Life After Married

Life After Married
Bab 151- Rumah Sakit


__ADS_3

Willy masih di rumah sakit. Setelah semalam membawa istri dan anaknya. 


Syena yang demam tinggi langsung di bawa ke UGD dan mendapat perawatan detik itu juga. Demam tinggi pada anak akan sangat berbahaya jika tidak segera di tangani.


Beruntung Willy sebagai seorang ayah dengan sigap membawa putrinya agar segera di obati. Tidak hanya Syena, malam itu Dinda juga hilang kesadaran, entah apa penyebabnya. Namun, dokter tetap menyarankan agar Dinda di rawat dalam beberapa hari. Karena kondisi kandungannya yang lemah. 


Mereka berdua berada dalam kamar yang berbeda. 


Willy, baru saja terbangun dari tidurnya. Setelah dua jam berkelana dalam mimpinya. Dilihatnya Dinda yang masih tertidur, tangannya menutup mulut yang menguap sejenak lalu berjalan menuju arah kamar mandi untuk membersihkan wajah. 


Aliran bening dalam setiap kucuran tumpah, ditampung dengan kedua telapak tangan yang memekar. Begitu segar saat air itu menyapu permukaan wajahnya. 


Sejenak dirinya terdiam, mematikan air keran itu. Satu tangannya merogoh benda pipih dalam saku depan celana. Di dekatkan ponsel itu pada daun telinga setelah menekan sebuah nama pada kontak. 


Jari-jari akriliknya menekuk-nekuk pada sisi westafel hanya untuk menghilangkan kejenuhannya, sebelum akhirnya sambungan telepon pun terhubung. 


"Rio? Aku cuma mau bilang tolong wakilkan sidangku hari ini." 


"Sidang? Sidang apa?" tanya Rio dari ujung sana.


"Sidang klienku dari hotel maxton. Semua berkas akan segera ku kirimkan." 


"Memangnya ada apa denganmu?" 


"Anak dan istriku sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, jadi ku mohon tolong gantikan." 


"Baiklah. Untuk berkas bisa kamu kirimkan langsung padaku. Setidaknya ada sedikit waktu untuk aku pelajari." 


"Segera aku kirimkan. Terima kasih Rio." 


"Jangan sungkan. Aku adalah temanmu. Kamu jaga saja istri dan anakmu. Semoga Dinda dan Syena cepat sembuh." 


"Ya. Terima kasih." 


Sambungan telepon pun ditutup. Willy melangkah keluar dari kamar mandi. Diliriknya Dinda sedetik, wajah cantik itu masih terlihat teduh saat terpejam. 


Mengingatkan kembali pada saat malam. Kala Rey memuji Dinda dengan kata-kata itu. Rasa kesal, dan cemburu masih tersimpan dalam dada. Nafasnya kembali terasa sesak ketika mengingat itu. 


Apalagi saat mengingat pertemuan indah di cafe. Bisa saja Willy tidak percaya pada semua perkataan Rey. Namun, dirinya masih ingat saat bertemu Dinda di cafe yang memicu pertengkaran hingga lupa menjemput Syena. 


"Bi Ijah?" panggil Willy pada seorang wanita yang sudah berumur berada di kamar Syena. Bi Ijah pun menoleh.


"Iya Pak," sahutnya. 


"Saya akan pulang sebentar. Titip Dinda juga ya Bik." 


"Iya pak. Nanti Bibik ke kamar Bu Dinda." 


"Bagaimana keadaan Syena sekarang?" tanya Rey. Kakinya melangkah mendekati Syena sebelum pulang. 


"Alhamdulillah Pak, panasnya turun. Tidak setinggi semalam. Hanya saja belum siuman." 


"Syukurlah," ucap Willy. "Bibik juga jangan terlalu lelah. Bisa tidur dan istirahat selagi menjaga Syena." 


"Iya Pak." 


"Saya pergi dulu, titip istri saya dan Syena." 

