Life After Married

Life After Married
Bab 155- Kedatangan Velove


__ADS_3

"Syena, sedang apa di sini? Baru saja Om, akan menjemputmu." 


"Aku sudah dijemput Om, sama Aunty. Tapi mobilnya mogok, karena ban-Nya kempes," jelas Syena. 


Netra Rio, langsung menunduk, melihat ban yang ditunjuk Syena. Lalu tatapannya beralih pada Karin, yang masih diam. Tidak bicara atau pun memohon pertolongan. 


"Syena ayo kita pulang bersama Om saja." 


"Tunggu dulu!" pekik Karin menghentikan ajakan Rio. Rio menatapnya datar. "Bagaimana dengan mobilku? Bukankah sebaiknya kamu memperbaiki ban-Nya," sambung Karin.


Tanpa sepatah kata pun. Tubuh Rio, langsung berjongkok di samping ban yang kempes. Satu tangannya menekan-nekan benda itu, lalu kembali berdiri. 


"Apa kamu punya ban serep?" 


"Ya, ada," jawab Karin lalu berjalan ke belakang mobilnya untuk membuka bagasi. "Ini, alat-alatnya pun lengkap di sini," sambungnya. 


"Bawa Syena ke dalam mobilku, tunggulah di sana," titah Rio, Karin hanya menurut.


Karin menurunkan Syena membawa masuk ke dalam mobil Rio yang ada dibelakang mobilnya. Tangan Rio, mulai bergerak membuka tuxedonya terlebih dahulu. 


Melipat kedua lengan kemeja hingga sampai siku. Membuka kancing dan sedikit melonggarkan kerahnya. Satu ban besar mulai ia angkat di simpannya di atas permukaan aspal yang panas dan kasar.


Ban yang terpasang mulai terlepas yang di ganti dengan ban baru. Peluh keringat bercucuran menuruni permukaan wajahnya. Di angkatnya tangan itu untuk mengusap keringat di keningnya. Lalu kembali memutar sebuah kunci supaya ban itu terpasang dengan sempurna. 


"Sudah selesai?" tanya Karin, yang sudah berada di dekatnya. Rio, cukup terkejut namun mencoba untuk lebih santai.


"Sudah," jawabnya lalu berdiri.


"Ini minumlah." Karin menyodorkan sebotol air mineral padanya, Rio pun menerimanya. 


"Terima kasih," ucapnya. 


"Terima kasih juga karena sudah mengganti ban-Nya," balas Karin. Rio hanya mengangguk dan tersenyum simpul. 


Di teguknya sebotol air mineral yang telah Karin berikan. Sedetik, sepasang netranya melirik pada Karin. Dalam waktu yang cukup lama dirinya terdiam, melihat kecantikan wajah mantan kekasihnya itu. 

__ADS_1


Apalagi melihat bibir ranumnya yang memerah, membuatnya teringat pada ciuman itu. Tiba-tiba Karin, menengok ke arahnya, membuat sepasang mata itu bertemu kembali. 


Sejenak mereka terdiam, Rio pun langsung memalingkan wajahnya. 


"Kenapa kamu bisa jemput Syena?" tanya Rio, seolah mencari obrolan untuk menghilangkan kecanggungannya. 


"Willy, menyuruhku," jawab Karin membuat Rio, berpikir jika Willy dengan sengaja menyebabkan pertemuan ini. Namun, bagaimana dengan ban kempes apa itu termasuk dari rencana Willy? Entahlah. 


"Ya tuhan, aku melupakan Syena." Kata Karin, yang ingin melangkah menuju mobil Rio, namun tertahan. 


"Kenapa tidak jalan-jalan saja dulu," ujar Rio, membuat langkahnya terhenti. Karin langsung menoleh, membalikan tubuhnya menatap Rio dengan heran. 


"Sudah lama kita tidak bicara. Di sini ada tempat santai yang nyaman dan ada tempat bermain untuk anak-anak. Jika kamu mau kita bawa Syena kesana," ujar Rio. Karin masih tertegun, memikirkan ajakan mantan kekasihnya itu. 


Dan akhirnya Karin pun setuju lalu mengangguk. 


"Kita pergi pakai mobilku." 


"Tidak perlu, aku akan membawa mobilku sendiri," sanggah Karin. 


Dan benar saja saat dilihat dua ban mobilnya kempes. Karin terlihat kesal namun bagaimana lagi. Dengan terpaksa Karin, ikut bersama Rio. Meninggalkan mobilnya yang akan di jemput oleh seorang montir dari bengkel yang sudah ia hubungi. 


