Life After Married

Life After Married
Bab 87- Ketakutan Karin


__ADS_3

Flashback


POV Vikram


Beberapa hari lalu. Vikram, berniat menjual Karin, pada bos judi sebagai pembayar hutangnya. Namun sayang nya rencananya gagal. Karena, tanpa sepengetahuannya Karin, memanggil polisi ke rumahnya. Membuat Vikram, tertangkap dan harus menekam di dalam jeruji besi.


Kejadian itu tidak membuat Vikram jera. Setelah bercerai dengan Karin, lalu di penjara menumbuhkan rasa dendam dan benci pada dirinya. Kebenciannya tidak lain pada Karin, mantan istrinya.


Sifat Vikram, seperti itu tetap tidak membuat cinta Karin, pupus. Walau sang pujaan berada di dalam sel jeruji besi Karin, tetap mengunjunginya di dalam penjara.


Hanya sekedar untuk melihat keadaannya dan mengingatkan agar Vikram, kembali ke jalan yang benar.


"Untuk apa kamu datang hah! Kamu puas melihatku seperti ini!" Belum apa-apa Vikram, sudah tersulut emosi. Tatapannya begitu menakutkan. Mungkin jika percakapan mereka tidak di batasi oleh dinding jeruji besi, tangan Vikram sudah mencakar wajah Karin, di depannya.


"Vikram aku datang untuk menjenguk mu. Bagaimana pun juga aku peduli pada mu."


Vikram menyunggingkan bibirnya.


"Peduli! Kamu bilang peduli. Jika kamu peduli keluarkan aku dari sini!"


Karin, masih bersikap tenang menghadapi Vikram yang sudah emosi.


"Kamu harus menanggung akibat dari perbuatanmu. Kamu lupa! Kamu akan menjualku dan kamu juga melakukan tindakan pidana yang jelas-jelas salah. Seharusnya kamu berpikir dan merenungi kesalahanmu. Aku datang dan masih peduli padamu karena ku tahu kamu tidak lagi memiliki keluarga. Dan kenapa alasan ku mencerai 'kan mu? Karena kamu telah mengkhianati ku."


"Aku tetap tidak terima. Perceraian itu tidak sah karena tidak adanya aku di sana."


"Kamu salah Vikram. Justru perceraian akan sangat mudah dan berjalan lancar jika sang tergugat tidak hadir. Jika kamu tidak ingin bercerai seharusnya kamu datang dan berikan alasan yang masuk akal pada hakim. Sudah lah Vikram, ini sudah terjadi. Aku ingin kamu menjadi orang baik tidak lagi berjudi, dan menjadi orang yang berguna, itu sebabnya kenapa aku membiarkan mu di dalam penjara. Agar kamu berubah dan merenungi kesalahanmu."


"Karin, kamu akan menyesal karena telah melakukan ini padaku. Aku tidak akan melepaskan mu."


Vikram, berkata seraya mengepalkan kedua tangannya. Tatapan membunuh ia hunus 'kan pada Karin di depannya.


Karin, tidak peduli dengan ancaman itu. Bahkan Karin, membalas tatapan membunuh itu dengan tatapan hangat.


"Aku pergi dulu. Pikirkan perkataan ku tadi Vikram." Karin bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.


****


Hari-hari berikutnya Karin, mendapatkan pemberitahuan dari kepolisian jika Vikram, terlibat perkelahian dengan sesama napi. Membuat Karin, khawatir dengan keadaan nya dan harus pergi menuju kantor polisi.


Pada hari yang sama Karin juga mendapatkan kabar buruk dari temannya Dinda, jika Syena, di rawat di rumah sakit.


"Dinda aku dengar Syena di rawat apa benar?" tanya Karin, pada sambungan telepon.


"Iya, Karin. Sekarang aku sedang ada di rumah sakit."


"Memangnya Syena, sakit apa?"


"Syena, jatuh dan kepalanya terbentur terpaksa harus di operasi."


"Ya Tuhan! Dinda, maaf aku belum menjenguk anakmu. Mungkin nanti setelah aku pulang dari kantor polisi aku akan ke sana."


