
"Mas dari mana?" tanya Velove saat Rey, masuk ke dalam kamarnya. Dengan santainya Rey, menjawab. "Dari toilet ganti baju," ucapnya yang berjalan ke arah Velove yang sedang menimang putranya.
"Apa anak kita tidur?"
"Iya, habis mimi dia tidur."
Rey, langsung duduk di samping Velove. Satu tangannya terus mengusap lembut pipi chubby putranya.
"Dimana Mama?" tanyanya.
"Mama pergi ke luar sebentar. Mungkin ke toilet." Jawaban Velove, membuat jantungnya berdegup kencang. Bibirnya seketika bungkam, hatinya mendadak tidak tenang. Entah apa yang Rey pikirkan.
"Sayang kenapa bengong?" tegur Velove, membuat Rey tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa sayang. Oh ya, apa kamu sudah memberikan nama?
"Belum. Nama apa ya Mas yang bagus?"
"Bagaimana kalau Bian? Aciel Abian. Nama yang bagus bukan?" usul Rey.
"Boleh juga Mas, Bian nama yang bagus," timpal Velove, lalu tersenyum sambil menatap bayi kecil yang ada pada gendongannya. Tetapi tidak dengan Rey, yang hatinya kini gelisah, memikirkan apakah Rita melihatnya bersama Angle atau tidak.
*****
Di sebuah rumah, tawa renyah begitu menggelegar, terdengar nyaring memenuhi isi ruangan. Bintang-bintang seakan menerangi malam mereka. Suasana malam yang dingin dan sunyi tidak terasa karena penuh dengan kehangatan.
Namun tidak dengan Dinda yang harus meninggalkan keceriaan itu. Rasa pusing dan mual, membuatnya harus mundur terlebih dahulu.
"Mah, Oma maaf ya Dinda naik ke kamar dulu. Kepala Dinda sangat pusing."
"Iya sayang. Istirahat ya, Willy antarkan istrimu ke kamar," titah Mayang. Membuat Willy langsung memapah Dinda ke dalam kamarnya.
Dengan perlahan tangan Willy, menyandarkan punggung istrinya pada dinding ranjang tidurnya. Menata tumpukan bantal sebisa mungkin agar Dinda merasa nyaman.
Kedua tangannya menarik pelan kain sutra, tebal, dan lembut, dengan motif bunga, di biarkan menutup setengah
badan Dinda.
Lalu tangan itu dengan telaten menekan setiap lengkuk kaki jenjang istrinya. Membuat mata Dinda terpejam seolah merasakan sentuhan itu karena nyaman.
"Apa masih mual?" Kepala Dinda langsung menggeleng menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Tidak, hanya pusing saja."
"Mau aku buatkan teh?"
"Enggak Mas, aku mau tidur saja," jawab Dinda membuat Willy tidak bertanya lagi. Dan langsung membenahkan bantal dan kepala Dinda, agar tidak lagi bersandar pada dinding ranjang tidurnya.
"Mas?"
"Hm,"
"Sini, peluk."
Mata bulat itu langsung terbelalak. Mendengar kata-kata manja dari istrinya. Willy merasa heran, mood ibu hamil sulit di tebak. Kemarin malam dirinya sempat di tendang, hanya karena ingin memeluk.
Tapi malam ini tanpa meminta Dinda menginginkan pelukan hangatnya. Tentu saja Willy sangat semangat. Bibir ranumnya langsung melengkung sesaat. Tanpa di minta tubuhnya sudah terbaring di samping Dinda.
Kedua tangannya langsung meraih, tubuh Dinda membawa dalam dekapannya. Entah begitu nyaman atau karena pengaruh si jabang bayi, Dinda begitu terlelap dalam dekapan Willy, wajahnya tenggelam dalam dada bidangnya.
Tidak lagi berkomentar karena bau dari aroma maskulin yang di pakainya.
"Tetap seperti ini ya sayang, jangan ngidam yang aneh-aneh ya," batin Willy, yang tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung Dinda, seolah sedang menidurkan seorang bayi.
Setelah beberapa saat.
"Mas?" panggil Dinda, namun yang di panggil masih berada dalam mimpinya.
Dinda terus menggoyang-goyangkan tubuh Willy, agar terbangun. Perut yang bergejolak membuat rasa mual kembali datang. Dengan cepat telapak tangannya menutup mulut yang hampir saja memuntahkan isi dalam perutnya.
Perut yang bergejolak seakan di aduk-aduk, seolah bergerak maju dan berhenti tepat di bagian dadanya, membuat nafasnya terasa sesak dan terhenti sejenak.
Mendorong lebih kuat sesuatu di dalamnya untuk segera keluar dari mulutnya.
Karena tidak tahan lagi, satu tangan Dinda langsung menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya lalu berlari cepat menuju kamar mandi.
Mata indahnya seketika membulat, saat sebuah cairan bening keluar dari mulutnya. Sebisa mungkin aliran nafas pada perutnya ia tahan, hanya untuk mendorong agar semua cairan itu termuntahkan.
