Life After Married

Life After Married
Bab 125- Memberi Restu


__ADS_3

Memberi Restu


Wajah Mayang berseri-seri bagaimana tidak, hari ini adalah keberuntungannya. Sudah mendapatkan berlian, dirinya juga mendapatkan pujian.


Banyak yang tidak diketahuinya tentang Dinda. Saat teman-temannya mencari informasi tentang Sanjaya Grup dirinya pun tidak tertinggal dan mencari tahu. Ternyata Sanjaya Grup adalah perusahaan yang besar dan terkenal. Di tambah dengan perusahaan Snack Foodnya yang ada di kotanya ini.


Sikap Dinda juga tidak terlalu buruk. Ramah, sopan, penyayang, juga pintar. Pantas saja putranya begitu menyukainya.


Soal anak tidak masalah, karena sudah waktunya juga untuk menimang cucu.


"Kenapa ketawa-ketawa?" tanya Rose, saat turun dari kamarnya melihat sang anak tersenyum sendiri.


"Mah kemarilah." Dengan penuh semangat Mayang menarik lengan Rose untuk duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Rose, setelah duduk di atas kursi.


"Mama tahu Dinda menantu kita?"


"Tahu."


"Maksudku dia adalah pengusaha besar. Aku tidak menyangka, ternyata Dinda seorang janda namun kaya. Awalnya teman-temanku mencibir tapi saat mereka tahu siapa menantuku tidak ada lagi yang berani mencibirku."


"Jadi maksudmu sekarang kamu merestui hubungan mereka setelah tahu Dinda kaya?"


"Bukan begitu Ma."


"Kalau seandainya Dinda, bukan seorang pengusaha apa kamu akan merestuinya?" Mayang hanya diam saat mendapatkan perkataan itu dari ibunya.


Satu tangan Rose terangkat, dibiarkan menyentuh bahu Mayang. Lalu berkata, "Ingat! Jangan pernah peduli dengan ucapan orang lain. Belum tentu yang mereka katakan buruk itu semua sama. Orang itu berbeda-beda. Yang harus pintar itu kita, bagaimana cara menilai orang lain. Jangan hanya menilai orang dari luarnya saja. Belum tentu menurut mereka buruk, buruk juga bagi kita. Seperti sekarang, mereka berpandangan jelek hanya karena statusnya tapi nyatanya Dinda tidak sejelek itu. Ada kebanggaan dibalik semua itu. Paham!"


"Iya Ma."


Mayang hanya diam tidak bisa berkutik.


*****


Malam sudah tiba. Semua penghuni rumah berkumpul termasuk Dinda dan Willy yang juga sudah berada di rumahnya.


Mungkin inilah malam terakhir bagi Dinda dan Willy untuk tinggal di rumah neneknya. Karena besok mereka akan kembali ke jakarta melakukan pekerjaannya lagi. Dan sepertinya Dinda hanya akan fokus pada perusahaannya di jakarta.


Untuk di surabaya mungkin akan mempercayakannya pada Siska.


"Ma, Nek, besok kami akan pulang," ujar Willy, memecah keheningan di meja makan. Sontak Mayang dan Rose dibuat diam. Bahkan sendok dan garpu pun ikut diam.

__ADS_1


"Kenapa cepat sekali?" tanya Rose yang merasa waktu terlalu cepat.


"Kasihan Syena, sudah lama ditinggal Ma. Mungkin tiap bulan kami akan berkunjung. Lagi pula aku harus kembali bekerja," ujar Willy.


"Apa hanya ini usaha kalian?" ujar Mayang membuka suara.


"Maksud Mama?"


"Kalian tidak berusaha untuk mendapatkan restuku?"


Dinda dan Willy saling pandang. Sedetik bibir Dinda melengkung menciptakan senyuman.


"Kami tidak akan memaksa, tidak juga berhenti untuk mendapatkan restu. Bukan tidak ingin kami tinggal di sini lebih lama, namun pekerjaan kami sudah menunggu. Dinda akan kembali untuk mendapatkan restu dari Mama. Tidak akan pernah lelah untuk itu. Dan Dinda harap, saat kembali nanti pintu hati Mama sudah terbuka, menyambut kedatangan Dinda sebagai menantu Mama."


Begitu tenang perkataannya. Rose dan Willy begitu tersentuh. Lembutnya hati Dinda selembut ucapannya.


Namun, Mayang masih saja memasang wajah juteknya. Entah apa yang terjadi. Saat pulang arisan saja wajahnya berseri-seri karena memiliki menantu seperti Dinda, namun saat ini … mungkin rasa gengsi menutupi hatinya.


"Setidaknya kamu membawaku bertemu dengan ibumu. Jangan mempermalukan ku, hanya karena tidak menghadiri pernikahan kalian dan sekarang tidak ada pertemuan sama sekali antara aku dan ibumu. Apa yang dipikirkan ibumu nanti. Aku tidak ingin di pandang jelek oleh besanku."


