Life After Married

Life After Married
Kemarahan Bian


__ADS_3

Melihat kemarahan Bian, sontak Dwita bersama dua gadis kesayangannya itu tersenyum menang. Mereka melanjutkan kegiatan sarapan yang sempat tertunda. Dwita menanyakan seberapa jauh persiapan pernikahan antara Bian dan Gigi.


"Sudah beres semua mami. Gigi serahkan pada wedding organizer terbagus di kota ini," ucap Gigi sembari menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


"Baguslah kalau begitu, kamu tidak usah repot dan kecapekan," balas Dwita.


"Gue seneng akhirnya lo bisa nikah sama Kak Bian dan sebentar lagi akan jadi kakak ipar gue," sahut Olivya.


"Setelah perjalanan yang panjang," imbuhnya.


Dwita manggut-manggut setuju dengan apa yang dikatakan putrinya, Olivya. Bahwasanya Dwita juga menantikan kehadiran Gigi menjadi bagian keluarga ini. Pasalnya meskipun kedekatan Gigi dengan kelurganya memang sangat baik. Namun, tidak ada ikatan resmi selain ikatan persahabatan dua keluarga yaitu Keluarga Pranoto dan Keluarga Vernandes.


"Gue juga nggak menyangka akhirnya bisa menikah dengan Bian sayang dan cinta aku. Meskipun dengan cara seperti ini," ucap Gigi.


"Yang penting semua sudah terlewati. Kita tinggal menunggu saja hari bahagia kamu dan Bian." Dwita tersenyum senang.

__ADS_1


"Iya gue juga udah nggak sabar banget banget banget," timpal Olivya.


"Semoga semuanya lancar ya," doa Dwita untuk pernikahan yang akan diselenggarakan.


Selanjutnya mereka kembali menghabiskan sarapan mereka yang tinggal sedikit. Di meja makan ketiga orang itu kebanyakan mengobrol dibandingkan makan. Jadinya sarapan yang bisa dilakukan dengan singkat, eh malah berkepanjangan.


Namun, keharmonisan sarapan mereka terganggu tatkala dengan gusar Bian menuruti anak tangga. Tampaknya langkah kaki itu mendekat kembali kearah ruang makan.


"Bian mau sarapan? Sini nak?" ajak Dwita dengan rasa tidak bersalah. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Gue tidak akan memaafkan kalian semua jika terjadi apa-apa dengan istri gue!" tegas Bian.


"Sebelum gue menemukan Lea dalam kondisi baik-baik saja!" imbuhnya dengan tatapan mematikan.


Penuturan Bian yang sangat tidak terduga itu membuat Gigi beranjak berdiri. "Nggak bisa dong itu sudah kesepakatan kita berdua!"

__ADS_1


"Kesepakatan?" tanya Bian dengan senyum sinisnya.


"Lo juga sepakat bahwa pernikahan akan dilakukan setelah gue ketemu dan menjelaskan semuanya pada Lea!" jawab Bian penuh dengan emosi.


Bian membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah itu. Gigi segera berlari mengejar Bian yang langkah kakinya terlalu cepat. Mencoba berkali-kali meraih lengan lelaki itu. Namun, berkali-kali juga tangan Gigi ditepis dengan kasar oleh Bian.


Bian menuju ke garasi rumahnya dan disana berjajar mobil-mobil mewah koleksi Bian. Dipilihnya satu mobil Lamborghini berwarna hitam. Mobil sport yang sangat elegan, cocok dengan bentuk tubuh kekar Bian.


"Bian ... tunggu gue ... " ujar Gigi yang tidak dipedulikan oleh Bian.


Ketika hendak membuka pintu mobil itu. Ada seseorang uang memeluknya dari belakang. Dia adalah Gigi yang berhasil mengejar dirinya.


"Lepaskan!" bentak Bian dengan suara menggelegar.


Pelukan dari Gigi tidak juga dilepaskan, justru semakin erat rasanya. "Lepaskan!" ulang Bian dengan suara yang tak kalah kerasnya.

__ADS_1


Lagi-lagi ucapannya tidak direspon oleh Gigi. Sampai pada akhirnya Bian menghentakkan tubuhnya sekali hingga Gigi terpental kebelakang. Jelas saja hanya dengan sekali hentakkan tubuh kekar itu Gigi langsung terpental dan jatuh ke lantai.


Bian tidak memperdulikan Gigi lagi. Dia naik ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan siap melajukan mobil itu. Sampai mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan Gigi.


__ADS_2