
Dirasa masalah terselesaikan, Bian dan Lea berpamitan pulang kepada si empunya rumah. Karena telah mau menjadi tempat singgah Lea untuk beberapa waktu.
"Renata terimakasih ya sudah mau menerima istri gue," ucap Bian.
"Iya sama-sama," jawab Renata.
"Gue balik dulu ya, makasih banget udah nolongin gue," pamit Lea seraya memeluk sahabatnya itu.
"Santai aja kali, gua seneng lo nggak sedih lagi," ucap Renata.
"Ah lo emang sahabat terbaik gue," balas Lea seraya melepas pelukannya.
Lea dan Bian mulai masuk ke dalam mobil dengan Fahri menjadi supir mereka. Mobil mulai melaju menjauh dari rumah Renata.
"Sayang kita pulang ke apartemen aku saja ya," ajak Lea.
"Memang kenapa?" Bian mengernyit keheranan.
"Emh ... e ... aku kangen saja sama apartemen aku," jawab Lea ragu.
"Aku mau pulang ke rumah saja," ujar Bian.
__ADS_1
Lea tampak sedih dan mengerucutkan bibirnya. Bian yang mengerti akan sikap istrinya itu langsung berkata, "Coba jelaskan kenapa kamu mau pulang ke apartemen."
"Aku hanya kangen sama apartemen. Lagian sudah lama nggak pulang kesana," jawabnya tanpa menoleh kearah Bian.
"Hanya itu?" Bian memastikan dan disambut anggukan pelan dari Lea.
"Oke! Kalau begitu aku gak mau terima alasannya kamu yang tidak masuk akal. Kita tetap kembali ke rumah," tukas Bian.
"Tapi-" ucapan Lea terjeda.
"Tapi aku ingin menenangkan diri di apartemen dulu. Belum siap pulang ke rumah," lanjutnya dengan kepala yang tertunduk.
Segera Bian menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Menghadapkan wajah itu ke wajahnya, seraya berkata "Ada masalah apa sehingga membuat kamu tidak mau kembali ke rumah sayang?"
Sementara itu Lea berusaha mengalihkan pandangannya dari Bian. Karena tidak ingin menampakkan wajah bohongnya kepada suaminya. Berkali-kali mengalihkan pandangan, namun digagalkan oleh Bian. Dan kini mata Lea hanya menangkap pemandangan wajah Bian seorang.
"Sayang, aku mohon jangan berbohong. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," paksa Bian.
"Emh ... e ... kalau aku katakan yang sejujurnya. Aku mohon kamu jangan marah atau menyalahkan siapapun ya," ujar Lea.
"Ya aku berjanji sayang," sahut Bian dengan tegas.
__ADS_1
"Katakan saja!" imbuhnya.
Lea terdiam sejenak mengatur napasnya sebelum mengatakan yang sesungguhnya. "Jadi sebenarnya aku tidak pergi dari rumah. Tetap aku disuruh pergi," ucap Lea perlahan.
"Katakan siapa yang menyuruhmu pergi dari rumahku!" seru Bian dengan nada yang meninggi.
"Tapi kamu tadi janji tidak akan marah sayang," protes Lea dengan kembali mengerucutkan bibirnya.
Bian menarik napas perlahan dan menghembuskan dengan kasar. Sebenarnya dia ingin sekali marah, namun telah berjanji kepada Lea. Akhirnya dia berusaha menenangkan diri terlebih dahulu.
"Tolong katakan siapa orang yang menyuruh kamu pergi dari rumahku?" tanya Bian yang kali ini sedikit lembut.
"Emh ... e ... mami ... Olivya ... dan Gigi," ucap Gigi dengan gugup.
"Tapi kamu udah janji nggak akan marah pada siapapun," imbuhnya dengan cepat.
Bian terdiam menahan emosi dalam dirinya. Ingin rasanya segera menyalurkan emosinya kepada orang-orang yang telah menyakiti istrinya. Namun, ditahan oleh istrinya itu. Dan dia pun berusaha sekuat tenaga agar tidak emosi. "Baiklah aku nggak akan marah. Tapi tolong kamu tetap kembali ke rumahku," pinta Bian.
Lea bingung dan tidak langsung menjawab permintaan Bian. Sejujurnya dia masih sangat trauma dengan kejadian yang menimpanya tempo hari. Lea belum siap kembali ke rumah itu bersama kenangan-kenangan buruk saat dirinya sendiri di rumah itu tanpa Bian disisinya. "Aku belum siap sayang," lirih Lea.
"Beri aku waktu," imbuhnya.
__ADS_1
"Baiklah aku beri waktu untukmu menenangkan diri. Dan kita sementara tinggal di apartemen kamu," ujar Bian dan disambut pelukan dari Lea.