Nafasnya tersengal-sengal saat semuanya sudah selesai. Keran air mulai di putar membuat air langsung turun dengan derasnya menyapu sisa-sisa muntahan-Nya tadi.
Punggungnya masih menunduk lemah, satu tangannya mencoba menekan perut ratanya yang terasa sakit karena dorongan tadi. Nafasnya masih ia atur, dengan rentetan jari-jari manis yang menggenggam erat sisi westafel berlapis alumunium.
"Sayang!" Hingga panggilan manja mulai terdengar. Willy, bergegas masuk saat melihat Dinda yang masih menunduk pada bawah wetafel.
__ADS_1
Telapak tangannya mulai mengelus lembut punggung Dinda. Lalu bergerak merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Dinda hingga mengikatnya dengan sebuah kain karet yang berbentuk bulat.
"Muntah lagi?" tanya Willy yang mendapat anggukan dari Dinda.
Tubuh Dinda segera terbangun, meluruskan punggungnya. Tangan Willy langsung memeluk, membiarkan kepala Dinda bersandar pada pundaknya. Lalu memapah tubuh itu keluar dari kamar mandi menuju ranjang tidurnya.
"Aku buatkan teh hangat ya."
"Enggak mau Mas, aku gak mau minum teh."
Willy hanya bisa membuang nafas beratnya. Sedih melihat keadaan Dinda seperti ini, namun Willy tidak bisa melakukan apa pun.
"Aku akan ke bawah mengambil minum," ujarnya karena gelas yang ada di atas nakas terlihat bening dan kosong tanpa cairan.
Kedua kakinya terayun menuruni anak tangga. Keadaam rumah sangat gelap karena waktu masih menunjukan pukul 01.00 dini hari. Mungkin semua penghuni rumah sudah terlelap.
Willy berjalan ke arah dapur, yang tidak sengaja berpapasan dengan Asih, yañg entah sejak kapan ada di sana.
"Mama!"
"Willy!"
"Sedang apa Ma?"
"Haus, mau ngambil minum. Kamu mau ngambil minum juga?"
"Iya Ma. Dinda baru saja terbangun karena merasa mual dan muntah lagi. Willy bingung Ma, harus berbuat apa." Asih hanya tersenyum, lalu mengelus lembut pundak Willy dengan telapak tangannya.
"Sabar ya, orang hamil pada trimester pertama memang seperti itu. Obatnya yaitu hanya sabar, yang penting janin dan ibunya sehat."
"Gimana mau sehat Ma, setiap makan langsung keluar lagi."
"Kasih saja air hangat, kasih minyak angin usapkan pada punggung dan kepalanya biar rasa pusing dan mualnya hilang."
"Jika mencium minyak angin Dinda semakin mual dan pusing."
"Ya sudah, besok bawa ke dokter saja. Biar lebih baik."
"Iya Ma. Ya sudah Willy mau kembali ke atas."
"Iya," ujar Asih. Yang menatap kepergian menantunya itu.
Sesampainya di kamar, Willy langsung memberikan segelas air hangat pada Dinda untuk di minumnya. Dinda pun meneguknya walau hanya sedikit.
"Buat apa Mas?"
"Kita konsul supaya kamu tidak mual dan pusing lagi."
"Orang hamil memang begini Mas, gak ada obatnya."
"Pokoknya tetap, besok kita ke dokter. Harus nurut."
"Iya."
"Ya udah sekarang tidur lagi ya masih malam."
"Mas, aku mau nasi goreng deh kayanya."
"Nasi goreng? Malam-malam begini. Besok pagi saja ya sayang, Bi Ijah juga sudah tidur."
"Siapa juga mau nasi goreng Bi Ijah."
"Lalu?"
"Nasi goreng yang ada di luar Mas. Yang ada di perapatan jalan itu loh, enak deh kayanya."
"Ini sudah malam."
"Nasi goreng di sana jualannya emang malam sampai pagi. Ayolah Mas, laper mau nasi goreng," rengek Dinda membuat Willy tidak bisa menolak.
"Ya sudah, kamu tunggu aku beli dulu nasi gorengnya."
"Ikut!" rengek Dinda dengan manja.
"Enggak. Nanti kamu masuk angin tunggu di sini saja. Hanya sebentar saja kok."
"Enggak. Mau makan di tempat," tukas Dinda, dengan bibir yang di cebikan.
Lagi-lagi Willy mengembus nafasnya kasar. Terpaksa Willy harus membawa Dinda keluar pada tengah malam. Jika bukan karena ngidam Willy tidak akan mengajaknya.
Tubuhnya beranjak dari tempat tidur. Melangkah menuju lemari, mengambil sebuah hoodie lalu di pakainya. Dan mengambil satu hoodie lagi untuk di pakaikan pada Dinda.
Setelah mengenakan pakaian hangat Willy dan Dinda langsung berjalan menuju lantai dasar. Mengeluarkan mobilnya dan Dinda hanya menunggu di teras.
__ADS_1
"Lama banget sih. Cuma keluarin mobil juga," rutuknya yang sudah kesal menunggu. Tidak berselang lama sebuah mobil spyder putih keluar dan berhenti tepat di depannya. Membuat bibirnya tersenyum merekah.
