Life After Married

Life After Married
Season 2- Mengikuti Rey


__ADS_3

"Apa apaan ini?" Suara bariton mengejutkan Rey dan Angel. Joshua datang menghampiri mereka dan melepas cengkraman Rey pada Angel.


"Jangan ikut campur," tegas Rey.


"Aku berhak ikut campur karena kamu sudah menyentuh wanitaku," balas Joshua, menarik tangan Angel pergi dari sana.


Rey, hanya diam ketika Joshua membawa Angel pergi.


"Aku akan cari tahu sendiri," ucap Rey. mengingat Reyhan.


.


.


Angel terpaksa bercerita pada Joshua, jika Rey adalah mantan suaminya, dan ayah dari Reyhan. Joshua cukup terkejut pantas saja pandangan Rey dan Angel sangat berbeda.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" Joshua terlihat marah dan kecewa.


"Aku tidak ada maksud merahasiakan. Aku takut jika Rey akan membawa Reyhan."


"Apa dia sudah tahu jika Reyhan anaknya?"


"Tidak, aku belum mengatakannya," jawab Angel.


"Tapi Rey tidak akan berhenti mendatangimu."


Perkataan Joshua memang benar, Rey tidak akan diam yang akan mencari cara untuk mengetahui apa Reyhan anaknya atau bukan.


Angel semakin takut dan gelisah.


.


.


Rey, tidak bisa diam dan terus memikirkan Reyhan.


"Bos, apa Bu Angel mengatakan sesuatu?" tanya Dika.


"Tidak, tapi aku yakin Reyhan adalah anakku, walaupun Angel belum mengatakannya. Dika, apa aku bisa mendapatkan Reyhan?" Rey bertanya seolah ingin mengambil hak asuh Reyhan.


"Aku akan hubungi pengacara, mereka pasti akan membantu." Dika memberi usul. "Cuma … sebelum kita melakukan itu, kita harus memastikan apakah Reyhan anak kandungmu atau bukan," sambung Joshua.


"Apa kamu tidak yakin dia anakku?" Rey jadi kesal ketika Dika meragukannya sebagai ayah Reyhan.


"Bukan begitu Bos, tapi … tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Bu Angel setelah kalian bercerai, mungkin saja Bu Angel pernah menikah, atau berhubungan dengan lelaki lain."


"Hatiku yakin jika Reyhan adalah anakku," tegas Rey. "Aku akan buktikan itu," lanjut Rey.


Apa pun rencana Rey, Angel tidak akan membiarkan itu. Hari ini Angel mendatangi sekolah Reyhan, dia menjemput Reyhan lebih awal, takut jika Rey akan datang.


"Mama!" teriak Reyhan berlari ke arahnya.


"Sudah selesai, kan? Kita pulang sekarang," ajak Angel.


"Mama, aku tidak ingin pulang ke rumah, aku ingin menginap di rumah ayah Jo," pinta Reyhan yang langsung disetujui Angel.


"Tentu boleh, kita akan menginap lagi di rumah ayah Jo."


"Yeay!" Reyhan bersorak ria.


Mungkin itu yang terbaik, membiarkan Reyhan tinggal bersama Jo sementara ini.


"Bian!" Angel segera menoleh, ketika seorang wanita memanggil nama Bian.


Anak laki-laki yang berlari ke arah ibunya. Angel terbelalak, ketika melihat Velove dan Bian.

__ADS_1


'Bian, apa dia bayi kecil yang pernah ku rawat,' batin Angel yang mengingat masa lalu.


Angel segera pergi sebelum Velove melihatnya.


"Mama, kenapa buru-buru?" tanya Reyhan saat Angel memasukkannya ke dalam mobil.


"Ayah Jo sudah menunggu." Hanya itu yang Angel katakan.


Angel segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah, tidak berselang lama Rey datang menjemput Bian. Rencana ingin mencari Reyhan harus gagal karena tertahan Bian, dan Velove.


