
"Apa kabar Bu Dinda?"
Dinda masih diam terpaku. Sama sekali tidak menjawab perkataan Angel.
"Mama-mama, kenalin ini Mama baik yang aku ceritakan itu."
Bagaimana perasaan Dinda saat mendengar itu? Mau seperti apa putrinya nanti setelah dewasa. Memanggil nama Mama untuk tiga orang yang berbeda. Apa pendapatnya nanti? Dinda takut jika itu akan mempengaruhi kehidupan Syena, yang akan datang.
Berpikir jalan pisah adalah yang terbaik saat itu, tetapi membuat kehidupan putrinya semakin rumit.
"Syena, main sama Papa dulu ya. Mama mau bicara dulu sama tante Angel."
"Mami Angel Ma!" protes Syena.
"Iya. Mami Angel." Kata Dinda sedikit menampilkan senyumnya. "Mas, tolong bawa Syena keluar," pinta Dinda pada Willy. Willy pun langsung berjalan ke arah Syena.
"Sayang, Papa lupa. Papa punya sesuatu untukmu." Kata Willy, yang langsung memangku Syena.
"Sesuatu apa Pa?"
"Yuk, ikut Papa." Willy membawa pergi Syena. Kini hanya ada Angel dan Dinda yang masih berdiam diri.
Datanglah Bi Ijah, yang membawakan minuman. Setelah menyimpannya di atas meja Bi Ijah pun kembali ke dapur.
Dinda melirik Angel sejenak, lalu mereka duduk pada sofa berdampingan.
"Bisa kamu jelaskan perkataan Syena tadi? Cara Syena memanggilmu Mami." Kata Dinda yang menatap dingin Angel.
"Mungkin Bu Dinda belum tahu, dan perkataan saya tadi pasti membuat anda terkejut."
"Apa hubunganmu dengan Rey? Dan sejak kapan kamu dekat dengan putriku?"
"Aku dan pak Rey, sudah menikah tiga bulan yang lalu. Setiap kami bertemu Pak Rey selalu membawa Syena, itulah kenapa kami sangat dekat. Dan Aku tahu Syena, adalah anak Bu Dinda dan Pak Rey, tapi aku mencintai Syena dengan tulus, Syena ku anggap sebagai putriku juga."
"Kamu tahu jika Rey, memiliki istri?"
"Awalnya aku tidak tahu, pada satu malam kami di pertemukan. Jujur saat itu hatiku sakit merasa di bohongi. Sedetik aku sangat membencinya, tetapi kenyataan … aku tidak bisa hidup tanpa Rey."
"Jadi kamu tetap menikah dengan Rey, walau Rey, sudah memiliki istri?"
Angel hanya mengangguk. Sedetik kepala Dinda cenat-cenut. Tidak mengerti apa yang di inginkan Rey dan juga Angel. Dinda mengembuskan nafasnya sesaat. Jari tangannya di biarkan menekan keningnya, memijat-mijat pelipis itu dengan lembut.
"Aku tidak mengerti pada kalian. Angel aku lihat kamu gadis yang cantik, apa tidak ada lelaki lain yang memikat hatimu selain Rey? Aku sangat menyayangkan itu."
__ADS_1
"Mungkin hatiku sudah tertutup karena cinta Bu Dinda. Bahkan aku mengatakan jika aku tidak keberatan menjadi yang kedua. Tapi ternyata lebih pahit saat ini, saat aku harus rela berbagi cinta. Sekarang Rey kembali pada Velove, dan pernikahan kami tetap harus di rahasiakan."
"Maksudmu?" tanya Dinda.
"Tadi pagi Bu Velove hampir saja membunuh Bian. Dia tidak terima karena Rey, menikah lagi. Namun, Bian masih bisa di selamatkan. Dan sekarang Rey, kembali tinggal bersama mereka meninggalkan aku sendiri."
"Setega itu? Velove melakukan pada anaknya sendiri?"
"Mentalnya terguncang. Aku tidak tahu kenapa, aku hanya mendengar jika Velove, mengalami gangguan Bipolar. Gangguan psikis dan harus menjalani pengobatan pada psikiater."
Dinda, semakin terkejut mendengar keadaan Velove saat ini. Kehidupan Rey, saat ini cukup rumit. Di balik kesuksesannya, keberaniannya menikahi wanita lain, ternyata begitu menderita dari kehidupannya.
Tidak pernah menyangka jika Velove batinnya begitu tertekan lebih dari dirinya. Setidaknya Dinda, masih bisa mengendalikan emosi dan pikirannya. Hingga sampai saat ini kehidupannya berjalan dengan baik.
Merelakan, mengikhlaskan, dan membuka hatinya untuk pria lain. Yang sekarang menjadi suaminya dan begitu mencintainya.
"Aku selalu berharap apa yang ku alami tidak kalian alami. Jika sudah seperti ini yang harus kamu lakukan hanyalah ikhlas. Mencoba mengerti jika cinta Rey, tidak hanya untukmu. Jika pernikahan mu tetap harus di rahasiakan, terimalah jika itu yang terbaik. Jangan sampai Bian menjadi korban dari keegoisan kalian. Dan jika kamu mencintai Rey, dan tetap ingin bersama maka, jalanilah dengan ikhlas. Kamu istri kedua dan Velove istri pertama yang akan di utamakan."
