
Di sebuah kamar, berukuran 5×6 seorang pria paruh baya tengah melamun di dalam kamarnya. Yang menjadikan sofa sebagai sandarannya. Tatapan matanya kosong, menerawang entah kemana.
Bayangan masa lalu kembali terlintas di benaknya. Sedetik kedua matanya terpejam, semakin menenggelamkan alam bawah sadarnya. Bulir-bulir air mata mulai menetes pada sudut kelopak matanya, yang terdapat guratan halus di bawah bulu mata lentiknya.
"Ayah!"
Teriakan gadis kecil mampu menghentikan langkah kaki seorang pria yang hendak pergi dari rumahnya. Pria itu lengkap dengan tas ransel yang ia bawa. Sedetik matanya melirik ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan. Rumah sederhana dengan cat putih yang mulai pudar. Yang hanya memiliki satu pintu dan empat kaca jendela dari kedua sisi kiri dan kanannya.
"Ayah!"
Gadis kecil, dengan tinggi empat kaki, rambut panjang tergerai, membuat sedikit bergelombang saat tubuh kecilnya berlari. Kaki mungil terus menapak tanah, menginjak apa saja yang ia lewati.
Tidak peduli itu berbahaya atau tidak. Langkah gadis kecil itu semakin cepat untuk mencapai tujuannya yaitu sang ayah yang sempat berbalik padanya.
"Ayah jangan pergi." Suara mungil itu terdengar memohon, agar sang ayah tetap berada di sisinya, tidak pergi kemana pun apalagi meninggalkannya.
Pria itu pun merunduk, melipat kedua kaki nya yang ia tahan di atas tanah. Kedua paha, perut, hingga dada dan kepalanya di biarkan berdiri tegak. Menyetarakan tinggi badannya dengan putri kecilnya.
Di raihnya wajah mungil, pipi chubby, oleh kedua tangannya. Yang terus membelainya. Tatapan matanya berubah sendu, sedih, hingga bendungan air mata mulai tercipta. Sedikit menyamarkan bola mata indahnya.
"Ayah mau kemana? Dinda ikut ayah!" teriak gadis kecil itu. Tatapan matanya masih polos, namun hatinya bisa merasakan jika ayah akan pergi meninggalkannya.
"Maafkan ayah Dinda."
Pria itu memeluk hangat putri kecilnya.
Dari jauh, bayangan seorang wanita muncul di balik pintu. Keadaannya sangat kacau dan berantakan. Rupa manis dan ayu, rambut ikal sebahu, dengan pakaian sederhana yang mengenakan rok putih panjang selutut, dengan kemeja biru lengan pendek yang melekat pada tubuh wanita itu.
Setetes air mata luruh pada sudut kelopak matanya, tatapan kesedihan dan kekecewaan terlihat jelas pada matanya yang sayu. Wanita itu mengayunkan langkahnya, dengan langkah cepat ia sedikit berlari ke arah putri kecilnya yang sedang di peluk seorang pria.
"Dinda, ayo masuk Nak!"
Di tariknya tangan mungil itu hingga terlepas dari pelukan ayahnya. Dinda, terus menangis dan berteriak, tidak ingin di pisahkan dari pria itu.
__ADS_1
"Ayah! Ibu aku mau ikut ayah! Dinda, mau ikut ayah."
Wanita itu sangat kesal karena putrinya yang terus berteriak dan enggan pergi dari tempatnya. Terpaksa wanita itu memangku putrinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Tidak peduli dengan teriakan sang anak wanita itu terus mengayunkan langkahnya. Si pria hanya bisa menatap kepergian gadis kecilnya hingga tidak terlihat lagi.
Tok, tok, tok,
Suara pintu mengejutkan lamunannya. Membuat mata terpejamnya sedetik terbuka. Helaan nafas berat terdengar menderu berhembus dengan pelan. Sedetik tatapannya terhenti pada satu titik. Langit-langit kamar yang polos tanpa corak.
Wajahnya di raup dengan kedua tangannya. Suara pintu kembali terdengar namun ini bukanlah ketukan, melainkan pintu terbuka dengan lebar. Menampak 'kan seorang pria dengan pakaian formal lengkap dengan jas dan dasi. Pria itu pun berjalan ke arah lelaki paruh baya yang duduk di atas sofa.
