
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu mengejutkan lamunannya. Sedetik pintu itu terbuka lebar, muncullah seorang wanita yang sama, yang baru saja ia cumbu.
Sedetik bibirnya melengkung menyerupai bulan sabit. Wanita itu melangkah masuk setelah menutup pintu.
"Honey ada apa hm … apa masih kangen?" goda Rey. Yang hendak bangun dari duduknya. Namun ucapan wanita itu menghentikannya.
"Pak Rey, di panggil Bu Dinda," ujar wanita itu yang menjabat sekretarisnya. Sedetik Rey tertegun.
Ya, wanita yang bercumbu dengan Rey, adalah sekretaris barunya. Entah wanita itu masih polos atau memang Rey yang pandai menggoda membuat wanita itu jatuh pada pelukannya.
"Ada apa Dinda memanggilku?" batinnya.
"Makasih sudah memberitahuku. Kembali ke mejamu. Dan tolong periksa dokumen ini." Rey, memberikan sebuah dokumen pada wanita itu.
"Baik Pak."
"Jangan panggil pak dong honey."
"Ini dikantor pak takutnya ada yang dengar." Wanita itu beralasan.
"Baiklah. Tapi jika kita sedang berdua jangan pernah memanggilku pak lagi."
Sekilas bibir wanita itu melengkung. Membuat Rey, kembali mengecup bibir ranum itu. Setelah merasa puas Rey, keluar terlebih dulu dari ruangannya. Selang beberapa menit wanita itu ikut keluar.
*****
"Masuk." Seru Dinda saat pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Sedetik tatapan matanya yang fokus pada laptop, sedetik itu juga tatapannya beralih pada sosok pria yang berdiri dihadapannya.
Dinda menatapnya dengan dingin. Lalu menutup laptopnya beranjak dari kursi berjalan menuju sofa.
"Duduklah," ujarnya. Yang sudah bersandar pada dinding sofa.
Rey, mengikuti perintah Dinda yang langsung duduk di hadapannya. Sedetik tatapan mereka bertemu setelah sekian lama.
Bagaimana dengan perasaan mereka, mungkin biasa saja bagi Dinda, namun tidak tahu apa yang dirasakan Rey saat ini.
__ADS_1
"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Rey, tanpa Basa-basi.
"Ada apa kamu bilang." Ucap Dinda dengan senyuman sinisnya. "Ini kantor Rey, bukan hotel. Aku pikir kamu benar-benar sudah berubah. Ternyata … kelakuanmu semakin jadi."
"Apa maksud perkataanmu."
"Jangan pikir aku tidak tahu Rey, apa yang kamu lakukan di dalam ruang kerjamu. Aku tidak peduli mau kamu melakukan apa pun. Bercumbu atau memadu kasih dengan siapa pun tapi tolong jangan lakukan itu di perusahaanku." Tatap Dinda dengan tajam.
Rey, hanya berdecak kesal. "Ck! Apa kamu cemburu?"
Sumpah. Apa yang ada di pikiran Rey saat ini. Dinda langsung membelalakkan matanya. Bukannya meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Rey, malah menganggap dirinya cemburu.
"Cemburu kamu bilang? Bukan cemburu yang aku rasakan melainkan jijik. Aku jijik melihatmu Rey."
"Sudahlah Dinda. Aku tidak pernah mengatur hidupmu juga tidak pernah mengganggu rumah tanggamu. Jadi tolong jangan ikut campur dengan masalah hidupku."
"Apa kamu tidak kasihan pada istrimu yang tengah mengandung? Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama Rey. Seperti yang kamu lakukan padaku dulu."
"Kamu tidak tahu apa masalahku. Jadi kamu tidak berhak mengatur atau ikut campur. Ada alasan kenapa aku melakukan itu."
"Tidak ada alasan lain selain nafsu." Skak Dinda yang tersulut emosi. "Aku berhak mengatur sikapmu karena ini adalah perusahaanku. Aku tidak ingin perusahaanku ternodai. Terserah mau kamu melakukan itu dimana pun aku tidak peduli. Asal jangan di perusahaan ini. Jika kamu tidak suka dengan aturanku silahkan kamu pergi dari tempat ini."
"Sombong kamu Dinda," batinnya. Lalu beranjak dari kursinya.
"Baiklah nyonya Bos. Aku akan mengikuti perintahmu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Rey yang menunduk hormat.