Terlihat Willy turun dari mobil, berjalan memutar hanya untuk membukakan pintu mobil untuk Dinda.
"Pelan-pelan," tegur Willy saat Dinda buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Setelah melihat Dinda duduk dengan nyaman, tangan Willy langsung menutup pintu itu, lalu berjalan memutar masuk dan duduk di bagian kemudi.
Suara deruan mesin terdengar, kedua kakinya mulai menginjak pedal gas, bundaran stir pun di putar, mobil pun melaju dengan cepat menerobos pagar besi yang sudah terbuka.
Di sepanjang jalan tidak ada percakapan sedikit pun. Mata Willy tetap fokus pada jalanan di depan, sedangkan netra Dinda dibiarkan melihat-lihat jalanan yang cukup ramai walau tengah malam.
Hingga netranya tertuju pada sepasang anak muda yang berboncengan menaiki sebuah motor sport.
"Sayang lihat deh mereka." Tunjuk Dinda ke arah motor sport yang ada di depannya. Willy hanya melirik Dinda sekilas lalu berkata, "Anak muda sekarang gak tahu waktu. Tengah malam begini masih saja berkeliaran kaya kun-kun saja."
"Kun-kun apa itu?" Mata Dinda menyipit hingga keningnya mengerut, merasa bingung dengan perkataan Willy.
"Masa kamu gak tahu sih sayang. Kun-kun, si wanita rambut panjang yang berpakaian daster putih, melayang di tengah malam." Sontak tepukan keras langsung mendarat di pundaknya.
"Kok mukul sih!"
"Lagian malam-malam gini ngomong yang serem-serem."
"Makanya malam-malam begini jangan mau keluar. Takutkan!"
"Tahu ah, jangan ngomongin si kun-kun lagi."
"Hm," gumam Willy.
"Tapi sayang, mau deh di bonceng gitu. Besok-besok jalan-jalannya pakai motor ya sayang."
Mata Willy terbelalak seketika, pantas saja Dinda menunjuk motor itu, ternyata Dinda ingin menaiki motor sport seperti anak-anak muda itu. Apa ini temasuk dari ngidamnya?.
"Kita gak punya motor sayang. Lagian bahaya, lebih aman pakai mobil."
"Beli saja Mas," ucap Dinda santai membeli sebuah motor seolah membeli sebuah nasi goreng yang bisa cepat dan langsung ada. Lagian Willy tidak terlalu suka memakai motor.
"Apa istriku mau ngidam beli motor? Masa ada ngidam kaya gitu," batin Willy.
"Sayang stop!" teriak Dinda, membuat Willy menghentikan mobilnya detik itu juga.
"Itu gerobak nasi gorengnya." Tunjuk Dinda pada sebuah gerobak yang di persimpangan jalan sebelah kanan. Namun, gerobak itu seperti kosong, bahkan bangku dan meja masih bertumpuk sepertinya toko itu tutup.
"Sayang sepertinya tutup. Gak jualan," ucap Dinda merasa kecewa.
"Lalu bagaimana? Apa mau cari yang lain saja?"
"Enggak mau ah, enggak enak kalau yang lain. Kita pulang saja."
"Pulang!"
"Iya."
"Gak mau cari makanan yang lain?"
"Gak mau, maunya cuma nasi goreng itu."
Willy mengembuskan nafasnya lagi, sudah malam, ngantuk, sampai di luar tidak dapat apa-apa. Dinda langsung mengajak pulang. Perjalanan yang sangat sia-sia.
Dengan malas, tangannya menarik tuas lalu memutar stir, agar mobilnya berbelok, kembali menuju rumahnya. Matanya sudah sangat mengantuk namun Willy tetap melajukan mobilnya dengan hati-hati.
Hanya lima menit mobilnya sudah berhenti di pekarangan rumahnya. Mesin mobil pun sudah di matikan, tangannya hendak membuka seatbelt namun ucapan Dinda menghentikannya.
"Tunggu sayang." Tangan Willy berhenti bergerak, kepalanya mendongak, menatap Dinda di hadapannya.
"Apa?"
"Kita cari makanan saji saja deh. Aku lagi pengen chiken, dan burger deh Mas." Mata bulat itu terbelalak seketika, bersamaan dengan embusan nafas dan gerakan dada yang turun. Willy merasa lelah namun bagaimana lagi, keinginan Dinda tidak bisa di prediksi.
"Tadi kan aku sudah bilang mau cari makan apa lagi? Bilangnya mau pulang, sekarang sudah sampai rumah baru bilang."
"Ya mau-Nya sekarang Mas, tadi belum mau."
"Besok saja ya? Ngantuk banget nih."
"Enggak mau nganter? Ya sudah aku sendiri saja."
"Eh, iya-iya aku anterin," tukas Willy, langsung menjauhkan tangan Dinda yang akan mengambil alih stir mobil. Dengan terpaksa Willy kembali melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumahnya.
...----------------...
Sabar ya papa Willy, 🤭.
__ADS_1