Angel diam tanpa kata. Entah sedang merenungi atau menyesali kehidupannya. Sepertinya Angel harus mengalah seperti apa yang Dinda katakan.
*****
Velove, mengerjapkan matanya. Di pindainya setiap sudut kamar yang begitu hampa. Diliriknya hamparan seprai yang kosong di sampingnya. Menyadari tidak ada Bian, membuat Velove langsung terbangun.
Mencari dimana keberadaan putranya. Bayangan mengerikan itu sempat terlintas, di mana saat dirinya hendak membunuh Bian.
"Bian!"
"Velove!" seru Rita yang melihat Velove berjalan di depan kamarnya. Segera Rita melangkah mendekati Velove.
"Velove, mau kemana? Ayo masuk kamu kamu harus istirahat." Rita kembali menuntun Velove, memasuki kamar. Namun, di hentikan oleh Velove.
"Bian di mana Ma? Bian masih hidupkan Ma? Aku- aku bermimpi, aku sudah membunuhnya Ma." Terlihat sekali kecemasan pada dirinya. Rita menatap sedih putrinya itu yang seperti orang linglung.
"Itu hanya mimpi. Bian baik-baik saja."
"Tapi di mana Ma? Aku ingin melihat Bian."
"Bian, bersama ayahnya. Jangan khawatir ada Rey, yang menjaganya."
"Tidak!" teriak Velove, lalu menjauh diikuti gelengan kepala. Wajahnya saat ini begitu ketakutan, penuh dengan kecemasan.
"Tidak apa?" tanya Rita, yang semakin heran.
__ADS_1
"Kenapa Mama membiarkan Bian bersama Rey? Rey, sudah mengkhianatiku dia jahat, Rey sudah menikah lagi Ma."
"Velove, tenang." Rita mendekat. Meraih pundak Velove lalu mengusapnya dengan lembut. Perlahan bibirnya berkata, "Siapa yang bilang jika Rey menikah lagi? Rey, ada di sini bersama Bian. Mungkin kamu hanya mimpi."
"Mimpi?"
Rita, tetap mengulum senyum walau hatinya merasa sakit dengan air mata yang semakin terbendung. Kehidupannya yang dulu bahagia kini hancur sehancur-hancurnya. Rita sudah ikhlas mungkin ini hukuman untuknya atas perbuatannya di masa lalu.
"Ayo ikut Mama." Rita menuntun Velove, berjalan ke arah belakang. Setibanya di halaman belakang terlihat Rio, sedang menggendong Bian. Menimang-nimangnya agar tertidur.
"Itu Bian dan Rey, mereka ada di sini bersamamu. Istri Rey hanya satu yang hanya menikahimu. Mama 'kan sudah bilang, istirahat kamu sedang tidak sehat jadi … lupakan mimpi burukmu ya."
"Mimpi itu sangat menakutkan," gumam Velove.
Itu bukan mimpi Velove, melainkan kenyataan. Yang seharusnya tidak kamu ingat untuk saat ini.
"Rey!" panggil Rita, membuat Rey, langsung menoleh. Rey, diam sejenak sebelum akhirnya Rita menghampirinya.
"Biar Bian Mama gendong." Kata Rita yang langsung mengambil alih gendongan Bian.
"Antarkan Velove ke kamar. Jika dia mengatakan kejadian buruk bilang saja itu hanya mimpi. Dan jika dia bertanya tentang pernikahanmu, katakan juga hanya mimpi. Demi Velove, Mama mohon rahasiakan pernikahanmu," bisik Rita pada Rey.
"Kesembuhan Velove adalah yang terpenting untuk saat ini. Berikan dia kebahagiaan dan jangan mengingat masa lalu."
Rey, membuang nafasnya kasar. Lalu berkata, "Iya Ma." Kakinya segera terayun menghampiri Velove yang masih diam termangu.
Bibirnya melengkung sesaat. Mencoba tersenyum walau terpaksa. Namun, demi kesembuhan Velove, dan demi kebaikan putranya Rey harus ikhlas menjalani peran.
"Kamu ngapain di sini? Ayo ku antar kamu ke kamar." Kata Rey, yang merengkuh bahu Velove.
"Kamu?" lirih Velove, yang menatap heran pada Rey.
"Maksudku sayang, ayo. Biar Bian sama Mama, kita ke kamar ya."
"Kenapa kamu begitu kaku memanggilku sayang?"
"Kaku? Mungkin karena aku terlalu pegal dari tadi nimang-nimang Bian, tapi tidak tidur. Aku tidak biasa memangku Bian, lama-lama. Dan tidak pandai juga menidurkan Bian."
"Makanya kamu harus sering pulang Mas. Aku jadi teringat mimpiku, kamu menikah dengan wanita itu."
"Itu hanya mimpi. Mungkin karena kamu sering bertemu Angel 'kan."
"Kamu tahu nama wanita yang ku maksud?"
__ADS_1
"Ya tahulah. Karena sama siapa lagi kamu cemburu jika bukan sama Sekretarisku. Angel itu hanya Sekretarisku, kamu saja yang cemburuan. Jika kamu bertemu dengannya pasti pemandanganmu akan berbeda."
Rey, terus berkata seraya menuntun tangan Velove, membawanya ke dalam kamar.