
"Buruan!" suruh Bian kepada Fahri.
"Bentar kenapa sih," sahut Fahri.
"Ayolah cepetan!"
Bian tampak sudah rapi dan sedang tidak sabar menunggu Fahri. Mereka akan berangkat bertemu dengan Lea. Karena semalam Fahri telah menceritakan bahwa dia telah menemukan keberadaan Lea. Merasa keadaan telah membaik, Fahri memutuskan untuk mengabari Bian.
"Sabaran bentar," ucap Fahri.
"Mentang-mentang mau ketemu istri aja semangat," ledek Fahri.
"Iya dong, kan gue punya istri. Emang lo jomblo?" Bian meledek balik.
Mendengar ledekan dari sahabatnya itu Fahri menatap sinis Bian. "Nyesel gue ngasih tahu lo," sesal Fahri.
"Oh jadi lo beneran nyesel?" tanya Bian dengan penekanan dan tatapan tajamnya.
"E ... e ... nggak kok bos," jawab Fahri gugup.
Setelah perdebatan singkat itu pun, keduanya berangkat untuk menemui Lea. Disepanjang perjalanan Bian hanya diam dan tampak gugup.
__ADS_1
"Kok gue deg-degan ya," ucap Bian.
"Santai bro santai. Tarik napas keluarkan," goda Fahri.
"Sialan lo," Bian menoyor Fahri.
**
Di rumah Renata.
Setelah mengetuk pintu rumah itu, tidak lama pintu pun dibuka. Asisten rumah tangga itu segera memanggil Renata. Tidak lama Renata keluar dan menanyakan apa yang terjadi.
"Katakan dimana Lea?" sahut Bian.
"E ... e ... di kamar," jawab Renata gugup sembari menunjuk arah kamarnya.
Tanpa aba-aba Bian berlalu menuju kamar yang dimaksud. Dibuka kamar itu tanpa dan dilihatnya sang istri sedang duduk di balkon kamar itu. Segera saja dipelukannya perempuan itu dari belakang.
"Sayang maafkan aku," ucapnya dengan menempelkan dagunya dibahu Lea.
Hampir saja Lea menepis pelukan itu, namun kalah kuat dengan tenaga Bian. Akhirnya dia pasrah dan larut dalam posisinya saat ini.
__ADS_1
"Sayang dengerin dulu penjelasan aku," ucap Bian tepat ditelinga Lea.
"Apa yang kamu lihat itu semua diluar kendali aku. Gigi yang menyerobot untuk memeluk aku. Sama sekali aku tak merespon pelukannya saat itu."
"Kemudian untuk persetujuan pernikahan, maaf kan aku. Maaf kan aku telah menerima permintaan Gigi itu."
Sontak Lea menoleh ke arah Bian, seolah tidak percaya apa yang dikatakan suaminya itu. "Jadi kamu beneran menerima permintaan dia untuk menikah dengan kamu?" timpal Lea dengan cepat. Matanya sudah berkaca-kaca dan sebentar lagi air matanya akan menetas.
Namun belum sempat air mata itu tumpah ke pipi mulusnya. Bian segera mendekap tubuh Lea ke dalam pelukannya. Dibelainya rambutnya dengan lembut sedangkan tangan sebelahnya mengupas punggungnya. "Kamu jangan emosi dulu. Dengarkan penjelasan aku," lirih Bian.
"Memang aku menyetujui permintaan pernikahan itu agar aku bisa bebas dari penjara. Disamping itu aku telah mengerahkan tim pengacara aku untuk bekerja mencari bukti-bukti dengan cepat," jelas Bian.
"Jadi sebelum pernikahan itu berlangsung aku sudah mendapatkan bukti-buktinya bahwa aku nggak bersalah. Jadi aku bisa saja membatalkan pernikahan itu secara sepihak," imbuhnya.
Bian melepaskan pelukan sang istri. Kemudian ditatapnya lekat kedua bola mata nan cantik itu. "Dan kamu tahu kabar baiknya?" tanya Bian yang disambut gelengan kepala Lea.
"Tim pengacara aku tadi malam telah mengabarkan bahwa semua bukti sudah lengkap dan akan berbalik memasukkan Om Tommy Vernandes ke dalam jeruji besi. Karena dalang dari pemfitnahan ini adalah dia."
"Jadi kamu nggak jadi menikah dengan Gigi?" Lea memastikan dengan terharu.
Bian mengiyakannya dengan menggelengkan kepalanya. "Jelas tidak, hanya kamu untuk aku baik sekarang maupun selamanya," tukasnya sembari mencium kening Lea.
__ADS_1