__ADS_1


"Siap Pak. Akan Bibik jagain pokoknya jangan khawatir." Willy mengulum senyum menanggapi perkataan Bi Ijah. 


*****


Willy terus melangkah melewati lorong demi lorong. Langkah kakinya begitu cepat sampai tidak melihat jalanan di depannya. Karena netranya terus melihat arah jarum jam pada arlojinya. 


"Masih ada waktu. Aku harus segera sampai," ucapnya. Sebelum tubuhnya di hantam seorang pria dari arah berlawanan. 


"Maaf," ujar pria itu. 


Kepala mereka mendongak bersamaan. Tiba-tiba bola matanya terbuka lebar. Wajah keduanya sama-sama menegang. Hingga bibirnya tidak mampu berkata dan hanya bungkam. 


Rey dan Willy kedua pria yang baru saja berselisih saat malam dan kini di pertemukan kembali di tempat yang sama. 


"Rey, sedang apa dia di sini. Apa mau menemui Dinda, darimana dia tahu jika Dinda sedang di rawat di sini?" batin Willy.


Tapi tidak dengan Rey, yang langsung bertanya apa dan mengapa suami dari mantan istrinya itu ada di rumah sakit yang sama.


"Sedang apa kamu di sini? Siapa yang sakit? Syena atau Dinda?" tanya Rey, tiba-tiba. 


Willy tidak menjawab perkataan itu. Melainkan memalingkan wajahnya sambil berdecak kesal. Kedua tangan tersimpan pada sisi pinggangnya, sepasang netra hitam itu menatapnya tajam. 


"Kamu tidak perlu tahu. Yang sakit adalah keluargaku bukan keluargamu," ujarnya demikian.


"Kamu lupa? Jika aku ayah dari anak sambungmu!" tegas Rey.


"Kenapa aku harus lupa. Setiap waktu kamu mengatakan itu. Tapi sekarang mereka adalah tanggung jawabku. Jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku." 


"Kenapa? Apa kamu masih cemburu tentang perkataanku semalam?" 


Tangan Willy mulai mengepal. Gertakan gigi-giginya seolah-olah akan patah. Emosi yang semula tenang kini mulai mendidih. Rasanya tangannya sudah tidak tahan untuk melayangkan pukulan. 


"Rey!" panggil seorang wanita yang tidak lain adalah Angel. 


Sejenak Rey melupakan tentang Dinda dan Syena, kakinya segera berlari menghampiri Angel, yang jalannya sedikit pelan karena menahan luka pada sisi dahinya. 


Willy, menyipitkan matanya. Menatap pasangan di depannya dengan heran. Mungkin Willy tidak mengenali wanita yang bersama Rey, saat ini. Namun, dirinya tidak ingin tahu tentang itu dan segera pergi.


Bukan melanjutkan langkahnya melainkan berbalik menuju kamar ruangan Syena berada. 


Rey, sempat menoleh. Melihat Willy yang hilang dari pandangannya. Pikirannya saat ini masih bertanya-tanya siapa yang sakit diantara anak dan mantan istrinya.


"Mas?" panggil Angel, membuat tatapan Rey teralihkan, kembali fokus padanya. 


"Kamu kenapa keluar sayang? Bukannya istirahat." 


"Aku tidak apa-apa kok Mas, hanya luka ringan saja. Aku ingin pulang, kita istirahat di rumah saja." 


"Ya sudah, tapi kita ke bagian administrasi dulu," ajak Rey.


"Iya Mas," jawab Angel. 


Tangan Rey, langsung merangkul pundak Angel. Mereka berjalan beriringan.


****


"Pak, tidak jadi pulangnya?" tanya Bi Ijah saat Willy masuk kembali ke ruangan Syena. 

__ADS_1


Bukannya menjawab, Willy seperti orang kebingungan. "Saya tidak jadi pergi. Sebaiknya Bi Ijah saja yang pulang, biar Syena dan Dinda saya jaga." Entah apa yang membuat Willy mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali.