"Papa!" Bian berlari ke arah Rey dan memeluknya. Velove masih marah, berjalan ke arah Rey dengan wajah masamnya.


"Tadi pagi kamu ke mana? Tega meninggalkanku," ujar Velove.


"Aku ada urusan," jawab Rey.


"Urusan. Apa sekarang masih ada urusan? Lihatlah Bian dia meronta ingin pergi bersamamu tapi kamu tidak mendengar." Velove semakin ketus.


Rey, akhirnya menatap Bian lalu memangku Bian masuk ke dalam mobil. Terpaksa Rey, harus mencari Reyhan lain hari.


"Masuklah," titah Rey, pada Velove.


Dengan raut wajah yang kesal Velove masuk ke dalam mobil.


Angel dan Reyhan sudah sampai di rumah Jo, dia bingung apa yang harus dilakukan. Mungkin sekarang bisa menghindar dari Rey, tapi besok atau lusa tidak mungkin Angel bisa menahan Rey dan Reyhan bertemu.


"Mama, kenapa melamun?" Reyhan bertanya yang melihat Angel melamun di atas sofa.


"Mama!" Panggil Reyhan lagi, menyadarkan Angel kali ini.


"Reyhan, Mama ingin pesan. Jika ada seorang pria yang tidak kamu kenal, jangan pernah menghampiri pria itu atau ikut dengannya. Siapa pun itu selain Mama dan ayah Jo kamu tidak boleh pergi tanpa seizin Mama."


"Memangnya kenapa Ma?"


"Sekarang sedang maraknya penculikkan, kamu ngertikan apa maksud Mama, mereka akan berpura-pura jadi papamu, mengakui sebagai tantemu, atau kerabat yang lain. Pada akhirnya mereka akan membawamu pergi. Mama tidak mau kehilanganmu," ucap Angel yang semakin cemas akan kehilangan Reyhan.


"Pintar." Angel berkata seraya memeluk Reyhan.


"Ada apa ini? Kenapa ayah Jo tidak diajak berpelukan?" Jo baru saja sampai, Reyhan dan Angel langsung melepaskan pelukan mereka.


"Ayah Jo!" Reyhan langsung berlari pada Joshua.


"Lihatlah apa yang ayah Jo bawa?" Jo bertanya seraya membuka paper bagnya.


"Wah! Ayam goreng, ice cream."


"Mari kita makan," ajak Jo.


"Mari!" seru Reyhan.


Angel hanya diam melihat kedekatan mereka berdua. Sebenarnya Angel tidak bisa tenang ketika Rey tahu jika Reyhan bukan anak Joshua.


'Aku pikir, saat ini tidak akan datang. Aku dan Rey tidak akan bertemu lagi nyatanya, Rey datang dan membuat hidupku tidak tenang lagi,' batin Angel.


"Jangan melamun," ujar Joshua mengejutkan Angel. "Reyhan sudah menunggumu, ayo kita makan bersama," ajak Joshua.


Angel dan Joshua menghampiri Reyhan di meja makan.


.


.


"Mau ke mana Rey," ucap Velove ketika melihat Rey keluar rumah.


"Kenapa aku selalu curiga pada Rey, aku harus mengikutinya."

__ADS_1


Velove diam-diam keluar dari kamar Bian. Berlari keluar, saat Rey pergi Velove segera masuk ke dalam mobilnya dan menyusul.


"Mau pergi ke mana Rey, malam-malam begini. Semoga saja kejadian masa lalu tidak terulang." Velove terus bergumam sepanjang jalannya.


Masih dia ingat saat masa lalu, ketika mendapati Rey bersama wanita lain dan Velove harap semua itu tidak terjadi lagi.


Beberapa tahun lalu


Sebuah mobil taksi berhenti, tepat di depan sebuah rumah yang sederhana. Turunlah Velove dari taksi itu. Wajahnya begitu datar dengan tatapan yang begitu tajam.


Dengan satu tarikan nafas, kakinya melangkah dengan pelan, lalu berhenti sejenak saat melihat sebuah mobil yang terparkir, yang sangat ia kenali.