"Jika saja aku tidak membutuhkan pekerjaan ini aku tidak akan mengemis seperti ini padamu Dinda," ucap Rey dalam hati. Lalu kakinya melangkah pergi dari ruangan Dinda.
Nafas kasar ia hembuskan. Entah sejak kapan Rey, menjadi keras kepala. Namun Dinda, masih bisa memberikan kesempatan bagi Rey, untuk bekerja di perusahaannya.
Bukan karena kasihan. Melainkan karena dirinya seorang wanita dan seorang ibu. Membayangkan bagaimana nasib anak Rey nanti jika ayahnya tidak memiliki pekerjaan yang layak untuk membiayai hidupnya.
Dinda masih bisa merasakan bagaimana sulitnya hidup Syena dulu.
*****
Di tempat lain Willy baru saja selesai melakukan sidang kliennya. Dan Willy mendapatkan kemenangan.
Kemenangan dalam sebuah kasus. Membuat seseorang tertarik untuk menjadikan Willy sebagai pengacaranya.
__ADS_1
Willy hendak keluar namun langkahnya di hadang oleh seorang wanita. Wanita itu terlihat muda, namun dingin dan datar. Willy tertegun sesaat, merasa heran pada wanita didepannya.
"Kamu pengacara yang hebat. Boleh aku berbicara denganmu walau sebentar saja?" ucap wanita itu.
"Jessica." Ucapnya yang mengulurkan tangannya.
"Willy." Jawab Willy seraya menjabat tangan Jessica. Lalu ia lepaskan.
"Jika tidak keberatan aku ingin bicara dengan anda." Jessica meminta. Willy hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kini mereka berdua berada di sebuah cafe yang terdekat dengan kantor pengadilan. Willy tidak pernah menolak untuk berbicara dengan calon kliennya. Walau pun itu seorang wanita, namun Willy tetap menjaga jarak dengan wanita mana pun itu.
"Apa yang ingin anda katakan?" tanya Willy cepat. Tanpa harus menunggu minuman yang ia pesan datang.
"Saya memiliki satu kasus. Soal perceraian dan KDRT. Sudah tiga pengacara tidak ada yang mampu memenangkan kasus ini. Pada akhirnya suamiku lah yang menang."
"Memangnya apa yang anda inginkan?"
"Saya hanya ingin. Suami saya dijadikan terdakwa atas kasus kekerasan yang dia lakukan. Dan saya ingin segera bercerai dengannya. Lelaki itu tidak pernah mau menceraikanku."
"Mungkin suamimu ingin mempertahankan pernikahan. Tidak semua masalah harus diakhiri dengan perceraian."
"Apa anda pikir saya harus menahan siksaannya setiap hari? Lihatlah." Jessica langsung menunjukkan beberapa luka lebamnya. Pada sekujur tubuhnya. Willy jadi teringat Mirna teman Dinda dulu. Yang menghilang entah kemana.
"Aku tidak bisa melawan, atau menggugat cerainya. Bahkan aku tidak bisa memenangkan sidang dan membiarkan dirinya di hukum. Karena dia punya segalanya. Dia pria kaya dan kejam. Jangankan seorang pengacara. Hakim dan jaksa bisa ia taklukan. Itulah yang membuatku sulit memenangkan kasus ini."
Willy masih diam mendengarkan. Sedetik tangan kirinya terangkat. Hanya sekedar untuk melihat jarum jam pada arlojinya. Sudah waktunya menjemput Syena. Terpaksa Willy, harus meninggalkan Jessica.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama. Ini kartu namaku anda bisa hubungi saya atau datang ke firma hukum saya. Untuk memperjelas kasus anda ini." Kata Willy yang langsung berdiri dan hendak melangkah. Namun tiba-tiba …
"Tunggu!" sanggah Jessi. Yang entah kenapa berani menyentuh tangan Willy. Detik itu juga Willy menarik tangannya menjauhkannya dari tangan wanita itu.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Willy menatap tidak suka pada Jessi, lalu melangkah pergi meninggalkan Jessi yang masih terdiam.
"Ada apa denganku. Kenapa aku berani menyentuh tangan pria itu." gumamnya yang menatap punggung Willy yang semakin menjauh. Seketika bibir ranumnya melengkung menatap sebuah kartu nama yang Willy, berikan. Entah apa yang membuatnya tersenyum.
...***********...
__ADS_1
Godaan selalu datang. Angin mulai menerpa semoga Willy tetap bisa menjaga hatinya.