
Seorang pemuda yang tidak jelas terlihat wajahnya karena tertutup topi hoodie-Nya. Celana jeans yang melekat di tubuhnya membuat kaki jenjangnya terlihat jelas, panjang dan tinggi.
Dengan langkah santai pemuda itu berjalan memasuki sebuah perusahaan menuju basement tempat parkir mobil berada. Entah siapa dan apa tujuan pemuda itu menuju tempat parkir.
Dari sekian banyaknya mobil yang berjajar pemuda itu hanya tertuju pada satu mobil. Mercedes Benz SLK merah yang terparkir paling ujung jauh di antara mobil yang lain. Sesampai nya di depan mobil itu sang pemuda berjongkok dalam waktu yang cukup lama, setelah merasa cukup pemuda itu bangkit berdiri meninggalkan mobil merah itu.
Entah apa yang sudah di lakukannya. Apa hanya sekedar bersembunyi? Atau sekedar rehat sejenak pemuda itu harus berjongkok. Dengan kepala yang terus menunduk pemuda itu pergi meninggal 'kan basement.
Tidak berselang lama, sepeninggal pemuda itu muncullah dua orang wanita yang entah dari mana asalnya. Kedua wanita itu memasuki mobil Mercedes Bens SLK merah. Dalam waktu singkat mobil itu melaju keluar dari basement.
Seorang pemuda tersenyum licik saat melihat mobil itu keluar dari perusahaan.
Dari dalam mobil kedua wanita sedang asyik bercanda gurau. Dia Karin, yang mengambil alih kemudi dan Dinda, yang hanya menemani dan duduk di sampingnya.
Karin, begitu menikmati perjalanan nya. Hatinya sedikit tenang karena sudah bercerita tentang masalahnya. Dan sekarang mereka akan pergi ke kantor polisi.
Namun saat tiba di sebuah belokan, dan jalanan yang menurun, raut wajah Karin, mendadak panik. Kedua tangannya tetap fokus pada stirnya, kedua kakinya mengatur pedal gas dan rem d bawahnya. Namun, sepertinya ada yang tidak beres. Berkali-kali kakinya di hentak 'kan untuk menginjak rem dan anehnya mobil tidak berhenti atau mengurangi kecepatan.
"Ya tuhan kenapa ini?" ucap Karin panik.
"Ada apa Karin?" tanya Dinda, datar karena tidak tahu apa yang sedang Karin, khawatirkan.
"Rem! Rem nya blong!"
"Apa!"
"Dinda, bagaimana ini rem nya tidak berfungsi!" Karin, semakin panik. Begitu pun dengan Dinda.
"Karin, kamu serius! Gak bohong kan!"
"Untuk apa aku bohong. Remnya benar-benar tidak berhenti."
"Karin awas!"
Seorang anak kecil melintas dengan santainya tanpa melihat kiri dan kanan. Karin, dan Dinda, semakin panik saat jarak mereka semakin dekat. Sedang kan mobil tidak kunjung berhenti.
Berkali-kali Karin, membunyikan klakson agar anak kecil itu menghindar. Akan tetapi anak kecil itu tidak mengerti dan hanya fokus pada bendanya yang jatuh.
Karin, sudah mulai frustasi. Tidak mungkin juga Karin menabrak anak itu yang seumuran dengan Syena. Dinda juga semakin panik. Sontak Dinda, berteriak saat mobil nya hampir menghantam tubuh kecil itu.
"Karin, lempar!"
"Apa! Lempar?" Karin jadi bingung sendiri. Padahal maksud Dinda, meminta Karin, untuk membanting mobilnya ke sisi kiri menghindari anak itu.
Dengan sigap kedua tangan Karin, membanting stir ke arah kiri, membuat mobil itu melesat jauh menuruni jalanan tanah. Karin, masih mencoba untuk mengendalikan mobilnya namun tetap tidak berhenti. Hingga dengan terpaksa Karin, membenturkan mobilnya ke sebuah pohon besar yang ada di sisi jalan.
__ADS_1
"Dinda, pegangan yang kuat. Tidak ada cara lain selain membenturkan mobil ini. Aku akan menabrak pohon itu agar mobil ini berhenti."
Dinda, mengangguk setuju. Dari pada harus memakan korban lebih baik dirinya yang berkorban.
Aa … a … a…
Brakk!
Akhirnya mobil pun terhenti saat mobilnya menghantam pohon besar itu. Lalu bagaimana dengan Dinda, dan Karin. Mereka selamat hanya sedikit syok dan mendapat luka ringan pada sudut keningnya.
Ah, ringis Dinda, seraya menyentuh dahinya yang memang terlihat sedikit memar dan berdarah. Dinda, menyandarkan punggungnya. Lalu melirik ke arah Karin, di sampingnya. Yang juga sama terluka dengan nya. Namun Karin terlihat diam. Mungkin masih merasa syok dan kaget dengan peristiwa yang baru saja terjadi padanya.
Tidak ada satu penduduk pun yang membantu. Karena kecelakaan itu jauh dari keramaian. Yang terlihat hanya lah beberapa orang saja yang datang. Mereka membantu Karin, dan Dinda, turun dari mobilnya.
Di sisi lain Asih di buat terkejut karena sebuah foto yang tiba-tiba jatuh membuat kacanya retak. