah lelahnya menegang. Pikiran buruk mulai memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
Hanya dengan membaca pesan itu Rio, tahu sudah pasti yang mengirimnya papa seorang batita yang dia asuh saat ini. Setelah kejadian di mal waktu itu Rio, mulai mencari tahu tentang Dinda, dari Willy, hingga Rio, akhirnya tahu jika yang mengirim pesan ini adalah Rey, mantan suami Dinda.
"Apa karena pesan ini ya mereka pergi?" pikirnya. Rio, langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Willy. Berkali-kali ia tekan tidak ada jawaban dari sang pemilik ponsel.
Karena panggilannya tidak ada jawaban. Rio, segera menggerak 'kan jari-jarinya mengetik sebuah pesan untuk di kirim 'kan pada Willy. Setelah mendapat balasan Rio, langsung menghubungi Willy, dengan ponselnya. Seraya menggendong Syena, dalam pangkuannya.
Rio, mendekat 'kan ponsel itu pada daun telinganya, tanpa melepaskan Syena, pada pangkuannya. Selama menunggu sambungan telepon terhubung Rio, berjalan ke luar kantor New-Dream.
Syena, terus menangis mulai mengingat dan mencari ibunya. Sebisa mungkin Rio, menenangkannya hingga sambungan telepon terhubung terdengar suara Willy, dari sebrang sana.
"Halo Rio?" Terdengar suara Willy, di ujung sana.
"Willy, kamu dimana? Apa yang terjadi? Ponsel Dinda, tertinggal dan pecahan beling berserakan di lantai." suara Rio, memekik.
"Maaf Rio, aku lupa memberitahu mu. Tadi Dinda, pingsan itu karena panik tanpa sadar aku melempar gelas yang ku bawa untuk Dinda, sekarang aku ada di rumah sakit sekarwangi. Bagaimana Syena, apa dia masih bersama mu?"
"Syena, baik-baik saja dia bersama ku. Sampai saat ini aku masih menggendong nya." Sahut Rio.
"Aku pikir kamu pergi berkencan dan lupa pada ku juga putrinya," tambah Rio, yang makin ngaur saja.
"Rio, kamu ini ngomong apa sih! Sekarang datang kemari bawa Syena," titah Willy.
"Aku harus kasih tahu Willy, tentang pesan ini." batinnya yang terus menggenggam ponsel milik Dinda. Tiba-tiba sebuah pukulan terasa menimpa punggungnya.
Aw … sedetik Rio, meringis. Merasakan punggungnya yang sedikit panas dan nyeri. Tiba-tiba seseorang mengambil tubuh mungil Syena, membuatnya terkejut dan panik.
Takut jika itu adalah Rey, mengingat pesan yang baru saja di bacanya. Namun, saat tubuhnya berbalik dan akan menyerang seseorang yang sudah memukulnya, seketika dirinya tertegun saat melihat seorang wanita yang memangku Syena, dan menenangkan nya.
Wanita itu adalah Karin, yang sempat akan menaiki apartemen milik sahabatnya itu. Karena mendengar suara tangisan Syena, membuat Karin, menoleh ke arah Rio, yang memangku putri sahabatnya itu.
Karin, berpikir jika Rio, ingin menculik Syena, membuat Karin, melayang 'kan sebuah pukulan untuknya.
"Syena, kamu tenang ya ada aunty di sini." Ucap Karin, yang mengelus punggung Syena. Sedetik tatapan matanya beralih pada sosok pria yang kini sedang mengusap punggungnya yang sakit. Tatapan mata Karin, begitu tajam.
"Hei, siapa kamu! Mau culik anak temanku ya!"
"Enak saja kamu main tuduh. Sudah memukulku menuduh penculik lagi." rutuk Rio, tidak terima.
__ADS_1
"Alah, sudah ketahuan saja mengelak. Aku laporkan kamu sama polisi." pekik Karin, yang langsung mengambil ponsel di dalam tasnya berniat untuk menghubungi polisi.
Rio, memutar bola matanya malas. Rasanya hari ini begitu melelah 'kan. Setelah menjadi pengasuh dan pembantu apa dirinya juga harus menjadi seorang penculik? Skenario apa ini, hari liburnya benar-benar tidak seindah yang di bayangkan.
Bukannya mendapat kesenangan malah mendapat tuduhan yang tidak mengenak 'kan.
"Hei! Kembalikan ponselku dasar penculik!" pekik Karin saat Rio, merampas ponselnya.
"Anda tidak bisa menuduh saya seenaknya!. Tuduhan anda bisa saya tuntut," cecar Rio, dengan penuh emosi.
Karin, membelalak 'kan matanya.
"Apa kamu bilang tuntut! Yang benar saja, memangnya kamu punya pengacara apa untuk menuntutku. Yang ada kamu yang akan di tuntut karena telah berani menculik seorang batita." Cecar Karin, yang tidak kalah sengit.
"Saya tidak butuh pengacara karena saya seorang pengacara." Ungkap Rio, yang menunjuk 'kan kartu indentitasnya sebagai pengacara.
"Kamu pikir aku percaya! Rupanya kamu seorang penipu juga ya."
Rio, mendengus kesal kesabarannya sudah habis. Wanita di depannya ini sangat keras kepala. Percuma Rio, menjelaskan jati dirinya Karin, tetap tidak percaya.
Dengan, tatapan tajamnya Rio, kembali memasuk 'kan kartu identitasnya ke dalam dompetnya. Lalu di simpan pada saku celananya.
Karin, menatap Rio, penuh selidik namun Rio, mengabaikannya. Di ambilnya tubuh Syena dengan paksa, lalu membawanya ke dalam mobilnya.
Sontak Karin, terkejut dan langsung mengikuti Rio, naik ke dalam mobilnya.
"Hei tunggu! Dasar penculik mau di bawa kemana anak itu!" teriak Karin, yang tidak di anggap, Rio tetap berjalan lurus menuju mobilnya. Menduduk 'kan Syena, di jok depan samping kursi kemudi tempatnya menyetir.
Saat tangan Rio, hendak menarik tuas. Sebuah bantingan pintu terdengar keras. Saat di tengok ternyata Karin, yang masuk mobilnya tanpa izin, dan langsung duduk di jok belakang.
"Anda tidak akan bisa kabur," ucap Karin, membuat Rio, memutar bola matanya malas.
"Jika anda tidak percaya, bisa ikut saya kemana saya membawa anak ini." Tegas Rio, yang kembali menarik tuas, menginjak rem, melempar stir, dan menginjak pedal gas mobil pun melaju dengan cepat.
...----------------...
Aduh Karin, kamu main tuduh saja nanti kamu yang di tuntut loh hehe ...
__ADS_1
Seru gak sih pertemuan pertama mereka?
tulis komentarnya ya 🤗