
Seminggu sudah Bian menjalani kehidupannya kembali menjadi bos Armada Trans. Dia mulai bekerja keras untuk memulihkan perusahaannya seratus persen. Dari perusahaan yang hampir bangkrut, kemudian diselamatkan oleh Lea dan kini berada dibawah tangannya lagi.
"Perusahaan menuju perkembangan yang terbilang cukup baik tuan," ucap Fahri.
"Jelas saja karena gue sudah kembali," Bian menyombongkan dirinya.
"Iya saya percaya. Anda memang orang yang hebat dan tidak akan terkalahkan," ucap Fahri.
"Tentu saja."
Tangan Bian sibuk menandatangani tumpukan berkas itu. Begitulah kesibukannya setiap hari berhadapan dengan laporan dan berkas yang harus ditandatangani. Setelah menyelesaikan pekerjaan itu, Bian kembali melanjutkan obrolannya dengan Fahri.
"Lalu bagaimana perkembangan kasus Tommy?" Bian memulai obrolan mereka kembali.
"Terakhir info yang saya dapatkan dari Pak Hendra bahwa Tommy Vernandes sudah ditangkap oleh pihak yang berwajib," ujar Fahri.
"Minggu depan akan dilakukan sidang akhir untuknya," imbuhnya.
Mendengar penuturan sekertarisnya, senyum Bian merekah sempurna. Akhirnya salah satu musuh dibalik selimutnya berhasil dijebloskan ke dalam jeruji besi. Bukannya tidak tahu perbuatan Tommy dibelakangnya. Namun, Bian sengaja pura-pura tidak tahu dan membiarkan semuanya.
__ADS_1
Hal itu dia lakukan karena keluarganya yang terlalu dekat dengan Keluarga Vernandes. Bian sengaja membiarkan perbuatan Keluarga Vernandes agar terungkap secara sendiri. Dan keluarganya tahu kebusukan dibalik kebaikan Keluarga Vernandes.
"Bagaimana respon mami melihat semua kejadian ini ya?" batin Bian.
Sekarang semua sudah terungkap di ranah publik. Semua orang sudah tentang pengkhianatan yang dilakukan Tommy Vernandes yang menjadikan dirinya sendiri masuk ke dalam penjara.
"Rasakan senjata makan tuan," batinnya lagi.
Bian yang telah bebas dari dugaan korupsi merasa sangat lega. Posisinya telah resmi digantikan oleh rekan kerja sekaligus sekaligus kerabat dekatnya.
"Pastikan Tommy Vernandes tidak bisa mengelak atas dugaan yang telah melekat pada dirinya," perintah Bian.
"Siap akan saya sampaikan kepada Pak Hendra dan tim pengacara," ujar Fahri.
"Lalu apakah kita harus melakukan pembalasan terhadap perusahaanya tuan?" tanya Fahri disela-sela kegiatannya.
Bian tampak diam dan berpikir tentang pertanyaan Fahri barusan. "Aku rasa tidak perlu balas dendam. Karena sudah dipastikan dia akan jera dengan kejadian ini," ujar Bian.
"Baiklah tuan kalau begitu," balas Fahri.
__ADS_1
Tidak ada rasa dendam untuk membalas perbuatan Tommy Vernandes. Dengan masuk ke penjara dengan ancaman sepuluh tahun penjara saja sudah membuat perusahaan gulung tikar. Jadi untuk apa balas dendam kepada perusahaan yang sudah dipastikan bangkrut, pikirnya.
"Lalu bagaimana dengan Nona Gigi yang juga menjadi dalang kasus tersebut tuan?" Fahri kembali bertanya.
"Biarkan saja perempuan liar itu bebas. Yang penting jangan sampai dia masuk dan mengusik perusahaan gue lagi," jawab Bian.
"Putuskan semua kerjasama yang berhubungan dengannya. blacklist namanya dari perusahaan ini," perintahnya dengan sorot mata tajam.
Fahri manggut-manggut menerima perintah dari bosnya. Kini semua berkas sudah dia tata dengan rapi dan bersiap meninggalkan ruangan itu. "Memang anda sangat hebat dan tidak bisa ditaklukkan," puji Fahri.
"Jelas saja tidak ada yang bisa menaklukkan Sabian Bagas Utomo," jawabnya dengan bangga.
"Ada kok tuan," ucapan Fahri terjeda.
"Yang bisa menaklukkan anda, tuan," imbuhnya.
"Siapa?" tanya Bian dengan wajah serius sekaligus bingung.
"Nona Lea," sahutnya dengan cepat. Kemudian bersiap untuk lari meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Bian juga segera bangkit untuk menoyor kepala Fahri. Namun, Fahri segera menjauh dari Bian. "Memang benar, Nona Lea bisa menaklukkan anda tuan," teriaknya saat hampir membuka pintu ruangan.
"Dasar bucin!" imbuhnya.