Willy dan Dinda tercengang. Tidak mengerti atau memang sudah mengerti namun bingung.


"Apa Mama baru saja merestui kami?" tanya Willy, yang tatapannya tidak berpaling dari Mayang.


Sifat angkuh dan gengsinya masih saja sama. Mayang enggan mengakuinya.


"Mas apa maksud perkataan Mama tadi? Apa Mama sudah merestui kita?" Dinda masih merasa heran. Sikap Mayang malam ini sungguh membingungkan.


"Sudah jangan dipikirkan," ujar Rose, dengan senyum simpulnya.


"Ibumu memang sudah merestui kalian. Hanya saja dia gengsi mengatakannya. Begitulah ibumu, dia malu untuk mengakui kesalaha."


Sedetik senyuman merekah tercipta pada kedua sudut bibir mereka. Willy dan Dinda merasa bahagia. Setidaknya saat ini tidak akan ada lagi beban. Karena restu Mayang sudah didapatkan.


Walau pun sikapnya seperti itu namun, Dinda yakin Mayang sudah menerimanya.


******


Pesawat cepat landas. Di tengah teriknya matahari turunlah sepasang pasutri yang saling menggenggam dan tersenyum. Willy dan Dinda seperti sudah kembali dari honeymoon, mereka sangat terlihat jelas seperti sepasang pengantin baru.


Keharmonisan para sepasang remaja juga terkalahkan dengan keharmonisan mereka berdua.


"Sayang, sepulang ke rumah kita ke pulau busa lagi ya?" Mata Dinda, langsung melotot satu tangannya mencubit nakal perut sang suami. Dinda tahu apa maksud perkataan Willy. Pulau busa adalah pulau bathup yang penuh dengan air busa.

__ADS_1


Kejadian itu masih terbayang-bayang dipikirannya. Membuat pikirannya melayang-layang entah kemana.


"Awas lagi bayangin apa? Jangan dulu di bayangin nanti saja kita praktekin haha."


"Ih! Willy!"


Sontak tingkah mereka menjadi objek pemandangan para pengunjung bandara saat ini. Keduanya saling mengejar seperti anak remaja yang dilanda cinta dan asmara.


Dinda terus berlari mengejar Willy, yang terus tertawa dan menghindari pukulannya itu. Namun, itu sudah menjadi hobi barunya menggoda istrtinya.


Hingga langkah lari mereka terhenti saat mendengar suara bocah kecil yang sangat dirindukan.


"Mama! Papa!"


"Syena!" ucap Willy dan Dinda bersamaan. Keduanya melangkah menghampiri Syena yang berada di gendongan Asih.


Asih pun menurunkan tubuh mungil itu dari gendongannya. Membiarkan kaki kecil itu berlari menghampiri ibu dan ayahnya.


Suasana indah dan romantis akan selalu terkenang. Dinda dan Willy langsung mengecup pipi chubby itu secara bersamaan. Sedetik tangan Willy meraih tubuh mungilnya menggendongnya hingga berputar-putar.


Mungkin bagi sebagian orang akan berpikir jika mereka adalah ayah dan anak kandung. Willy memang ayahnya namun bukanlah ayah kandungnya.


"Putri papa. Papa kangen." Willy kembali mengecup pipi chubby itu. Dinda hanya tersenyum melihatnya.


Dalam hatinya ada rasa haru dan bahagia. Karena Willy begitu mencintai putrinya. Menganggapnya seperti anak kandungnya.


Asih mengayunkan langkahnya mendekati Dinda. Satu tangannya menyentuh dan merangkul bahu putrinya. Membuat Dinda menoleh karena sentuhan hangatnya.


"Ibu," ucapnya yang disambut dengan senyuman oleh Asih.


Dinda tidak kuasa menahan tangis haru, membuatnya ingin memeluk Asih. Dan mereka pun berpelukan.


"Oma! Mama!" teriak Syena, membuat Dinda menyeka air matanya segera. Tatapan mereka pun kini beralih pada Syena yang masih berada di pangkuan Willy.


"Sini sayang." Kedua tangan Dinda terbuka seolah membuka ruang untuk Syena. Willy langsung mendekat membawa Syena pada Dinda, memindahkan pangkuannya.


"Emm … sayang Mama kangen." Satu kecupan mendarat pada bibir mungilnya. Rambut hitam bergelombang, mata belonya menambah kesan lucu bagi siapa yang melihatnya.


"Aku juga kangen Ma," ucap Syena dengan suara gemasnya.


"Ma mau di gendong Papa."


"Mau digendong Papa? Ayo."

__ADS_1


Dinda langsung mengambil tas yang dari tangan Willy, memindahkan Syena pada pangkuan Willy. Syena begitu nyaman digendong papa barunya itu hingga sampai depan mobil mereka.


Bahkan sampai dalam mobil Syena tidak ingin terlepas dan jauh dari Willy.


__ADS_2