"Malam pak Fras." Sapanya seraya membungkuk, kan setengah badannya sebagai tanda hormat.
"Duduklah," titah Fras. Membuat pria yang menjabat sebagai asistennya itu langsung mendaratkan bokongnya di atas sofa. Membuat duduk mereka saling berhadapan.
"Ada apa ya Pak memanggil saya kemari?" tanya pria itu.
Fras, menghela nafasnya panjang. Lalu berkata, "Danu, saya ingin kamu mencari seseorang bernama Dinda, dan Asih," ujarnya. Danu, terdiam sejenak.
"Aku bertemu dengan putriku. Di perusahaan wanita itu memanggilku ayah. Cari nama Dinda, dari daftar kolega bisnis saya yang datang pada hari ini."
"Tapi tidak ada yang bernama Dinda, pak."
"CARI! Sudah ku bilang cari lagi. Tanyakan pada mereka siapa yang mengenal Dinda."
"Baik Pak, akan saya usahakan."
"Aku ingin kamu mencarinya secepat mungkin. Cari tahu dimana tempat tinggalnya."
"Baik."
"Jangan katakan ini pada siapa pun termasuk istri saya."
"Baik Pak, saya mengerti. Jika tidak ada lagi yang ingin bapak sampaikan saya pamit pergi."
__ADS_1
Fras, hanya mengangguk menandakan jika tidak ada lagi yang ingin di sampaikan pada asistennya itu. Mengizinkan asistennya untuk segera pergi.
Danu, melangkah pergi meninggalkan kamar Fras. Baru saja tangannya menutup pintu, di luar Danu, sudah di sambut oleh Rita, yang sudah berdiri tepat di depan wajahnya. Sedetik Danu, menjadi gugup. Antara kaget dan takut jika Rita, mendengar pembicaraannya bersama suaminya.
"Pak Danu, kapan kamu datang? Ada masalah apa sehingga masuk ke dalam kamar suami saya." Rita, menelisik setiap tatapan pria itu. Menatapnya penuh curiga. Beruntung Danu, sudah tidak merasa gugup lagi sehingga tidak ada yang mencurigakan..
"Tentang pekerjaan. Ada beberapa proposal yang harus di tanda tangani oleh pak Bos." Jelas Danu, yang menunjuk 'kan satu dokumen yang ia bawa. Dengan begitu Rita, percaya dan tidak lagi bertanya.
"Mama!" panggil Velove, yang baru saja muncul.
"Katanya mau panggil papa tapi kok lama. Nanti makan malamnya keburu dingin," sambung Velove, sekedar mengingatkan.
"Kamu tunggu saja di meja makan. Mama segera kembali," ujar Rita, dengan suara sedikit teriak.
"Baiklah Ma, aku dan Rey, tunggu di meja makan." Velove, pun melangkah pergi.
Rita, kembali menatap Danu, dingin. Lalu berkata, "Panggilkan suami saya beritahu dia semua orang sudah menunggunya di meja makan. Kamu juga ikutlah makan malam sebelum pulang."
"Terima kasih Bu, saya akan menyusul dengan pak Fras." Kata Danu, dengan lembut dan sopan. Rita, pun segera pergi meninggalkannya dan Danu, masuk kembali ke dalam kamar.
****
Di tempat lain Dinda, duduk termenung di atas ranjang tidurnya. Wajahnya terlihat pucat sangat pucat. Bibir ranumnya kering, matanya menerawang entah kemana. Kondisi Dinda, saat ini begitu lemah.
Asih, muncul dari balik pintu. Kedua tangannya membawa sebuah nampan yang berisi satu mangkuk dan segelas air putih. Nampan itu Asih, letak 'kan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu, mendaratkan bokongnya pada bibir ranjang.
"Bagaiman keadaanmu?" tanya Asih, dengan rasa cemas.
"Dinda, baik-baik saja Bu. Hanya sedikit pusing saja."
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu pulang dalam keadaan sakit?"
Dinda, masih diam belum enggan menjawab.
__ADS_1