Kejadian yang tidak terduga, membuat mereka bersama. Namun suasana tidak terlalu canggung karena ada Syena, yang menjadi penengah. 


****


"Bik apa Syena sudah pulang?" tanya Dinda yang baru saja menuruni anak tangga. Wajahnya begitu pucat, karena selama masa ngidam tubuhnya sangat lemah, begitu kurus karena tidak ada makanan apa pun yang masuk ke dalam perutnya. 


Setiap makanan yang di serap akan kembali keluar dari mulutnya dengan cara dimuntahkan. Entah kenapa kehamilannya ini begitu menyiksanya, membuatnya tidak bisa melakukan aktifitas apa pun.


"Bik Ijah! Bik Ijah kemana sih," gumamnya lalu duduk di kursi makan, seraya menopang tangannya di atas meja. Telapak tangan itu di biarkan memijat keningnya. 


"Apa Bi Ijah sedang menjemput Syena? Sudah siang gini Syena belum pulang," monolognya. Lalu berdiri melangkah menuju dapur. 


Langkahnya terhenti di depan lemari pendingin, di bukanya yang hanya mengambil sebuah jeruk, orang ngidam memang selalu menginginkan yang segar-segar. 

__ADS_1


Suara deruan mobil terdengar, Dinda tersenyum. Di simpannya jeruk itu, lalu berjalan menuju arah pintu, menyambut kedatangan Willy. Dinda yakin jika itu Willy dan Syena, namun saat pintu terbuka wajah berserinya memudar, hingga lengkungan bulan sabit kembali datar. Saat melihat tamu yang datang ke rumahnya. 


"Ada apa kamu datang?" tanyanya pada tamu yang tidak diharapkan. 


"Apa kamu tahu dimana Rey?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Velove. Dinda terkejut, bola mata itu terbelalak, tiba-tiba datang hanya untuk menanyakan itu.


"Apa kamu tidak salah bertanya? Untuk apa aku tahu keberadaan suamimu," tegas Dinda.


"Aku pikir Rey, datang kesini untuk menemui Syena." 


"Aku tidak tahu Rey, dimana. Dan aku tidak pernah mengizinkan Rey, datang lagi ke rumah ini. Jadi sekarang carilah Rey di tempat lain." Ujar Dinda, hendak menutup pintu namun Velove menahannya. 


"Aku mohon, izinkan aku bicara." Kata Velove seraya menahan pintu yang siap ditutup.  


Dinda tidak bisa menolak dan akhirnya membiarkan Velove berada di rumahnya. Dinda, memilih teras depan sebagai tempat pembicaraan mereka. Entah apa yang akan Velove katakan, namun wajahnya begitu sedih. 


"Sudah sebulan ini Rey, pergi dari rumah. Kami sedang ada masalah, hubungan kami tidak baik-baik saja. Apa kamu tahu hubungan Rey dengan sekretarisnya?" 


"Itu bukan urusanku," jawab Dinda. 


"Tidak mungkin kamu tidak tahu. Seharusnya kamu beritahu aku jika Rey, sedang bermain serong bersama wanita lain. Kenapa kamu tidak mengatakannya Dinda? Apa kamu ingin balas dendam karena dulu aku merebut Rey dari mu. Apa karena itu kamu membiarkan Rey, berhubungan dengan wanita itu." 


"Sudah aku katakan itu bukan urusanku. Aku tidak ingin tahu apa saja yang Rey, lakukan," sela Dinda. 


Dalam bersamaan keduanya menarik nafas panjang. Dinda, yang kesal begitu pun dengan Velove, yang kecewa karena tidak dapat menemukan Rey.


"Kamu bohong Dinda, sebenarnya kamu tahu 'kan! Hubungan mereka dari awal tapi kamu tidak ingin memberitahuku. Mungkin jika aku mengetahui ini dari awal aku bisa menghentikannya. Tapi sekarang … sudah terlambat. Rey sudah pergi dan ku yakin bersama wanita itu. Aku hanya kasihan pada Bian, dia masih kecil apa kamu tidak memikirkan itu Dinda?" 


Sedetik mata Dinda mendelik, menatap tajam pada wanita di hadapannya. 


"Apa kamu lupa? Dulu, Syena juga masih kecil apa kamu memikirkan itu?" 


Seketika bibirnya bungkam. Sorot mata tajam mereka saling menatap. Velove, tidak pernah berpikir tentang perlakuannya di masa lalu. Mungkinkah Velove, akan merenung menyadari kesalahan dan meminta maaf. 


Atau sebaliknya. Hati kerasnya semakin benci pada Dinda.

__ADS_1


__ADS_2