
"Ma! Dengarkan penjelasanku dulu." Willy, mulai bangkit dari duduknya berdiri menghadap sang ibu yang menatap tajam istrinya.
"Penjelasan! Penjelasan apa? Sudah jelas kalian menikah tanpa restuku."
"Mayang, tenanglah dulu. Dengarkan penjelasan putramu dulu." Nenek Rose mulai membuka suara. Satu telapak tangannya mendarat di pelipisnya. Matanya sedikit terpejam, kabar pernikahan ini sangat mengejutkan.
"Apa karena aku tidak merestui kalian. Jadi kalian menikah diam-diam!"
"Ma!"
"Apa! Apa perkataanku salah. Jika kalian menikah tanpa restuku untuk apa kalian datang hanya untuk memberikan kabar ini. Apa kamu ingin pamer? Karena telah mendapatkan putraku!" Mayang semakin emosi.
"Kamu lebih memilih wanita janda itu dibandingkan gadis yang Mama pilihkan!"
"Ma!"
Willy, semakin meninggikan suaranya. Untuk pertamakalinya ia bersitegang dengan sang ibu. Kini suasananya semakin memanas.
"Saya memang seorang janda tante. Apa salah jika saya janda?" tanya Dinda, dengan suara bergetar.
Jujur saja, kata-kata janda yang selalu direndahkan membuat hatinya sakit. Mayang masih saja mempermasalahkan statusnya.
Bolehkah dirinya marah? Hanya untuk membela diri sendiri. Tapi bagaimana tanggapan Mayang yang akan semakin buruk menilai dirinya.
"Apa bedanya seorang janda dengan seorang gadis tante? Kenapa tante begitu khawatir Willy, memilih hidup denganku."
"Jelas berbeda. Karena kamu punya masa lalu. Aku tidak ingin masa lalumu akan menjadi bayang-bayang putraku. Dan bisa menyakiti hati putraku suatu hari nanti."
"Apa seorang gadis tidak punya masa lalu tante?" Sedetik mata Mayang melirik pada Dinda.
"Semua orang punya masa lalu. Menikah dengan seorang gadis tidak akan menjamin kebahagiaan. Bagaimana jika masa lalu itu juga menjadi bayang-bayang putramu. Shila, aku ingin bertanya apa kamu punya kekasih? Atau mantan kekasih?"
"A-aku!" tunjuk Shila pada dirinya. Shila menjadi gugup saat semua orang memandangnya.
"Sudahlah jangan dibahas. Mantan kekasih dengan mantan suami itu berbeda." Sanggah Mayang, membuat bibir kaku Shila, seketika terhenti.
"Kamu yakin suamimu tidak akan mengganggumu? Aku tidak yakin, karena suatu saat suamimu akan kembali dengan alasan anak. Dan kalian akan selalu bertemu bagaimana perasaan Willy saat itu." Mayang kembali berkata.
Dinda tidak bisa menjawab. Karena memang kenyataannya mereka kini masih sering bertemu.
"Hm … tante sepertinya aku harus pergi. Aku akan mampir lagi lain kali. Permisi."
Mayang hanya diam saat Shila berlalu pergi. Niatnya ingin sekali memperkenalkan Shila pada Willy, dan berharap mereka menikah.
Namun tanpa di duga, kabar mengejutkan hadir. Willy datang dengan status berbeda. Menikah dengan wanita yang sangat ia tidak sukai.
Kini mereka semua diam. Dan kembali duduk pada sofa masing-masing. Suasana seketika menjadi hening.
"Willy coba jelaskan? Kenapa kamu tiba-tiba menikah secepat ini. Bahkan tidak mengabari kami sama sekali." Rose meminta penjelasan sejelas-jelasnya.
Willy mulai membuka suara. Yang menjelaskan bagaimana awal pernikahannya itu. Nenek Rose hanya mangut-mangut mendengar penjelasan dari cucunya itu. Tetapi tidak dengan Mayang, yang masih merasa kecewa.
"Ma, Nenek. Willy harap kalian mengerti. Pernikahan kami sangat mendadak dan tidak direncanakan. Tidak ada maksud untuk menyembunyikan semua ini."
Nenek Rose hanya menghela nafasnya panjang. Sedangkan Mayang tidak menanggapinya sama sekali.
__ADS_1
"Kita sudah dengar penjelasannya. Mereka tidak salah, dan Willy juga tidak salah. Tidak niat untuk membohongi kita."
"Lalu untuk apa kalian datang. Menikah sudah kalian lakukan. Apa istrimu mengharapkan sebuah pesta? Kalian ingin meminta restuku lalu aku akan mengadakan pesta pernikahan untuk putraku begitu! Jangan harap aku akan melakukan itu," ucap Mayang dengan sinis.
"Tidak tante, aku datang hanya untuk meminta restu. Dan memberitahukan pada kalian jika kami sudah menikah. Aku tidak mengharapkan sebuah pesta. Jika pun memang ingin aku tidak akan meminta, aku bisa membuat pesta sendiri."
Mayang hanya mendelikkan matanya.
"Mama jangan terlalu kasar. Berbicaralah dengan lembut Dinda adalah istriku Ma."
Mayang menatap nyalang pada Willy.
"Jika suatu saat kamu menyesal jangan salahkan Mama," ucapnya ketus. Lalu beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.
Dinda hanya menatap sendu kepergian Mayang. Sudah diduga, sikapnya akan seperti itu.
