
Mata Karin, mengerjap di lihatnya cahaya matahari mulai menembus jendela kaca kamarnya. Langit di luar pun begitu cerah menandakan malam sudah berganti pagi.
Kedua tangannya mengucek-ngucek matanya. Selimut yang memberikan kehangatan segera di singkapnya. Otot-otot tangannya ia renggang 'kan. Perlahan kedua kakinya beringsrut menuruni ranjang tidurnya, berjalan mendekati arah jendela agar bisa melihat pemandangan di luar sana.
Semalam Karin, begitu ketakutan akan kedatangan nya Vikram. Namun pagi ini dirinya bisa bernafas lega, karena Vikram tidak mendatanginya. Namun tetap saja Karin, harus hati-hati.
Karin, menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu berjalan menuju ranjang tidurnya, mengambil sebuah benda pipih yang tergeletak di sana.
Di usapnya layar pada ponselnya, lalu di dekat 'kan pada daun telinganya.
"Pak Antonio apa sudah ada kabar tentang Vikram? Ku dengar dia kabur dari penjara. Apa sudah di temukan?"
" …. "
"Baik lah, jika ada kabar tolong beritahu ku. Aku mohon untuk menemukan nya segera."
Karin, menjauhkan benda itu dari telinganya. Karin, menghubungi pengacaranya hanya untuk menanyakan kabar tentang kaburnya Vikram. Dengan harap Vikram akan segera di temukan.
****
Sesampainya di lantai dasar Karin, sudah di jamu dengan hidangan yang tertata rapi di meja makan. Tanpa bertanya Karin, langsung mengambil posisi duduk nya mengambil beberapa hidangan yang di pindah 'kan ke dalam piring nya.
Karin, sudah tahu pasti istri pak Daman yang menyiapkan semua ini. Tanpa menunggu lagi Karin, menyantap makanannya. Setelah selesai Karin, pamit pergi untuk bekerja.
"Pak Daman, apa sudah ada yang melihat rumah ini?"
"Belum Non, mungkin karena rumahnya besar dan harganya terlalu tinggi jadi belum ada yang minat Non."
"Ya sudah jika ada yang membeli rumah ini kabari aku ya pak. Karin, pergi dulu. Kunci bapak pegang saja."
Pak Daman hanya mengangguk mendengar perkataan dari majikan nya. Karin, bergegas pergi menuju mobilnya. Menaiki nya, mobil pun melaju meninggalkan rumah itu.
Seseorang di balik pagar rumahnya. Terus menatap kepergian mobil Karin. Setelah mobil itu tidak nampak orang itu pun berlalu pergi.
*****
Di tempat lain Dinda, duduk termenung di atas balkon. Seraya melihat jalanan padat di bawahnya. Menatap perusahaan yang sempat menjadi tempatnya mengais rezeki. Tapi kini Dinda sudah tidak lagi bekerja di sana, entah apa yang membuat Dinda, harus berhenti meninggalkan pekerjaan nya.
Di bawah sana Asih, baru saja menuruni anak tangga dengan kantung kresek hitam besar yang di bawanya. Kantung itu berisi sampah yang akan di buangnya.
__ADS_1
Setelah membuang benda itu ke tempatnya yaitu tempat sampah. Asih, kembali melangkah menuju apartemen nya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendapati seorang pria yang menghadang jalan nya. Asih tertegun menatap pria di depan nya.
*****
"Ibu? Ibu darimana?" tanya Dinda saat Asih, masuk ke dalam apartemen.
"Dari bawah buang sampah," jawab Asih, datar. Lalu duduk bersama putri dan cucunya yang sedang bermain di bawah karpet bulu.
"Dinda, apa rencana mu sekarang? Apa kamu akan bekerja di tempat Karin?"
Dinda, tertegun. Lalu berkata, "Dinda, mau jual apartemen ini. Seperti apa kata Dinda, Dinda ingin pergi jauh dari kota ini."
"Ibu punya rumah di kota X jika kamu mau kita bisa tinggal di sana. Daerahnya cukup ramai seperti ibu kota salah satu pusat industri. Banyak juga perusahaan yang berdiri di sana membuat kamu mudah untuk bekerja."
"Ibu punya rumah di sana? Kenapa Dinda tidak tahu?"
"Itu rumah peninggalan kakek mu Nak," jawab Asih, yang tersenyum masam. Seperti ada keraguan dan keterpaksaan pada diri Asih. Seolah terpaksa mengucap hal itu.
"Jika kamu ingin segera pindah. Besok pagi kita bisa pergi, apartemen ini biarkan saja kosong dulu. Jika ada yang beli nanti pihak broker akan menghubungi kita."
Note: Broker ( agen properti yang bertugas sebagai perantara penjual dan pembeli )
Dinda, merasa heran. Karena Asih, mendadak bilang memiliki rumah di kota X yang baru saja Dinda, ketahui. Di tambah dengan ajakan nya yang terlalu cepat untuk pindah.
"Ibu?"
