
Karin sedang duduk santai di rumah barunya. Tidak lain di apartemen milik Dinda.
Hidupnya sangat tenang saat berada di apartemen milik temannya itu. Tidak ada lagi teror atau hal-hal yang mengusik hidupnya.
Di siang ini Karin hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Menonton drama yang ia sukai. Rebahan sambil baca novel dan menikmati cemilannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Karin langsung mengambil ponselnya di atas meja. Dengan santainya jempol itu menggeser layar datar itu. Melihat siapa yang telah mengirim pesan padanya.
Sedetik wajah Karin menegang tubuhnya terlonjak kaget. Benda pipih itu semakin ia dekatkan di lihatnya sebuah rekaman video yang memperlihatkan Syena yang sedang memakan chiki begitu lahapnya.
Namun, yang membuat Karin kaget suasana tempat itu yang mengerikan.
Tiba-tiba …
Aaaah!
Karin berteriak saat wajah Vikram muncul pada akhir video.
"Apa aku tidak salah lihat? Tidak mungkin ini Syena, kan."
Ting! Notifikasi pesan masuk.
[Jika kamu ingin anak ini selamat datanglah ke jalan xxx sendiri tanpa orang lain]
Satu pesan yang dibacanya. Membuat hatinya semakin cemas dan takut.
"Tidak-tidak, Syena ada di surabaya. Tidak mungkin ada bersama Vikram."
Segera Karin, menghubungi Dinda untuk memastikan apakah benar Syena di culik atau tidak.
"Halo Karin?" tanya Dinda di sebrang sana.
"Dinda apa benar Syena hilang?"
"Entahlah Karin, tapi aku sekarang sedang mencari Syena. Sudah dulu ya Karin, aku harus mencari Syena dulu."
Sambungan telepon pun di tutup.
Karin hanya terdiam. Saat mengetahui kenyataannya Syena memang hilang. Dilihatnya kembali video itu. Benar-benar jelas jika itu adalah Syena.
[ Jangan pernah menyentuh anak itu. Jika berani melukainya aku kamu akan tahu akibatnya ]
Setelah mengirim pesan itu. Karin langsung bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobilnya lalu pergi.
Karin terus berlari menuruni anak tangga hingga tiba di lantai dasar. Ancaman Vikram membuat dirinya tidak tenang. Cemas dan khawatir.
Tangannya bergetar dan begitu sulit membuka pintu mobil dengan kuncinya. Selalu saja terjatuh dan terjatuh.
"Ah Sial!" rutuk Karin saat kunci mobilnya kembali jatuh.
"Ini." Rio memberikan kunci mobilnya.
"Terima kasih," ucap Karin tanpa melihat ke arah Rio. Lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi.
Rio hanya menatap kepergian mobil itu yang melaju sangat jauh. Tingkah Karin yang mencurigakan, tangan gemetarnya terlihat begitu jelas saat Rio memberikan kunci mobilnya.
"Ada apa dengannya?" tanyanya dalam hati.
******
Di sisi lain Velove sangat heboh dengan kabar yang mengejutkan ini. Hilangnya Syena menjadi kabar gembira baginya.
__ADS_1
Di hubunginya Rita yang masih berada di rumah sakit. Rita yang mendengar kabar itu menjadikannya kesempatan.
"Halo Ma?"
"Ada apa?"
"Ada kabar bagus tapi juga sedih."
"Maksudmu?"
"Syena hilang."
"Kok bisa?"
"Aku yang membawa Syena lalu kuberikan pada Rey, dan Rey, mengajaknya jalan-jalan ke taman hiburan. Rey, tiba-tiba saja bilang jika Syena hilang. Dan Dinda sangat panik. Mereka semua sedang mencarinya saat ini."
"Apa papamu tahu hal ini?"
"Entahlah."
"Oke, ini kabar yang bagus. Jika ada kabar lagi tentang Syena, hubungi Mama. Sekarang tutup teleponnya."
"Hm." Hanya itu jawaban Velove sebelum panggilan itu berakhir.
Rita tertegun sesaat lalu tersenyum.
"Sepertinya ini bisa aku manfaatkan," ucapnya.
Rita pun melangkah pergi menuju kamar VIP dimana Fras di rawat sekarang.
*****
Dengan sabarnya Asih, menyuapi Fras agar makanan itu masuk kedalam mulutnya. Asih menjaga Fras layaknya seorang istri dan Fras terlihat sangat bahagia melihat Asih berada disampingnya.
"Wow, ternyata ada yang bernostalgia disini. Suamiku bersama mantan istrinya. Sedang aku sebagai istri sahnya tidak di perbolehkan masuk."