Karin, langsung menutup telepon nya. Bergegas pergi ke kantor polisi untuk melihat keadaan Vikram, terlebih dulu. Dengan panik Karin, berlari ke arah mobilnya lalu masuk dan duduk di bagian kemudi. Dengan tangan gemetar kedua tangannya memutar kunci mobil untuk menyalakan mobilnya. Menarik tuas menginjak rem lalu pedal gas.


Mobil pun melaju sangat cepat membelah kemacetan di jalan raya. Tanpa Karin, ketahui Vikram, melakukan itu dengan sengaja karena berencana untuk kabur. Namun naas, bukannya lolos Vikram, malah ketahuan oleh teman sesama napinya yang merupakan musuh di dalam sel.

__ADS_1


Karena tidak rela Vikram, keluar dari penjara tanpa dirinya. Sang napi itu pun menggagal 'kan aksinya. Saat Vikram, hendak menaiki pagar sang napi berteriak memanggil petugas polisi yang bertugas menjaga.


Vikram jadi kesal karena tingkah napi itu. Membuatnya turun menghadapi teman napinya.


"Mau apa kau! Kembali teriak gue bunuh loh!"


Napi itu hanya menyeringai.


"Lo pikir gue akan biarkan lo keluar dari tempat ini dengan mudah! Tidak akan. Selama gue masih ada di sini tidak ada yang bisa lari dari tempat ini termasuk lo."


"B4n9sat!" umpat Vikram, sebelum akhirnya berlari menghantam napi itu.


Di tengah luasnya lapangan yang di benteng tembok besar dan tinggi yang melingkari sekelilingnya. Dengan kawat besi yang menghiasi tembok itu. Kedua napi sedang bergelut dan saling menghantam tidak peduli wajah yang sudah membiru akibat pukulan demi pukulan.


Darah segar mulai menetes di sudut bibir keduanya. Hingga para petugas polisi datang mereka berdua masih saja berbaku hantam.


"Sudah hentikan!" pekik seorang petugas polisi yang melerai perkelahian itu.


Karena kondisi keduanya sangat lemsh dan juga parah, mereka di lari 'kan ke klinik yang ada di sana.


****


Karin datang langsung menuju ke tempat dimana Vikram, sedang di tangani. Karin merasa kasihan saat melihat wajah Vikram, dalam keadaan hancur. Penuh lebam dan darah.


Vikram, yang berbaring di atas ranjang belum menyadari kehadiran mantan istrinya itu. Yang kini melihatnya dengan rasa iba, bagaimana pun juga Vikram, lelaki yang pernah mengisi hatinya hingga saat ini.


"Mba itu pak Vikram, tapi tolong jangan terlalu dekat. Bisa saja dia menyerangmu karena emosinya belum meredah."


"Iya Pak" ucap Karin pada seorang petugas.


"Kalau begitu kami tunggu di luar, jika ada apa-apa tolong panggil kami."


Dengan perlahan kakinya mulai melangkah mendekati Vikram. Ada rasa takut pada dirinya namun, rasa takut itu tertutupi dengan rasa khawatir dan cemas pada lelaki yang saat ini tengah meringkuk di atas ranjangnya.


"Vikram." Panggil Karin, dengan lembut.


Sedetik tubuh Vikram, berbalik menghadap Karin, yang kini berjalan ke arahnya.


"Karin, Karin, tolong aku." Panggil Vikram, dengan suara lemahnya.


Karin, semakin terenyuh ketika mendengar suara lemah itu. Langkah kakinya semakin maju, lebih mendekat. Satu tangannya terulur untuk menyentuh Vikram, tiba-tiba tangannya di tarik kuat oleh Vikram, membuatnya meringis kesakitan.


"Ah … Vikram."


Cengkraman Vikram, semakin kuat. Hingga pergelangan tangan Karin, memerah. Wajah sangarnya menatap Karin, penuh ketakutan. Mata teduh dengan ketulusan cinta seakan sirna. Kini bukan tatapan itu yang Karin, lihat melainkan emosi dan amarah. Membuat Karin, takut dan melepas cengkraman itu.