"Emm … semalam ibu ragu mau bilang. Dan baru ingat sekarang," kata Asih gugup.
Flashback o****n
Asih, membuang sampah ke tempat sampah yang berada di ujung sudut apartemen. Cukup jauh dari apartemen nya dan terletak di tengah gang.
Setelah selesai Asih, berniat untuk pergi kembali ke apartemen. Namun, saat baru saja berbalik seorang pria dengan pakaian formal dan rapi berdiri tepat di hadapan nya. Asih tertegun melihat pria yang sempat ia temui waktu lalu.
Danu, sang asisten dari mantan suaminya itu. Danu pun meminta Asih, untuk masuk ke dalam mobilnya. Awalnya Asih menolak, namun Danu memohon dan meyakinkan agar Asih, ikut dengannya.
"Saya mohon sebentar saja. Ada yang harus saya katakan pesan dari bos saya."
"Apa itu penting? Bukan kah tidak ada lagi yang harus di katakan."
__ADS_1
"Mohon ikut saya sebentar akan saya jelaskan nanti."
Terpaksa Asih, melangkah mengikuti Danu masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil mereka duduk berdampingan di jok belakang. Danu mulai mengeluarkan lembaran dokumen di dalam tas nya. Di berikan nya dokumen itu kepada Asih, meminta Asih, untuk menandatangani.
"Apa ini?" tanya Asih.
"Ini adalah surat hak waris. Tuan Fras, memberikan setengah saham perusahaan kepada Dinda Kirana, sebagai putrinya. Serta beberapa aset yang lain berupa mobil, tanah, dan rumah. Pak Fras, memberikan rumah barunya yang di beli seharga 10 miliyar yang berada di kota X, tidak hanya rumah di kota itu pak Fras, memiliki beberapa hektar tanah yang sempat akan di bangun untuk proyek barunya. Beliau memutuskan untuk memberikan semua itu kepada Dinda putrinya."
"Fras, memberikan semua itu?"
"Pak Fras, sangat memohon agar anda menerimanya. Beliau akan sangat senang dan tidak lagi merasa bersalah atas kesalahan nya di masa lalu. Beliau juga janji tidak akan mengganggu kalian."
"Kami tidak butuh ini." Asih, mendorong berkas dokumen itu kepada Danu. Lalu meminta Danu untuk segera pergi. Asih, pun beranajak untuk turun dari mobil. Akan tetapi langkahnya terhenti karena perkataan Danu.
"Velove bukanlah anak kandung pak Fras, yang berhak nenerima hak waris hanyalah Dinda, putri kandungnya."
Asih, tediam. Matanya terbelalak. Sedetik itu juga kepalanya menengok ke arah Danu, yang duduk di sampingnya. Di tatapnya wajah Danu, mencari kebenaran atas ucapan nya itu.
"Apa maksudmu? Velove, bukan anak Fras?"
"Ya. Pak Fras, selama ini di tipu dan di bohongi oleh Bu Rita. Aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini. Dan pak Fras, tidak tahu akan hal itu. Jadi lebih baik anda menerima semua ini dari pada hak waris jatuh pada orang yang salah."
"Bujuk lah Dinda untuk menandatangani ini. Jika sudah, tolong hubungi saya. Ini kunci rumah dan ini kunci mobil semua sudah di siapa kan di rumah itu. Kalian bisa pergi kapan pun yang kalian ingin 'kan."
Asih, masih diam menatap telapak tangannya yang terdapat dua kunci penting bagi nya. Danu, turun dari mobil berjalan memutari mobilnya untuk sampai di sisi kiri Danu, langsung membuka 'kan pintu mobil agar memudahkan Asih, turun dan ke luar dari dalam mobil.
Flashnack off
"Besok terlalu cepat, belum lagi kita harus membereskan semua barang kita. Bagaimana kalau lusa? Atau akhir pekan, mungkin Karin akan ikut Bu? Karin, pasti akan marah jika kita pindah tidak bilang-bilang." Usul Dinda, Asih hanya bisa mengangguk dan tersenyum paksa.
Dinda kembali bermain bersama Syena, sedangkan Asih, tangannya terus memegang sebuah map yang sengaja di sembunyikan di belakang punggungnya. Map itu berupa dokumen penting yang harus di tandatangani Dinda. Namun Asih, belum memiliki alasan yang tepat untuk memberikannya.
Karena jika Dinda, tahu yang sebenarnya mungkin Dinda, akan menolak pemberian ayahnya. Sepertinya Asih, harus memikirkan alasan apa yang tepat agar Dinda, tidak curiga dan dengan mudahnya menandatangani dokumen itu.
*****
Author up nya kemalaman nih, jika masih sempat akan update lagi kalau belum ngantuk ya! Hehe ... abis hujan dan dingin bawaan nya pengen tidur mulu hehe. Jangan lupa like dan komentar ya.
Berikan ulasan nya juga dong untuk author 🙏, klik bintang 5 lalu tulis ulasan kalian ya.
__ADS_1