Life After Married

Life After Married
Rumah Renata


__ADS_3

Setelah beberapa hari berhubungan intens dengan Fahri. Akhirnya Renata mengakui bahwa Lea sedang aman bersamanya. Renata berpesan kepada Fahri supaya tidak langsung mengatakan hal ini kepada Bian.


"Please, gue ke rumah lo ya. Mau ngobrol sama Lea," pinta Fahri dalam sambungan telepon.


"Jangan sekarang deh. Tunggu Lea tenang dan siap dulu," tolak Renata.


"Pokoknya gue harus kesana. Kondisi sahabat gue memprihatinkan ini. Gak bisa tidur dan gak makan. Gue takut dia mati," ungkap Fahri.


"Ya sama saja kali. Disini Lea juga kaya gitu," balas Renata.


"Emang jodoh," celetuk Fahri yang disambut tawa oleh keduanya.


Setelah sesi tertawa bersama usai, "Jadi kapan gue bisa ke rumah lo dan ketemu Lea?"


"Lebih baik jangan ketemu Lea dulu deh. Gue takut dia akan marah sama gue kalau gue ketahuan ngasih tau keberadaannya," kata Renata.


"Ya sudah. Gue ke rumah lo mau ketemu lo aja," ucap Fahri.


"Mau ngapain?" tanya Renata mengernyitkan alisnya.


"Sekarang kirim shareloc alamat rumah lo," perintah Fahri.

__ADS_1


**


Sore harinya ketika Renata merasa jenuh seharian menemani Lea di kamar. Dia memutuskan untuk melihat taman depan rumahnya. Renata memanglah memiliki hobi bercocok tanam sejak kecil.


Karena kesibukannya Renata jadi jarang merawat kebunnya. Dan menyerahkan pekerjaannya kepada tukang kebun di rumahnya. Untuk mengurangi kejenuhannya, Renata mengambil selang air dan menyirami berbagai macam bunga-bunga indah di tamannya.


"Halo bunga-bunga. Maaf ya aku jarang menyapa kalian," ucap Renata seolah berbicara dengan tanam bunga-bunganya.


"Kalian apa kabar?"


"Semoga baik-baik saja ya."


Syurrrr ....


Selang air yang dipegang Renata tanpa sengaja mengarah ke laki-laki tersebut. Sontak saja Fahri berteriak. Renata yang mendengar teriakan laki-laki itu sontak juga ikut teriak, "Maling!"


"SsStt ... Gue bukan maling!" seru Fahri dengan cepat supaya Renata menghentikan teriakannya.


"Kalau bukan maling kenapa lo mengendap-endap kaya gitu?" protes Renata.


"Gue mau memastikan dulu apakah rumah ini adalah rumah Renata", tukas Fahri.

__ADS_1


Renata terdiam merasa bersalah telah menyemprot tamu yang akan berkunjung ke rumahnya. Akhirnya dia pun nyengir mengetahui bahwa laki-laki tersebut bukan maling. "Hehe ... Maaf ya. Benar ini rumah Renata dan gue Renata."


"Ayo ... Ayo ... Silahkan masuk," ajak Renata sembari membukakan pintu gerbangnya.


"Oh jadi lo yang namanya Renata?" ucap Fahri sembari melihat gadis berperawakan tinggi itu dari atas sampai bawah.


"Iya gue Renata. Lo pasti Fahri ya?" tebak Renata sembari menjulurkan tangannya.


"Habisnya lo kaya maling sih. Jadi gue semprot deh."


"Gue ambilkan handuk duku ya," ucap Renata berlalu ke dalam rumah.


"Masa orang cakep kata gue dibilang maling," gerutu Fahri.


Setelah memberikan handuk kepada Fahri. Renata mengajak Fahri duduk disebuah kursi yang terletak di teras rumah itu. Pasalnya Renata takut jika menyuruh Fahri masuk ke dalam rumah, nanti ketahuan sama Lea.


"Disini saja ya kita ngobrolnya," ucap Renata sembari menujuk dua kursi teras beserta satu meja kecil.


"Takutnya kalau ngobrol di dalam nanti ketahuan sama Lea," lanjutnya.


"Jadi apa yang ingin lo obrolin sama gue?" tanya Renata membuka percakapan sore itu.

__ADS_1


__ADS_2