"Oh gitu Pak. Ya sudah kalau gitu tidak apa-apa biar Bibik saja yang pergi," jawab Bi Ijah. 


"Nanti jika sudah sampai rumah. Bibik tolong masuk ke ruang kerja saya, ada dua berkas di atas meja yang saya simpan. Dan tolong Bibi berikan kirimkan ke kantor saya, bilang untuk pak Rio. Nanti teman saya akan menunggu di depan kantor." 


"Harus kirim ke kantor juga Pak?" 


"Iya. Sekarang Bibi pulang, soalnya berkas itu harus sampai dalam 30 menit." 


"30 menit!" gumam Bi Ijah yang memikirkan waktu yang sangat singkat. Apa dirinya bisa atau tidak harus mengirim berkas ke kantor majikannya dalam waktu 30 menit. Sedangkan dirinya saja masih ada di rumah sakit.


"Bik!" tegur Willy, membuat Bi Ijah terperanjat. "I-iya Pak," ucapnya kaget.


"Kenapa masih diam. Cepat pulang." 


"Iya Pak." 


Bi Ijah pun segera berlari meninggalkan Willy. Langkahnya tergopoh-gopoh meninggalkan rumah sakit. 


Sesampainya di rumah Bi Ijah langsung menuju ruang kerja Willy. Ditatapnya hamparan meja yang bersih dan masih rapi meninggalkan dua buah map di atasnya. Mungkinkah itu berkas yang Willy maksud? Entahlah, namun Bi Ijah segera mengambil berkas itu lalu dibawanya keluar. 


Kepalanya celingukan. Bingung dengan cara apa mengantarkan berkas ini. Sekilas terlintas dalam pikirannya untuk menggunakan jasa driver pengantar barang. 


Namun, saat melihat benda kecil dengan barisan keyboard di atas permukaan ponselnya. Bi Ijah semakin bingung. Bagaimana cara, memesan driver dengan pakaian hijau khas itu jika ponselnya saja masih tertinggal zaman.


 


"Ya Allah, ponsel jadul begini mana bisa pesan jasa ojol," keluhnya. Sedangkan waktu semakin berjalan, berdiam diri saja sudah melewatkam 10 menit pertama. 


Sedagkan jarak kantor New-dream masih jauh perkiraan-Nya. Karena Bi Ijah pun tidak tahu alamat kantor majikannya. 


Tiba-tiba sebuah mobil menepi, berhenti tepat di depannya. Senyum Bi Ijah sumringah saat melihat seorang wanita turun dari mobil itu. 


"Non Karin!" panggil Bi Ijah, membuat Karin menoleh. 


"Bik Dindanya ada?" tanya Karin lalu melangkah mendekati Bi Ijah. 


"Non Karin, tolong bantu Bibik ya." 


"Bantu apa?" 


"Tolong antarkan berkas ini ke kantornya pak Willy." Kata Bi Ijah seraya memberikan berkas itu pada Karin. 


Kening Karin mengernyit. Merasa heran karena tiba-tiba diperintahkan oleh asisten sahabatnya. 


"Maksudnya apa ini Bik?" 


"Antarkan berkas ini ke kantornya pak Willy. Cepat ya Non, nanti ada orang yang menunggu di sana. Kalau bisa 20 menit harus sampai ya Non." 


"Apa! Kenapa tidak Bibik saja?" 


"Bibik harus kembali ke rumah sakit. Non Syena dan Non Dinda di rawat. Lagian Bibik juga gak tahu dimana kantornya. Ya Non ya? Non Karin mau bantuin Bibik ya." 


"Ta-tapi Bi?" 


"20 menit Non." 

__ADS_1


"Iya-iya. Tapi Bibik jangan dulu ke rumah sakit. Nanti aku kembali, kita pergi sama-sama." 


"Iya Non, Bibik beres-beres dulu. Terima kasih ya Non." Bi Ijah pun berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Karin kembali masuk ke dalam mobilnya. 


__ADS_2