
Sesampainya di rumah sakit Rey, segera menurunkan Velove dari mobilnya. Dengan tergesa-gesa dirinya kembali melajukan mobil itu dengan cepat.
"Angel melihatku, dia pasti marah padaku," gumam Rey tidak henti.
Kedua tangannya terus memutar bundaran stir di depannya, sekali-kali ia mengecek ponsel untuk menghubungi Angel, tetapi tidak ada satu jawaban pun dari Angel.
"Angel ayolah angkat." Hati Rey semakin gelisah.
*****
Di tempat lain Angel turun dari taksinya. Menatap rumah di depannya dengan nanar. Entah kenapa hatinya menuntun untuk datang kembali ke rumah ini.
Rumah Dinda, sang mantan istri dari suaminya sendiri.
"Kenapa aku datang lagi. Apa yang akan mereka katakan. Tidak apa-apa Angel, kamu datang untuk Syena."
Angel menghela nafas sejenak, lalu berjalan memasuki rumah Dinda.
Terlihat aneka hiasan, dan balon yang memenuhi rumah itu. Tidak salah lagi Dinda akan mengadakan pesta untuk putrinya. Tawa renyah terdengar merdu, terlihat Dinda dan Karin yang asyik menghias rumahnya dengan aneka pernah-pernik berwarna.
"Karin, apa kamu tahu? Aku hampir stres memikirkan pejodohan Rio, saat itu. Dan aku hampir saja menggagalkannya. Jika aku berhasil mungkin kamu dan Rio, tidak akan pernah bersatu lagi."
"Jangan begitu Dinda. Kamu sudah bahagia dengan keluarga kecilmu, jadi tolong biarkan aku bahagia dengan Rio." Karin, mendelik dengan bibir mencebik.
Mereka berdua terus bercengkrama seraya mengukir hiasan balon pada tembok. Tanpa menyadari seseorang telah hadir diantara mereka.
Dinda, terus tertawa mendengar celotehan Karin, hingga saat berbalik, tawanya pun pudar. Bibir yang semula mengembang kembali menciut saat melihat Angel, yang berdiri di ujung pintu rumahnya.
Karin, yang menyadari diamnya Dinda, langsung mendongak lalu menoleh ke arah mana yang Dinda tuju. Sedetik matanya menyipit melihat wanita yang baru ia kenal.
"Kamu mengundang tamu?" tanya Karin.
"Tidak, aku tidak mengundangnya."
"Lalu?" tanya Karin, lagi.
"Mungkin Syena, yang mengundangnya." Kata Dinda yang berjalan ke arah Angel.
"Angel."
"Maaf, jika aku datang tanpa memberitahumu. Aku datang untuk menemui Syena, hari ini adalah hari ulangtahunnya aku ingin memberikan kado untuknya." Kata Angel, seraya menunjukan bingkisan yang ia bawa.
"Terimakasih sudah mengingat hari lahir putriku. Apa Rey, yang memberitahumu?"
"Tidak, mungkin Rey, tidak ingat," ujar Angel.
"Bagiku itu sangat aneh. Ayahnya sendiri tidak mengingatnya, tetapi orang lain … duduklah," titah Dinda, Angel pun duduk di sofa yang sudah tersedia.
__ADS_1
Karin, yang sedari tadi bengong langsung mengikuti langkah Dinda, menuju sofa. Dinda, memanggil Bi Ijah untuk membawakan minuman. Karin, terus menatap Angel yang ada di hadapannya. Namun, Angel yang di tatap tidak menghiraukannya karena fokus melihat-lihat rumah yang sudah di rias.
"Apa kalian mengadakan pesta untuk merayakannya?"
"Tidak, ini hanya kejutan kecil. Kami tidak mengundang siapapun hanya keluarga saja."
Perkataan Dinda membuat Angel tersinggung. Saat mengatakan 'tidak mengundang siapapun' Angel langsung diam, merasa dirinya tamu tidak di undang. Yah, memang Angel pun tidak ada niat untuk datang. Entah kenapa taksi yang di tumpanginya berhenti di rumah Dinda.
Drt … drt … drt …
Suara getaran ponsel terdengar. Membuat semua mata tertuju pada Angel. Menyadari ada yang bergetar di dalam tasnya Angel, pun segera membuka tas itu untuk mengambil ponselnya.
"Angkat saja, mungkin itu penting," ujar Dinda yang melihat Angel terus mendiamkan ponselnya.
"Tidak penting." Angel kembali memasukan benda itu ke dalam tasnya.
"Apa itu dari Rey?"
Angel langsung terdiam.
"Kenapa tidak di angkat? Dan katakan hari ini adalah hari ulang tahun putrinya."
Dinda, berkata dengan terus mengembangkan senyumnya. Entah terpaksa atau karena bahagia. Namun, jika jadi Dinda, siapa pun akan sangat risih jika terus kedatangan istri dari mantan suaminya.
