
"Udah selesai Yeay!" Lea berteriak dengan mengangkat dua tangannya keatas layaknya anak kecil.
"Lepasin dong sayang," pinta Lea karena merasa pergerakannya kurang bebas. Saat itu Bian masih memeluknya dari belakang.
"Gak mau lepas," rengek Bian.
"Sesak tau," Lea berdecak kesal.
"Biarin," balas Bian dengan posisi tak berubah sedikitpun.
"Mau kamu apa sih," Lea meronta berusaha melepaskan tangan Bian yang melingkar ditubuhnya.
"Kami tanya mau aku?" bisik Bian dengan nakal.
"Serius kamu tanya mau aku apa?" ulang Bian lagi.
Lea terdiam dan hanya memainkan matanya melirik ke arah Bian. Pikirannya sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya. Sampai akhirnya Lea masakan tubuhnya terangkat. Ya, Bian menggendong Lea ala bridal. Sebentar dia berjalan memutar secara perlahan (bayangin saya kaya di film-film).
Muah.
Tanpa aba-aba Bian mengecup bibir Lea dengan lembut. Lea pun membalas ciuman dari sang suami. Masih dalam adegan ala bridal itu, Bian berjalan pelan dan menidurkan Lea di atas ranjang.
"Sayang ja ... ngan," ucapan Lea terputus-putus.
__ADS_1
"Sa ... yang," imbuhnya.
Bian menutup mulut Lea agar tidak melanjutkan ucapannya dengan terus menghujani ciuman yang awalnya lembut, namun lama kelamaan menjadi beringas. Sedangkan tangannya sudah bergerilya melepaskan satu persatu kancing baju tidur yang dikenakan oleh Lea.
Diciumnya semua bagian tubuh Lea yang telah polos itu. Hingga menyisakan tanda kemerahan pada setiap bagiannya. Seiring bergulirnya waktu, aksi Bian semakin panas setelah membuka pakaiannya sendiri.
Dan malam yang dingin itu menjadi malam penuh keringat bagi dua orang yang sedang memadu cinta itu. Desahan demi desahan keluar dari mulut Lea. Bian pun bahagia, baginya itulah nada yang indah untuk dirinya.
Tepat pukul 00.00 WIB pergulatan keduanya telah berakhir. Entah berapa jam lamanya kegiatan itu berlangsung. Tidak ada yang peduli, yang penting keduanya sudah menyalurkan hasratnya masing-masing.
Keringat masih bercucuran dari badan dua orang itu. Di dalam selimut yang sama keduanya terdiam menatap langit-langit kamar. Istirahat dan mengatur napas yang masih terengah-engah.
"Sayang aku tadi mau bicara sama kamu," Lea membuka suara.
"Sini bicaralah sama aku sayang," Bian mendekatkan dirinya dengan Lea. Kini posisi Lea tepat dibawah ketiak Bian.
"Sebenernya tadi aku mau minta pendapat sama kamu sayang," lirih Lea.
"Tentang?" Bian mengernyit penasaran.
"Tentang KB," ucap Lea semakin lirih. Jujur saja dia takut dia suaminya itu marah ketika membahas hal itu.
"KB?" Bian tampak bingung.
"Iya KB sayang. Keluarga Berencana," tukas Lea.
__ADS_1
"Aku mau minta pendapat kamu. Bagaimana kalau aku menjalankan KB dulu untuk sementara waktu ini," Lea langsung menjelaskan maksud dan tujuannya sebelum kata-katanya dipotong oleh Bian.
"Aku kan sibuk banget ini sama skripsi, banyak tugas kuliah juga belum lagi turun ke lapangan buat cari data. Takutnya kalau aku hamil sekarang, nanti kehamilan aku terganggu karena aku terlalu aktif," imbuhnya.
"Sedangkan kamu maunya "main' terus, aku kan takut kalau tiba-tiba hamil dalam waktu dekat ini. Sementara urusan dan tanggung jawab aku masih banyak."
"Terus aku juga belum benar-benar siap sayang. Aku masih takut melahirkan."
Bian menyimak secara detail apa yang disampaikan oleh sang istri. Namun dia tampak terdiam tidak memberi tanggapan. Cukup lama dia terdiam dan mungkin sedang kalut dalam pikirannya. Mengetahui suaminya diam dan tidak merespon sedikit pun. Membuat Lea ketakutan dengan apa jawaban Bian atas keinginannya.
"Sayang kamu marah?" tanya Lea menoleh keatas menara wajah sang suami.
"Yah ... ya sudah deh. Aku tidak jadi KB saja," sambungnya.
"Kamu jangan marah ya sayang, aku hanya bercanda saja kok. Lagian tadi kan aku cuma bilang mau minta pendapat belum memutusakan."
"Sudah ya jangan marah, oke ... oke ... aku gak apa-apa hamil secepatnya," ucapnya sambil cengengesan untuk menutupi rasa takutnya.
Lagi-lagi Bian masih diam tanpa ekspresi. Hal itu semakin membuat Lea merasa bersalah sekaligus salah tingkah. Langsung saja ide mesum keluar dari kelapa Lea. Lea pun beranjak mencium bibir Bian dengan tujuan agar suaminya tidak marah.
"Udah ya jangan marah. Maafkan aku sayang jika kata-kata aku menyinggung kamu," ucapnya setelah melepas ciuman tak berbalas itu.
"Kenapa dia tetap diam dan tak membalas ciumanku?" batin Lea.
"Jangan marah ya, please," pungkasnya.
__ADS_1