Telapak tangannya langsung mengepal, sedetik langkahnya kembali terayun, hingga tiba di depan sebuah pintu. Dengan kerasnya pintu itu diketuk, tanpa memperdulikan sang pemilik rumah yang bisa saja terganggu.


Ketukan itu semakin keras, bersamaan dengan emosi yang meluap. Tangannya terus bergetar, hingga pintu itu terbuka lebar.


Bola matanya membulat sempurna, aliran darah pada nadinya semakin mendidih, kepalan tangan yang sedari tadi tertahan langsung melayang, mendarat pada permukaan kulit mulus seorang wanita.


Hingga wanita itu tak dapat menghindar. Dan hanya diam saat pipinya terasa panas dan perih.


"Velove!" teriakan Rey, begitu mengelegar menghentinkan tangannya yang akan menampar lagi wanita di hadapannya.


Marah, itu yang di rasakannya. Saat lelaki yang di cintai membentaknya hanya karena menampar wanita itu yang menjadi kekasihnya saat ini.


Aaakhh!


Teriaknya, bersamaan dengan emosi yang meluap, kedua tangannya tidak berhenti memukul, mencabik-cabik wanita di depannya.


"Berhenti Mba, berhenti." Angle hanya pasrah saat tubuhnya didorong, dibanting, hingga di pukul. Bahkan rambut gelombangnya sudah tidak beraturan. Berantakan seperti rambut singa.


"Velove hentikan!"


Rey yang semula diam, langsung berlari menuju Angle yang sedang di hakimi oleh istrinya sendiri.


"Berhenti!" bentak Rey demikian.


Satu tangannya mencengkram kuat tangan Velove yang semakin kuat. Tatapannya tidak berpaling pada wanita yang berada dibelakang suaminya.


"Lepas! Lepaskan tanganmu, wanita itu harus ku hajar."


"Velove hentikan! Jika tidak, aku tidak akan kembali lagi padamu."


Perkataan Rey, membuatnya diam. Sedetik tatapan kebencian ia hunuskan. Kecewa dengan apa yang dikatakan Rey, demikian.


"Jadi selama ini kamu tinggal di sini. Dengan wanita ini?"


Rey, masih diam. Dadanya mulai naik turun seolah sedang mengatur aliran nafasnya. Embusan nafasnya terdengar, hingga menerpa wajah Velove, yang ada di hadapannya.


Cengkraman tangannya langsung Velove hempaskan. Barisan giginya beradu, menahan kekesalan.


"Kamu bilang, kamu sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan dia, tapi nyatanya … kamu pembohong besar Rey! Pembohong!" teriaknya.


Rey, hanya mengerjapkan matanya bersamaan dengan hembusan nafas yang berat. "Maaf, Maaf."


Ketakutan itu kembali Velove rasakan, dulu Velove juga pernah membuntuti Rey seperti ini, dan yang terjadi Rey datang pada wanita lain.


Mungkinkah malam ini Velove akan melihat peristiwa yang sama? Entaj kenapa hati Velove semakin berkecamuk.


Velove menghentikan mobilnya, saat Rey masuk ke area apartemen. Velove tidak berhenti dan terus mengikuti hingga masuk ke dalam apartemen.


"Ngapain Rey bertemu Dika malam-malam? Apa mungkin … Rey pasti berbohong jika itu apartemen milik Dika ternyata itu apartemennya." Pikiran buruk pun terlintas dalam benak Velove.


"Aku masih ingat password yang Bian gunakan untuk membuka pintu," ucap Velove lalu mendekat ke depan pintu apartemen milik Rey.


Namun, angka yang dia tekan tidak berhasil membuka pintu. Velove yakin jika Rey sudah menggantinya.

__ADS_1


"Sial! Rey, sedang bersama siapa di dalam. Aku tidak akan pernah memaafkanmu Rey," ucap Velove dengan amarah.


__ADS_2