
Dimalam hari kegaduhan terjadi di dalam rumah yang sederhana itu. Bukan karena adanya pertengkaran suami istri atau perkelahian. Melainkan karena panasnya udara tanpa adanya AC di dalam kamar.
Di dalam kamar berukuran 3×2 seorang wanita berguling-guling diatas ranjangnya. Entah apa yang sedang di rasakannya sehingga menciptakan suara decitan yang cukup keras, membuat ranjang kayu itu hampir saja copot.
Setelah puas berguling-guling tubuh wanita itu pun bangun sambil berteriak. Entah apa yang yang terjadi, peluh keringat membasahi seluruh wajahnya.
Aaaaakhhh!
Rita menjerit, hingga nafasnya terengah-engah. Jeritan itu sampai terdengar ke kamar sebelah. Membangunkan sepasang suami istri yang baru saja berjalan di alam mimpinya.
"Suara apa itu?" lirih Velove, yang setengah sadar. Sambil mengucek matanya.
Rey, yang tidur di sampingnya pun ikut tersadar lalu bangun dan duduk.
"Ibumu kenapa lagi sih!" rutuk Rey, yang kesal. Karena tidurnya terganggu.
Bagaimana tidak terganggu, hampir setiap menit sang ibu mertua terus saja menjerit.
Velove dan Rey pun turun dari ranjang, berjalan keluar kamar.
Di lihatnya Rita sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Satu tangannya memegang kipas yang di kibas-kibaskan ke arah wajahnya.
Bibir monyong tiga senti, tidak berhenti menggerutu. Karena kamar yang tanpa AC membuat tubuhnya kegerahan dan tidak bisa tidur.
"Mama! Ada apa sih. Belum tidur? Ini sudah malam Ma."
"Tidur! Tidur! kamu pikir Mama bisa tidur di tempat seperti ini hah! Sudah sempit, panas gak ada AC-Nya lagi."
Rey, membuang nafasnya kasar. "Dasar kuno!" Itu pikirnya, padahal rumahnya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu kumuh. Hanya saja rumahnya tidak sebesar rumah yang dulu saat tinggal bersama mertuanya.
"Jika di dalam kamar gerah, Mama bisa tidur diluar!" skak Rey, yang berlalu masuk kedalam kamar.
Rita membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan menantunya itu.
"Iya Mama tidur di luar saja kalau gitu. Aku ngantuk mau lanjut tidur lagi," lirih Velove yang berlalu masuk kedalam kamar.
"Pokoknya besok harus pasang AC. Mama tidak mau tahu!" cecar Rita, yang langsung kembali masuk kedalam kamarnya karena tidak mungkin juga dia tidur diluar. Bisa mati digigit nyamuk nanti.
*****
Terangnya bulan perlahan meredup. Bersamaan dengan gelapnya langit yang berganti terang.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa pagi sudah menyingsing. Suara ayam berkokok memenuhi isi bumi, hingga muncullah benda terang dengan cahayanya yang orange memanasi alam dunia.
Velove dan Rey, sudah terbangun bahkan mereka berdua sudah selesai mandi dan berdandan untuk dirinya.
Namun berbeda dengan Rita, yang masih terlelap di atas ranjangnya.
Kemanakah jiwanya semalam. Yang menggerutu karena tidak dapat tidur hanya sebuah AC. Tapi sekarang tidurnya sangat lelap, hingga tidak mendengar suara kokok kan ayam.
__ADS_1
"Kemana ibumu?" tanya Rey, yang keluar kamar tidak melihat sosok wanita yang paling bawel semalam.
"Tidak tahu," jawab Velove datar.
"Sudahlah biarkan saja, sekarang kamu buatkan aku sarapan." Perintah Rey pada istrinya.
"Sarapan!" Velove tercengang.
"Iya sarapan. Apa lagi?" tatap Rey tajam.
"Memangnya kita sudah belanja kebutuhan sehari-hari? Kemarin kita langsung pindah dan langsung tidur. Mana ada waktu ke supermarket."
Rey, mendengus kesal. Satu tangannya merogoh saku celananya. Di ambilnya uang 200 ribu lalu diberikannya pada Velove.
"Nih, belanjakan uang ini. Beli kebutuhan untuk di dapur. Aku akan sarapan di kantor saja."
"200 ribu! Memang cukup?" tanya Velove yang terus menerawang uang itu.
"Ya, kamu atur saja."
"Ini sih cuma cukup beli ayam doang."
"Belanja di pasar jangan di supermarket. Ayam sekilo masih ada kembalian. Jangan lupa beli kopi, teh, dan yang lainnya."
"Aduh Rey."
"Apa! Jangan ngeluh. Atur-atur saja itu. Dinda juga gak pernah ngeluh saat aku kasih uang seadanya. Belajar hemat jangan boros."
