
Danu, yang terkejut melihat bosnya tersungkur lemah langsung keluar dari dalam mobilnya. Sedangkan Asih, masih diam tanpa kata dengan air mata yang berlinang.
Dengan langkah panik Danu, menghampiri Fras, yang berlutut di atas aspal.
"Pak! Pak Fras, apa bapak baik-baik saja?" tanya Danu panik. Kedua tangannya di biarkan menyentuh pundak sang bos. Fras, yang di sentuh tidak memberikan respon sama sekali. Yang masih diam bergeming.
Tatapan Danu, langsung tertuju pada Asih, yang sama-sama diam. Namun terlihat jelas buliran air mata yang sudah menetes membasahi pipinya. Tatapan matanya begitu kosong. Membuat Danu, bingung dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.
"Aku ingat kan lagi jangan menemui ku atau Dinda, lagi. Jika kamu tidak ingin putrimu terluka."
Setelah mengatakan itu Asih, menyeka air matanya dan berlenggang pergi.
Danu, masih bingung dengan masalah yang di hadapi bosnya.
"Pak Fras?" panggil Danu dengan lembut.
"Bawa saya ke mobil," ucap Fras, datar.
"Mari pak."
Danu, pun memapah Fras, dengan perlahan menuju mobilnya yang terparkir. Setelah memastikan Fras, duduk dengan benar Danu, segera menutup pintu lalu berjalan memutari mobil untuk masuk ke pintu bagian depan kursi kemudi.
Dalam mobil Danu, masih terus memperhatikan wajah Fras, pada kaca d di atas kepalanya. Tatapan Fras, masih sama kosong dan berair karena beningan air mata yang luruh tanpa di minta.
Baru pertama kali ini Danu, melihat sang bos seperti ini. Kedua tangannya mulai memutar stir bersamaan dengan kedua kakinya yang mengatur pedal gas di bawahnya. Mobil pun segera melaju meninggalkan tempat itu.
Danu enggan bertanya, dan lebih memilih untuk fokus menyetir.
"Saya ingin bertemu dengan Maudy, perintahkan Maudy, untuk menemui saya di kantor." Ujar Fras, yang menatap kosong ke arah jendela.
"Baik Pak." Hanya itu jawaban Danu, lalu kembali fokus menyetir.
*****
Di sisi lain Asih, terus melangkah menyebrangi jalanan. Hingga tiba di trotoar jalan Asih, di kejutkan oleh Willy, yang memopong tubuh Dinda, keluar dari kantornya. Membawanya menuju mobilnya.
Sontak Asih, terkejut dan berlari menghampiri Willy.
"Nak Willy kenapa dengan Dinda?" tanya Asih, panik.
Willy, yang sudah menidurkan Dinda, di jok belakang. Langsung menutup pintu dan menoleh pada Asih.
"Dinda, pingsan tante. Sepertinya perutnya sakit. Saya mau bawa Dinda, ke rumah sakit."
"Tante ikut."
__ADS_1
"Baik Tante."
Willy, dan Asih, bergegas masuk ke dalam mobil. Rasa cemas dan panik membuat mereka lupa akan Syena, yang masih bermain di lantai atas bersama Rio.
Willy, segera memutar kunci, menghidupkan mobilnya, lalu menginjak pedal gas sekuat tenaga membuat mobil melaju dengan cepat hingga menciptakan suara deruan mobil yang sangat keras. Membuat Rio, yang berada di atas balkon berdiri dan menengok ke bawah.
"Bukankah itu mobil Willy? Mau kemana?" gumam Rio, sambil berpikir.
"Syena, ayo kita ke bawah lagi. Om mau bikin mie lapar." Rio, pun memangku Syena, lalu melangkah pergi meninggalkan balkon.
Sesampainya di lantai dasar Rio, di kejutkan dengan pecahan beling yang berasal dari gelas yang Willy, lempar. Serta lantai yang licin karena cipratan air yang membasahi lantai.
"Ada apa ini? Kenapa kacau sekali?" pikirnya.
Di lain tempat Fras, sudah sampai di ruangannya. Danu langsung menududuk kan tubuh bosnya itu di atas sofa. Karena ruangannya tidak hanya terdapat meja kerja saja namun memiliki fasilitas mewah lainnya.
Ruangan yang luas berukuran 6×7 meter. Di penuhi fasilitas seperti ruang pribadi dan kamar khusus untuk istirahat. Danu segera membawakan air minum untuk bosnya yang sudah tersedia di dalam ruangannya.
Segelas air putih Danu simpan di atas meja. Dengan perlahan Fras, mengambil gelas itu lalu di teguknya. Danu hanya berdiri sambil mengatur nafasnya dengan pelan.
Fras, langsung memejamkan mata, menenggelamkan kepalanya pada dinding Sofa.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Danu, menyahut dengan perkataan 'Masuk' pintu itu pun terbuka, memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian formalnya setelan jas berwarna navy, dengan satu tangan yang menjinjing tasnya.
