
Malam indah yang di lalui Dinda, bahagia, hangat, dan tentram. Bahkan bulan dan bintang pun tidak pernah berhenti menyinari malamnya.
Begitu pun di pagi ini, matahari mulai menampakkan wujudnya. Menggantikan bulan yang sudah berjaga semalaman.
Bunga daisy terlihat mekar, rumput-rumput hijau mulai berembun membasahi taman.
Suara seruan mulai terdengar. Sang penghuni rumah sudah terbangun menyambut paginya.
Seperti biasa Asih, akan selalu menyiapkan sarapan paginya. Sedangkan Dinda selalu mendapat bagian memandikan Syena.
Namun, ada yang berbeda di pagi ini. Rumah yang luas berbeda dengan rumah sebelumnya.
"Dinda! Syena! ayo sarapan dulu." Teriak Asih, di tengah meja makan sambil menata makanan serapi mungkin.
Sedangkan di atas sana. Dinda masih sibuk memakaikan pakaian untuk Syena. Menata rambutnya secantik mungkin.
Walaupun masih bisa dilakukan oleh Asih, tetapi Dinda selalu ingin melakukannya sendiri. Bagi Dinda seorang ibu tetap lah seorang ibu, sesibuk apa pun dirinya tetap harus ada waktu untuk putrinya.
Karena Dinda tidak ingin pekerjaan dan kariernya menghalangi hubungan nya dengan Syena. Menjadi wanita karir namun tetap berperan sebagai seorang ibu.
"Anak Mama sudah cantik. Ayo kita ke bawah. Oma sudah menunggu."
"Oke Mama."
"Uuhh … gemes nya." Dinda mencubit gemas pipi Syena.
Bocah kecil itu hanya tertawa renyah. Kaki kecilnya mulai turun menapaki lantai kramik. Tangan mungilnya meraih tangan sang ibu untuk segera berjalan keluar dari kamar.
Kaki jenjang keduanya mengayun melangkah keluar. Bibir mungil itu tidak henti-hentinya terus berkicau.
"Mama, kita jalan-jalan naik mobil?" tanya Syena, dengan bibir yang moncong sungguh menggemaskan.
"Nanti ya sayang. Sekarang Mama harus kerja dulu. Syena di sini dulu ya sama Oma."
Bibir mungil itu langsung mengerucut. Syena berpikir jika pakaiannya sudah rapi sang ibu akan mengajaknya jalan-jalan.
Merasa perubahan sikap dari Syena, Dinda segera menghentikan langkahnya. Berjongkok menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Syena.
Tugas seorang ibu harus bisa mengajak sang anak berbicara dari hati ke hati. Menghilangkan tanggapan anak yang berpikir jika ibunya tidak peduli, tidak sayang, itu lah yang seorang anak pikirkan ketika ibunya tidak ada waktu untuknya.
"Syena sayang jangan cemberut gitu dong senyum." Ucap Dinda yang mencebikkan bibirnya.
"Jelek lo kalau cemberut gini." Dinda memainkan bibir Syena yang cemberut berniat untuk menghiburnya. Tetapi Syena, tidak terpengaruh sedikit pun.
"Mama jahat! aku mau jalan-jalan Mama."
"Syena!"
Jika di pikir sangat mudah, namun kenyataan nya sangat sulit membujuk anak kecil seperti Syena. Dinda hanya bisa menghela nafasnya saat Syena berlari meninggalkan nya.
Tubuhnya kembali berdiri dan hendak melangkah namun, deringan ponsel menghentikan langkahnya. Dinda membuka tas miliknya mengambil satu benda pipih yang tipis dan datar.
Di lihatnya nama yang tertera pada layar ponselnya. Membuat bibirnya melengkung seketika.
"Pagi Dinda."
"Pagi juga Willy."
__ADS_1
Jika di dengar pembicaraan mereka cukup canggung tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya. Hanya sebatas kata hai, halo, untuk menyapa. Apa karena mereka bukan anak remaja yang bucinnya kebangetan.
"Bagaimana pagi pertamamu di sana?" tanya Willy di ujung sana.
"Beginilah, tidak ada yang berubah."
"Memangnya perubahan apa yang kamu inginkan hm …"
"Willy!" Pekik Dinda yang memutar bola matanya malas seakan tahu maksud Willy ingin menggodanya.
"Syena sedang marah pada ku." Ujar Dinda sambil melangkah menuruni tangga.
"Marah kenapa?"
"Syena ingin pergi jalan-jalan bersama mobil barunya. Tapi aku harus bekerja dan Syena tidak mengerti." Keluh Dinda. Saat sudah sampai di meja makan Dinda hendak mendaratkan bokongnya namun saat melihat Syena tidak mau di suapi membuat Dinda, lemas.