"Jangan samakan aku sama Dinda, itu beda."
"Beda apanya? Kalian sama-sama wanita."
Velove berdecak kesal
"Sudah-sudah. Kalau berdebat terus kapan kerjanya. Aku pergi dulu, jangan lupa bersihkan rumah." Rey, berlalu pergi meninggalkan Velove yang diam mematung menatap dua lembar uang seratus ribuaan.
"Ikhh! Kenapa hidupku seperti ini sih! Rey, jadi perhitungan. Waktu pacaran gak kaya gitu. Sekarang pelitnya!" umpat Velove dengan mulut yang moncong. Lalu berjalan memasuki kamar Rita.
"Mama! Bangun. Enak-enak 'kan tidur, ayo cepat bantu aku bersihkan rumah." Dengan kerasnya Velove berteriak, membangunkan Rita yang masih saja bergulat dengan selimutnya.
Berbeda dengan Velove dan Rey, yang suasana paginya harus sibuk dengan perdebatan hanya karena masalah sarapan pagi.
Di tempat lain Dinda dan Asih, malah dibuat kaget dengan perlakuan semua orang ditempat barunya.
Tanpa harus memasak dan capek-capek membuang tenaga, semua hidangan sudah siap di atas meja.
"Silahkan Nyonya, Tuan," ucap seorang pelayan. Dinda dan Asih hanya saling pandang.
"Terima kasih Bi," ucap Willy pada pelayan itu. Karena sang empu rumah hanya terdiam.
__ADS_1
"Wah, makanannya banyak. Aku mau susu!" teriak Syena, yang langsung di sodorkan segelas susu oleh pelayan tadi.
Senyum Syena mengembang, tanpa banyak drama dan tangisan susunya siap diminum. Jika dirumah sebelumnya Syena, kadang harus menangis dulu kala meminta susu. Bahkan Dinda harus mengemis-ngemis dulu pada orang lain hanya untuk membeli susu.
"Kenapa kalian diam ayo di makanlah." Titah Willy pada Dinda yang masih duduk termangu.
Bagi Willy ini hal biasa, karena dirumah ibunya Willy pun hanya siap makan semua hidangan sudah tersedia. Melihat Willy dan Syena sudah mulai menyantap makanannya. Dinda dan Asih pun mengikutinya.
"Rumah ini terlalu luas ya. Dan banyak sekali perbedaannya," ucap Asih.
"Tinggal kita membiasakan diri Bu." Asih hanya tersenyum menanggapi perkataan Dinda.
*****
"Mama! Bangun." Rita masih saja enggan membuka matanya.
"Apa sih! Kamu ganggu Mama tidur saja." Kata Rita sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Katanya gak bisa tidur. Tapi kaya kebo," cibir Velove yang langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Rita.
"Abis Mama ngantuk. Masa harus melotot saja."
"Sudah ah Ma, sekarang bantu beres-beres."
"Beres-beres rumah! Suruh saja sana pembantu."
"Gak ada pembantu-pembantu. Ayo cepat." Velove langsung menarik tangan Rita untuk turun dari ranjangnya.
"Miskin amat sih suamimu. Bilangin sama Rey, nanti cari pembantu." Rita terus menggerutu. Walau pun akhirnya dia terpaksa membersihkan rumah itu dengan Velove.
"Oh tuhan lelah sekali." Rita berkata seraya mengusap peluh keringat pada keningnya. Kini mata Rita melihat ke arah meja makan yang sama sekali tidak ada makanan.
"Velove mana sarapannya?"
"Belum buat. Aku lelah Ma," ujar Velove yang terbaring di atas kursi. "Lagian gak ada yang mau dimasak. Kita belum belanja apa pun. Dan Rey, hanya kasih uang aku 200 ribu buat keperluan dapur," lanjutnya.
"200 ribu! pelit amat suamimu."
"Entahlah aku bingung mau beli apa dengan uang itu," ucap Velove dengan lemah. Sedetik tubuhnya tercekat lalu bangun dari tidurnya. "Mama! Bukankah Mama punya uang pemberian Danu?"
"Ah iya. Mama lupa."
"Kalau begitu belanjakan saja uangnya."
"Iya-iya. Nanti kita pergi belanja. Sekarang pesan makanan saja pakai uangmu itu Mama lapar."
"Hm …" gumam Velove yang langsung memesan makanan via online lewat ponselnya.
Bukannya menghemat Velove malah menghabiskan uang 200 ribu untuk sarapan paginya bersama Rita. Mereka sudah terbiasa hidup mewah, uang 200 ribu hanyalah untuk sarapannya saja.
__ADS_1
...----------------...
Maaf kemarin banyak typo 🤭 makasih lo yang udah koreksi udah langsung author revisi tuh. Jangan lupa like dan komentarnya ya 🙏🤗