Wanita itu adalah Maudy, yang langsung menunduk hormat pada Fras. Lalu berjalan ke arah Fras , dan duduk.
Maudy, masih diam belum berkata sepatah kata pun. Dirinya pun tidak tahu untuk apa tuan bosnya memanggil.
"Maaf pak Fras, apa ada masalah sehingga anda memanggil saya kemari?" tanya Maudy, dengan nada bicara yang begitu sopan.
Fras, membuka kedua matanya. Lalu membenarkan posisi duduknya, hingga menghela nafasnya pelan.
"Saya ingin menanyakan satu hal padamu."
"Tentang apa Pak?"
"Saya mendengar dari Danu, jika kamu pernah membantu kasus perceraian Rey, yang menjadi suami anak saya sekarang. Apa itu benar?"
Maudy terlihat gugup sedetik melirik ke arah Danu, yang berdiri di sampingnya. Lalu kembali menatap Fras.
"Benar Pak. Tapi bagaimana bapak bisa tahu? Saya pernah bilang saat itu hanya membantu teman Velove."
"Tanyakan saja pada Danu, tentang hal itu." Tunjuk Fras, pada Danu, membuat Maudy enggan bertanya lagi.
"Saat itu saya hanya membantu nona Velove, saya tidak berani membantahnya.",
__ADS_1
Fras, membuang nafasnya lagi.
"Katakan yang sejujurnya. Tentang hubungan Velove, dengan Rey. Dan kasus perceraian itu." tanya Fras, datar. Membuat Maudy semakin gugup.
"Saat itu saya di perintahkan Velove, untuk membantu temannya. Saya tidak tahu jika itu tentang perceraian. Rey, di gugat oleh istrinya karena ketahuan selingkuh dengan Velove, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris Rey di kantor. Rey, ingin nama baiknya tidak tercemar. Demi mendapatkan hak asuh putrinya hingga aku memintanya untuk mengelak tentang perselingkuhan itu. Saat sidang pertama memang berhasil karena pihak tergugat tidak cukup bukti. Namun, mereka meminta sidang lanjut hingga di ada 'kannya sidang ke 2."
Fras dan Danu masih menyimak dan mendengarkan kata demi kata yang di ucapkan Maudy.
"Saya sempat bertanya pada Velove, untuk apa membantu lelaki itu mendapatkan hak asuh putrinya. Dia bekata demi mendapatkan Rey, kekasihnya. Velove, melakukan apa pun demi lelaki itu karena mencintainya walau pun Rey, sudah memiliki istri dan anak."
Maudy menghela nafas sejenak. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan perkataannya.
"Saat sidang kedua kami di kejutkan dengan bukti dari penggugat yang menyudutkan Rey, bersalah karena selingkuh. Dengan demikian Rey, tidak mendapatkan hak asuh putrinya," jelas Maudy.
"Sekarang saya ingin tanya siapa nama istri dari Rey?"
"Dinda Kirana."
Seketika tubuh Fras, terasa lemas. Bulir air mata kembali menetes setelah mendengar perkataan Maudy yang menyebutkan nama Dinda Kirana.
Danu dan Maudy pun bingung melihat bosnya yang tiba-tiba menangis. Namun Fras, teringat kembali dengan perkataan Asih.
Flashback on
"Asih, aku tahu aku salah. Maafkan aku … maafkan aku Asih." Belum kering air mata Fras, kembali luruh membasahi pipinya.
"Kata maafmu tidak akan merubah keadaan pada putrimu. Dinda, mungkin akan mengalami trauma seperti diriku. Selama hidupnya mungkin Dinda, tidak akan percaya lagi cinta."
"Apa yang terjadi padanya? Apa karena rumah tangganya yang putus dan harus bercerai apa karena itu?" ucap Fras, membuat Asih, menatapnya.
"Kamu sudah tahu jika putrimu mengalami hal yang sama? Di sakiti oleh suaminya yang meninggalkannya demi wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan wanita itu adalah anak mu Fras," ucap Asih, penuh penekatan.
"Anak ku? Maksudmu?"
"Ya anakmu dan Rita yang melakukannya. Velove. Apa kamu tidak asing dengan nama itu?"
"Ve-love."
Fras, memang mengetahui jika anaknya menikahi suami orang lain. Bahkan Fras, sangat kecewa. Namun Fras, tidak tahu jika wanita itu adalah Dinda, putrinya sendiri.
"Apa putriku tidak berhak bahagia? Katakan Fras! Kedua wanita yang sama-sama menghancurkan hidupku dan putriku. Apa kamu masih memikirkan kata maaf? Apa masih pantas aku memaafkan semua kesalahan mu dan istri juga anakmu! Jika pun iya, apa itu akan merubah nasib putrimu? Apa luka hatinya akan sembuh hanya dengan memberikan maaf!"
Suara Asih, begitu tinggi.
"Tidak Fras, luka itu tidak akan sembuh hanya dengan kata maaf."
__ADS_1
Tubuh Fras, langsung terduduk lemah. Hingga tatapan matanya begitu kosong.
Flashback Off