Life After Married

Life After Married
Beban Berat


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Lea sudah berada di parkiran gedung dimana suaminya ditahan. Seperti biasa dengan penampilan wanita kantoran yang cantik dan terlihat seksi. Sepatu high heels itu membawa kaki jenjang Lea melangkah masuk ke dalam gedung.


"Bian..." teriak Lea saat melihat orang yang sangat dia rindukan.


"Sayang..." balas Bian seraya memeluk istrinya dan menghujani ciuman dipuncak kepalanya.


"Kapan pulangnya?" lirih Lea yang semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.


"Secepatnya saya," balas Bian seraya mengelus punggung Lea agar merasa tenang.


Lama mereka berpelukan untuk sedikit mengurangi rasa rindu yang menggebu. Tak menghiraukan para pengunjung lain yang ramai di ruangan tersebut. Seolah ruangan itu hanya milik berdua, maklum saja dengan dua orang bucin ini.


"Secepatnya itu kapan?" Lea mulai mengerucutkan bibirnya. Ah! jika saja saat itu mereka tidak di tempat umum. Pasti Bian sudah mencium gemas bibir Lea yang manyun itu.


"Jangan cemberut gitu lah sayang. Aku kan jadi gemas. Pengen..." Bian tak melanjutkan kata-katanya.


Dia pun langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Lea. Dan langsung berbisik, "Cium kamu."


"Genit. Orang lagi serius juga," balas Lea.


"Emang kamu gak pengen aku cium?" goda Bian sembari menangkup pipi Lea dengan kedua tangannya.


"Bian ini ditempat umum. Gak malu apa?" ketus Lea sembari menepis tangan Bian.


"Ya sudah deh," ucap Bian pura-pura marah.


"Jadi intinya kapan kamu akan bebas?" tanya Lea lagi.


"Jangan jawab secepatnya! Tentukan waktunya!" ujar Lea.


"Ya tidak bisa lah sayang untuk menentukan waktu tempatnya. Ini Pak Hendra dan tim sedang berusaha keras kok," jelas Bian.

__ADS_1


Lea merasa kesal dengan Bian dan Pak Hendra yang selalu memberikan jawaban "secepatnya". Sungguh membuat Lea kesal, pasalnya Lea butuh kepastian. Dilipatnya kedua tangannya didadanya, seraya berkata, "Dulu katanya satu sampai dua bulan masalah ini akan selesai."


"Ini sudah hampir dua bulan Bian. Tetapi belum ada tanda-tanda kamu akan bebas," gerutu Lea.


"Aku capek mengurus perusahaan kamu. Aku ingin mengembalikan perusahaan kamu. Aku pengen kembali kuliah," ucap Lea yang terdengar sendu.


Bian menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Tangannya memegang dua bahu Lea. Empat mata mereka saling bertemu. Begitulah kebiasaan keduanya untuk meyakinkan akan sesuatu.


"Sayang aku, cinta aku, istri aku. Dengarkan aku dulu ya," pinta Bian.


"Memecahkan suatu kasus bukanlah hal yang mudah. Apalagi mencari bukti-bukti yang akurat yang akan dibawa ke persidangan. Tim pengacara aku harus benar-benar teliti dan tidak boleh gegabah sayang. Sekali saja gegabah akan berdampak buruk," sambungnya.


"Percayalah tim pengacara aku juga sedang berusaha keras untuk menyelesaikan masalah ini kok. Kamu yang sabar ya sayang," Bian merangkul Lea.


Bian menoleh kearah Lea yang tampak kecewa mendengar bahwa suaminya masih belum juga bebas.


"Ta- tapi aku capek!" lirih Lea.


Memang selama Lea menjabat menjadi pemimpin di Armada Trans tanggung jawabnya semakin besar. Bayangkan saya menangani perusahaan yang memiliki banyak cabang, ribuan karyawan, ratusan rekan bisnis, dan pelanggan yang tak terhitung lagi. Pastinya dengan beragam masalah yang ada didalamnya.


Membayangkan saja terasa ngeri seorang wanita muda yang terbiasa hidup manja mengurus perusahaan sebesar. Apalagi Lea yang harus berhadapan dengan masalah-masalah itu setiap harinya. Selama hampir dua bulan ini Lea telah belajar menyelesaikan masalah perusahaan satu persatu.