"Jangan diambil hati. Mayang memang begitu. Dia marah karena tidak menyaksikan pernikahan anak satu-satunya, itu saja," ucap Nenek Rose, saat Mayang sudah berlalu.
"Nenek juga sangat kecewa. Tapi semua sudah terjadi. Willy bawalah istrimu ke kamar, istirahatlah."
"Tidak usah Nek, Willy akan langsung pulang. Kami akan istirahat di rumah Dinda."
"Oh begitu. Tapi kalian belum makan apa pun. Tidurlah semalam, kita makan malam dulu."
Willy dan Dinda hanya saling pandang ketika mendengar ucapan Nenek Rose yang begitu berharap. Sedetik Dinda menganggukkan kepalanya agar Willy menerima tawaran neneknya.
"Baiklah Nek kami akan menginap."
Senyum sumringah terlihat jelas pada bibir Rose. Tanpa menunggu lama Rose langsung meminta Sumi si asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam yang mewah. Sebagai perayaan untuk menyambut menantunya.
"Bukankah besok kita harus pulang?"
"Aku tidak tega melihat nenek bersedih. Untuk Syena, biar nanti ku kabari ibu. Lagi pula besok aku ingin pergi ke perusahaan sebentar."
"Ya sudah kalau begitu. Mohon bersabar menghadapi sikap Mama." Dinda hanya mengangguk dengan senyuman.
"Aku ingin mandi, rasanya lelah sekali." Willy, melemparkan tubuhnya ke atas king sizenya. Tidur terlentang seraya memejamkan matanya.
"Mau mandi tapi kok, malah tidur."
Dinda menarik tangan Willy, namun malah tangannya yang tertarik. Hingga tubuhnya terjatuh pada dekapan suaminya itu. Bukannya melepaskan pelukannya, Willy semakin mempererat.
"Wil!"
"Sebentar saja."
"Aku belum kasih kabar pada Ibu."
"Nanti saja," ujar Willy yang enggan membuka mata dan melepaskan pelukannya. Dinda hanya pasrah dan tetap diam walau nafasnya terasa sesak karena Willy memeluknya erat.
"Tidak ada pesta, apa tidak ada honeymoon?"
"Maksudnya?"
Mereka kembali bercakap dengan posisi tubuh yang tidak berubah. Sedetik Willy mengerjapkan matanya, menurunkan bola matanya untuk menatap Dinda yang berada di bawah dadanya.
__ADS_1
Keningnya sedikit mengerut, membuat kedua alisnya mendekat.
"Apa kamu tidak ingin kita pergi bulan madu?" tanyanya yang hanya mendapat senyuman dari Dinda.
"Apa harus?" tanya Dinda, yang mendapat anggukkan dari Willy.
"Yang ada bukan honeymoon namanya tapi holiday. Kamu lupa aku punya Syena, yang ada kita malah mengajak Syena jalan-jalan."
"Kalau begitu lakukan saja sekarang."
"Sekarang! Bukankah kita ada acara dengan nenek. Memangnya kita mau pergi honeymoon kemana?"
Sedetik Willy melepaskan pelukannya. Mengajak Dinda untuk bangun lalu duduk di atas ranjangnya. Di tatapnya dengan lekat mata indah itu.
"Kita akan pergi kepulau yang sangat kecil. Hanya untuk kita berdua, air yang tenang, dan berbusa."
"Berbusa? Memang ada pulau seperti itu?" Dinda terlihat berpikir. Memikirkan pulau yang Willy katakan.
Sedetik tubuhnya merasa melayang, hingga tanpa sadar. Willy sudah membopong tubuhnya ke dalam kamar mandi. Yang memperlihatkan sebuah bathtub dengan air yang tenang tertutupi busa.
"Willy kenapa kamu membawaku ke sini?"
"Kan mau honeymoon."
"Honeymoon masa di kamar mandi. Cepat turunkan aku." Seketika gelak tawa Willy, terdengar.
"Ya ini sayang, pulau bathtub air yang berbusa ya hanya ada di dalam kamar mandi."
"Willy!"
Sedetik tubuhnya terjatuh di dalam bathtub yang penuh dengan air. Membuat sekujur tubuhnya basah. Hingga memperlihatkan lengkuk tubuhnya yang sangat jelas.
"Willy, bajuku jadi basah."
"Tidak apa-apa sayang kita akan mandi bersama," ucap Willy, yang sudah berdiri di atas tubuhnya. Kemejanya masih melekat dan setengah basah.
"Will."
"Jangan panggil aku Willy lagi."
Tatapan Willy semakin menggoda. Wajah keduanya semakin mendekat, hembusan nafas menerpa wajah mereka. Tidak peduli dengan air dingin dan baju yang basah.
Entah sejak kapan kedua benda kenyal sudah menyatu, saling membelit, dan saling mengecap.
"Panggil aku sayang," ucap Willy yang melepas pagutan bibirnya sedetik, lalu kembali menyatukannya lagi.
"Katakanlah, aku ingin mendengarnya," bisiknya.
"Sa-yang," lirih Dinda. Yang entah sejak kapan tubuhnya semakin turun kedalam air. Hingga menutupi lehernya.
Kini keduanya terbuai asmara. Air yang semula tenang kini berombak, hingga busa sabun di atasnya ikut bergoyang.
...----------------...
Adakah yang ingin pergi ke pulau Bathtub?
__ADS_1
🤭🤭🤭