Asih langsung menyimpan mangkuk kosong itu dan beralih menatap Rita yang berada di depan pintu masuk.
"Untuk apa kamu datang. Aku tidak ingin melihat wajahmu." Fras angkat bicara.
"Kamu mengusirku Mas!"
"Kamu tahu kesalahanmu apa. Tidak perlu aku jelaskan."
"Terserah apa yang kamu katakan Mas." Kini tatapan Rita beralih padaAsih. "Asih! apa kamu tidak mencari cucumu. Kamu disini dengan tenang bersama suami orang. Sedangkan semua orang termasuk putrimu Dinda mereka sedang mencari Syena yang hilang."
"Apa! Syena hilang." Asih dan Fras begitu terkejut.
"Bahkan kamu tidak tahu. Nenek macam apa kamu." Rita berdecak kesal.
Asih langsung panik dan pergi mencari Dinda. Meninggalkan Fras yang sendirian bersama Rita.
Rita melangkah maju, membiarkan Fras yang menahan dadanya yang sangat sakit. Kabar mengejutkan tentang hilangnya Syena, membuat jantungnya kembali kambuh.
Rasa nyeri yang luar biasa ia rasakan. Rita hanya menatapnya tanpa melakukan apa pun.
"Mati saja kamu Mas," ucapnya dalam hati.
"Mas Fras!"
Diluar dugaan. Asih datang kembali. Rita merasa kesal yang dan langsung merampas selang oksigen yang terpasang dibawah hidung Fras.
Namun, tindakan nya terhenti karena Asih mencekal tangannya.
__ADS_1
"Istri macam apa kamu. Disaat suamu sekarat kamu malah membiarkannya." Tangan itu langung Asih tepiskan membuat Rita mengiris kesakitan.
Asih segera menghubungi dokter untuk segera datang.
******
Karin melajukan mobilnya sangat cepat. Gerakkan tangannya begitu cepat memutar stir ke kiri dan kanan. Pikirannya saat ini begitu kacau, memikirkan nasib Syena di sana.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Syena kenapa-napa."
"Vikram beraninya kamu sama anak kecil."
Karin semakin mempercepat laju mobilnya. Membelah jalanan kota yang cukup ramai di siang ini. Hingga mobilnya berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup tua, usang, dan berdebu.
Karin turun dari mobilnya. Melangkah memasuki rumah itu.
"Syena! Syena!" teriaknya begitu menggema.
"Vikram! Keluar kamu! dimana Syena. Jangan menjadi orang pengecut yang berani menyekap anak kecil."
Karin terus melangkah memasuki rumah itu lebih dalam. Namun tidak ada tanda-tanda Vikram memunculkan diri.
"Vikram!" teriak Karin, hingga urat-urat lehernya terlihat sangat jelas.
"Syena!"
"Aunty!"
Suara itu mengalihkan pandangannya. Terlihat Syena berlari ke arahnya. Karin yang melihat Syena langsung berlari dan memeluknya.
"Syena kamu baik-baik saja? Tidak terluka kan!"
"Kenapa Aunty menangis?" tanya Syena polos.
Karin tidak dapat menahan bendungan air matanya. Membuatnya menangis. Kedua tangannya terus memeluk Syena, tidak ingin melepaskannya.
"Syena kita pulang ya sayang. Mama mencarimu." Kata Karin yang terus mengusap lembut pipi chubby-Nya.
"Iya Aunty."
Karin bangkit berdiri. Menuntun Syena untuk segera berjalan. Namun, sosok Vikram berdiri di hadapannya.
Karin membelalakan matanya, memangku Syena untuk melindunginya. Aturan nafasnya semakin tidak beraturan. Hatinya semakin bertalu-talu. Tubuhnya semakin gemetar melihat senjata tajam yang Vikram ayunkan.
"Mau apa kamu dengan senjata itu?"
Vikram hanya menyeringai menanggapi pertanyaan dari Karin.
"Aku ingin kamu tahu apa yang aku lakukan di dalam penjara. Apa kamu ingin tahu?"
Karin hanya menelan ludah sebagai penghilang kegugupanya. Tubuh Karin terus mendekap Syena, membalikkan tubuh kecil itu dari pandangan Vikram.
"Aunty."
"Syena tutup matanya jangan kamu buka."
"Kenapa Aunty?"
"Aunty punya kejutan."
"Benarkah!"
Mendengar kejutan Syena sangat senang. Namun tidak seperti Karin yang ketakutan. karin tidak ingin Syena melihat senjata tajam itu.
__ADS_1