Tapi naas, karena kekuatan tangan Vikram, membuat Karin, hanya pasrah saat tangannya di cengkram dengan kasar.


"Puas kamu! Puas kamu melihat ku seperti ini! Aku tidak akan pernah melepaskan mu Karin, kamu akan menyesal karena membuat ku menderita seperti ini."


"Lepas! Vikram."


Bukannya melepaskan cengkramannya. Diriya hanya terkekeh dengan mengeratkan cengkraman nya.


"Ah, Vikram lepaskan atau aku akan panggilkan petugas."

__ADS_1


"Aku akan bebas ingat itu! Dan kamu tidak pernah akan ku bebas 'kan."


Segera Karin, lepaskan tangan itu yang mengikatnya. Saat Vikram, tertawa mengerikan. Karin, semakin takut. Yang di lihatnya saat ini bukan lah Vikram yang dulu. Yang menurut dan lembut padanya.


Baru kali ini Karin, melihat sisi lain dari lelaki pujaannya yang selama ini ia cintai.


"Jangan harap kamu akan hidup tenang Karin! Jangan harap!"


Karin langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.


Flashback off


Dan hari ini hidup Karin, sepertinya tidak akan tenang.


"Halo?"


"Dengan ibu Karin?"


"Ya. Saya sendiri. Ini dari siapa?"


"Saya dari kepolisian ingin mengabarkan jika tahanan atas nama Vikram, melarikan diri."


"Makasudnya kabur?"


Karin, benar-benar terkejut mendengar kabar mantan suaminya itu. Terakhir kali Karin, di kabarkan jika Vikram, terlibat perkelahian sehingga harus di rawat di rumah sakit. Dan sekarang Karin, mendapatkan kabar buruk baginya karena Vikram, kabur dari penjara.


Jantungnya kini berdegup sangat cepat. Hatinya bertalu-talu hingga kegelisahan menyelimuti dirinya. Ada sedikit rasa takut karena sebelumnya Vikram, selalu mengancamnya. Pikiran Karin, semakin berkelana hingga memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi.


Mungkinkah Vikram, datang menemuinya? Itu yang Karin, takut 'kan. Sehingga saat ini netranya terus memindai ke arah luar mobilnya. Menyapu pandangan ke sekelilingnya, memastikan jika Vikram, tidak mengikutinya.


Sesaat hatinya tenang, tiba-tiba Karin, di kejutkan dengan lampu rumahnya yang tiba-tiba menyala. Padahal tidak ada siapa pun di rumah itu.


"Siapa yang menyalakan lampu?" monolognya.


Karin, semakin takut hingga sebuah ketukan pintu mengejutkannya.


Tok … tok … tok …


Sontak Karin kaget dan langsung menengok ke arah jendela. Hatinya sedikit lega saat melihat seorang pria bertopi, dengan sarung yang melekat di pundaknya. Kaca mobil pun Karin, buka 'kan.


"Pak Daman ngagetin saja."


"Lo kok kaget Non?"


"Itu lampu Pak Daman yang nyalain?"


"Iya Non, kan Non Karin, yang telepon katanya mau pulang ke sini. Ya udah saya langsung datang untuk nyalain lampu. Tuh udah di buka ya Non, pintunya. Pak Daman pulang dulu."


"Eh tunggu Pak." Mendengar Pak Daman pulang Karin, langsung turun dari mobil nya.


"Pak Daman nginep saja. Aku takut sendirian."


"Takut apa Non? Orang kompleks ramai gini. Besok pagi Pak Daman balik lagi sama istri buat siapin Non sarapan. Sekarang Non, masuk gak ada siapa-siapa Non. Pak Daman pulang dulu."


Karin, tidak bisa memaksa jika pak Daman, seorang ART dan penjaga rumahnya harus pergi. Sebelum pak Daman pergi jauh Karin, segera berlari memasuki rumahnya.

__ADS_1


Entah kenapa setelah mendapatkan kabar tentang Vikram, Karin, menjadi takut.


...----------------...


__ADS_2