Sejenak benda pipih itu ia turunkan ke bawah dadanya. Hanya untuk mengingatkan Syena.
"Syena, buka mulutnya. Kasihan Oma sudah capek-capek masak tapi tidak di makan." Bibir mungil itu langsung cemberut saat Dinda memarahinya.
"Sudah-sudah biar Mama saja." Asih menenangkan.
Dinda kembali mendekatkan benda pipih itu pada telinganya. Satu tangannya menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya.
"Ada apa dengan Syena?" tanya Willy di ujung sana.
"Dia tidak mau makan. Biasa lah ngambek."
"Berikan ponselnya padanya. Biar aku bicara."
"Mau bicara apa?"
"Tapi kamu gak akan bilang macam-macam kan!"
"Tidak akan," jawab Willy.
Dinda segera memberikan ponselnya pada Syena. Memberitahukan siapa yang ingin berbicara dengan nya. Tanpa di duga Syena begitu antusias. Wajah nya berseri semangatnya kembali.
"Syena Om pengacara mau ngomong."
"Om pengacara telepon? Mana-mana."
Tangan mungil itu segera mengambil benda pipih pada tangan Dinda. Segera di dekatkan benda itu pada telinganya walaupun ukuran ponselnya lebih besar dari telinganya.
"Om pengacala!"
"Halo Syena, kata Mama kamu sedang sarapan ya?"
"Iya Om," jawab Syena gemas.
"Tapi di makan gak? Mama bilang Syena gak mau makan kenapa?" Dengan lembutnya Willy berkata.
"Abis mama bohong. Kemarin mau ngajak jalan-jalan tapi malah kerja." Ekpresi wajah Syena kembali cemberut.
"Syena mau jalan-jalan? Mau gak Om pengacara temenin."
"Mau!" pekik Syena membuat Dinda terlonjak kaget.
__ADS_1
"Tapi janji makan dulu nanti Om jemput dan kita jalan-jalan."
"Tapi Om gak bohong 'kan!"
"Tidak, sebentar lagi Om sampai nih."
"Benarkah! Syena makan dulu ya Om."
"Pintar," ujar Willy di ujung sana.
"Asyik! Mau jalan-jalan sama Om pengacara." Teriak Syena penuh semangat lalu melanjutkan makannya dengan sendiri.
Asih dan Dinda merasa heran juga penasaran apa yang di katakan Willy padanya.
Dinda melihat ponselnya yang ternyata masih terhubung. Lalu benda pipih itu di dekat kan pada daun telinganya lagi.
"Willy apa yang kamu katakan! Syena bilang kalian akan pergi jalan-jalan apa itu benar?"
"Ya."
"Tidak mungkin. Kamu bercanda ya! Kamu di jakarta bagaimana bisa ngajak Syena jalan. Jangan bohongi Syena nanti marah."
"Siapa bilang yang bohong. Aku beneran dan sebentar lagi sampai."
Dinda membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang Willy katakan. Secepat itu dari jakarta ke surabaya.
"Kamu serius! Gak bohong kan."
"Ngapain aku bohong. Aku dapat klien dari kota surabaya untuk beberapa hari aku akan tinggal di surabaya untuk pekerjaan ini"
"Jadi karena pekerjaan bukan karena Syena atau aku." Dinda merasa kecewa karena alasan Willy datang semata-mata karena pekerjaan nya bukan karena ingin menemuinya.
"Apa baru saja kamu cemburu?"
"Tidak! Kenapa aku cemburu," elak Dinda. Dalam hati mungkin iya.
"Kamu ingin aku tinggal lama di surabaya. Berarti aku harus jadi suami mu dulu dong. Apa kamu yakin ingin cepat-cepat nikah? Aku sih tidak masalah biar kita sama-sama terus kan."
"Willy! Sudah ah, aku tutup teleponnya menggoda mulu."
"Lo kok ngambek sayang!"
Deg!!
Untuk pertama kalinya Willy memanggil namanya dengan panggilan sayang. Membuat jantung nya kini tidak baik-baik saja. Sontak sambungan telepon itu langsung di tutupnya.
Satu tangannya di biarkan menyentuh dadanya. Merasakan detak jantung yang terpacu lebih cepat.
Di sisi lain Willy tersenyum simpul. Saat Dinda mematikan sambungan teleponnya. Willy tidak menyadari dirinya akan mengatakan itu.
Sayang, kata yang tersulit di ucapkan namun membuat hati berbunga-bunga.
Segera Willy melajukan mobilnya menuju tempat yang di tuju.
...----------------...
Ada yang berbunga-bunga nih. Hehe
__ADS_1
Kasih lah bunga buat author satu pun tak apa hehe. Jangan lupa like, komentar, vote, dan bintang 5 nya oke! 🥰