"Aku capek!" ulangnya lagi sembari meremas tapak tangan Bian.


Lea pun menyandarkan kepalanya dibahu Bian. Rasanya sungguh senang sekali, akhirnya dia menemukan sandaran yang sangat nyaman. Dahulu bahu Bian menjadi tempat paling nyaman untuk mengeluarkan keluh kesah Lea. Namun, bahu itu telah hilang dua bulan terakhir ini. Dan akhirnya hari ini Lea merasakan bahu itu. "Sungguh nyaman" pikir Lea.


Dengan senang hati Bian menerima sandaran kepala Lea dibahunya. Sama halnya dengan Lea, Bian pun juga merindukan posisi tersebut. Sesekali dia mengelus kepala istrinya itu.


"Sayang... Bukannya kamu telah berhasil memulihkan perusahaan? Kata Pak Hendra kemarin kamu berhasil memimpin perusahaan dengan baik?" ucap Bian.


"Ya memang iya. Tapi kan mereka semua nggak tahu apa yang aku rasakan. Mereka melihat Lea dari luar, bahwa Lea bisa memimpin perusahaan. Tapi kan mereka semua tidak tahu apa yang Lea rasakan," ucap Lea dengan sendu.

__ADS_1


"Aku capek Bian! Capek!" tegas Lea.


Tak tega rasanya mendengar curhatan sedih dari orang yang amat sangat dicintainya. Namun bagaimana juga Bian tidak bisa berbuat apa-apa. Masih dalam posisi yang sama, namun kini lengan Bian merangkul Lea.


"Aku tahu beban ini cukup berat buat kami. Tapi maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Bian..


Nyatanya memang benar Bian menyadari bahwa memegang Armada Trans sendirian memang berat. Apalagi Lea yang sama sekali tidak mengetahui seluk beluk perusahan. Wajar saja dia mengeluh capek. Ini semua salah gue udah memaksa Lea, pikir Bian.


"Sayang... Maafkan aku telah melimpahkan tanggung jawab yang besar kepada kamu. Maafkan aku," ucap Bian.


"Mulai besok aku akan menyuruh Fahri untuk membantu pekerjaanmu agar lebih ringan. Beberapa pekerjaan akan aku limpahkan kepadanya," imbuhnya.


"Sekali lagi maafkan aku telah banyak merepotkan kamu. Dan terimakasih banyak kamu telah membantuku."


"Aku janji akan meminta pada Fahri untuk mengurangi beban pekerjaan kamu di perusahaan."


Lea terdiam mendengar penuturan suaminya yang merasa bersalah pada dirinya. Namun, tetep saja air mata itu menggenangi pipi mulusnya. Begitu Bian tahu hal itu, dia mengusap air mata Lea dengan kedua ibu jarinya.


"Jangan nangis lagi sayang. Kamu perempuan hebat yang pernah ada dihidup aku. Terimakasih banyak," Bian mengecup punggung tangan Lea.


"Maafkan aku sayang. Belum menjadi suami yang baik untuk kamu," imbuhnya.


"Seharusnya saat ini kita sedang bahagia berbulan madu. Eh tetapi kenyataan berkehendak lain. Maafkan aku."


Kini suara Bian yang terdengar sangat sendu. Memikirkan kenyataan yang berbanding terbalik dengan impiannya dulu. Awal mula Bian mengajak Lea cepat-cepat melakukan pernikahan adalah karena Bian ingin membahagiakan Lea. Selain itu Bian ingin melindungi Lea setelah dia ditinggal ayahnya meninggal dunia.


Keadaan itu seakan dibalikkan dengan mudah. Bahkan belum sempat Bian memberikan satu kebahagiaan saja setelah Lea resmi menjadi istrinya. Justru Bian memberikan banyak luka dan tanggungjawab kepada sang istri. Sungguh tidak pernah Bian pikirkan bahwa jalan hidupnya akan seperti ini.


"Kamu juga jangan sedih," ucap Lea yang sudah mulai tersenyum.


"Kalau kamu nggak sedih aku juga nggak sedih sayang," ucap Bian seraya mengacak rambut Lea.

__ADS_1


Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan. Atas semua janji yang belum sempat terlaksanakan.


__ADS_2