"Undang saja sekalian, suruh dia datang. Syena pasti senang," ucap Dinda dengan senyum terpaksa.
Karin langsung sewot mendengar Dinda mengundang Rey, sebab, itu akan menjadi masalah.
"Apa aku salah ingin berhubungan baik dengan Dinda. Lagi pula aku bukan merebut Rey, aku menikah dengan Rey, setelah mereka bercerai." Angel membela diri. Karin, hanya berdecak kesal.
"Tetap saja kamu …"
"Sudah Karin." Dinda menghentikan ucapan Karin, dia tidak ingin ada perdebatan di hari bahagia ini.
"Sebentar lagi Syena pulang. Aku tidak ingin kejutan yang sudah aku buat menjadi kacau hanya karena perdebatan ini. Lebih baik kita siap-siap."
Dinda, beranjak pergi dari sofanya. Karin dan Angel masih saling pandang. Sebelum akhirnya Karin ikut pergi bersama Dinda.
Sebuah mobil berhenti di pekarangan rumahnya. Turunlah Willy, dan Syena. Tidak berselang lama kedua mobil masuk ke pekarangan rumahnya. Mobil pertama Willy, kenal betul jika itu milik temannya.
Dan benar saja Rio, turun dari mobil itu yang langsung di sambut oleh Syena, dengan teriakannya.
"Om Rio!" teriaknya.
"Halo sayang, tos dulu dong." Syena dan Rio pun menyatukan kepalan tangan mereka sebagai tos persahabatan.
"Om, tumben ke rumah? Mau kasih hadiah buat aku ya Om."
__ADS_1
"Hadiah? Kasih gak ya?"
"Om!" rengek Syena membuat Rio, tertawa.
"Ya sudah, nih Om kasih." Rio, langsung memberikan sebuah kado yang di sembunyikan di belakang punggungnya.
Syena begitu senang mendapat hadiah itu.
"Itu mobil siapa?" tanya Rio, pada Willy yang hanya menggeleng.
Tatapan keduanya terus tertuju pada mobil itu. Pintu mobil terbuka, mata keduanya melebar sempurna saat melihat Rey, yang keluar, tetapi tidak dengan Syena, yang begitu riang dengan kehadiran ayahnya.
"Papa!"
Syena langsung berlari ke arah Rey, yang sudah siap menyambutnya dengan pelukan. Di peluknya tubuh mungil itu dalam dekapannya.
"Maafkan Papa ya sayang." Rey mengecup kepala Syena. "Maafkan Papa yang lupa hari ini, hari kelahiranmu happy birthay, selamat ulang tahun putriku."
"Terimakasih Papa."
Senyum Rey, mengembang ketika melihat Syena, bahagia mendapat kado darinya.
"Kamu mengundangnya?" tanya Rio.
"Entahlah, mungkin Dinda," ujar Willy, yang langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Rumit juga punya anak dari orang yang berbeda," gumam Rio, lalu melangkah masuk mengikuti Willy.
"Papa ayo, masuk." Syena langsung menuntun tangan Rey, memasuki rumahnya.
Di dalam sana Dinda, Karin dan Angel sudah siap menyambut Syena dengan kejutan yang dia buat. Namun, bukan Syena yang datang melainkan Willy dan Rio membuat Dinda terheran-heran.
"Sayang, di mana Syena?"
"Masih di luar bersama papanya," ucap Willy, lalu mengecup kening Dinda.
Jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Willy saat ini. Tidak ada yang tahu hatinya, entah harus bersedih atau tersenyum. Sejenak pikiran buruk terlintas, wajar saja Willy, berpikir jika Rey, di undang karena Dinda.
Namun, tidak baik jika harus mempermasalahkan hal itu di saat seperti ini. Willy, tetap tersenyum melihat Rey, dan putrinya yang berjalan di ujung sana.
Dinda, hanya diam menatap Willy, di sampingnya, seolah tahu apa yang Willy rasakan saat ini.
"SELAMAT ULANG TAHUN SYENA" teriakan Karin, membuyarkan lamunannya.
Dinda, langsung menyambut Syena seperti yang lainnya. Melupakan masalah hatinya untuk saat ini. Mereka semua menikmati semua pestanya, tetapi tidak dengan Dinda, tatapannya terus tertuju pada Willy, yang asyik mengobrol dengan Rio.
Nyanyian ulang tahun kembali terdengar, membuat mereka semua kumpul kembali. Tiba saatnya pemotongan kue, potongan pertama Syena berikan pada Dinda. Namun, pada potongan kedua semua orang gelisah menunggu Syena, memberikannya pada siapa?
__ADS_1
Karin, menatap Rey dan Willy secara bergantian. Siapakah diantara mereka yang akan Syena pilih. Begitupun dengan Syena, mata kecilnya terus melirik kedua papanya bergantian.
"Potongan kedua Syena kasih untuk …."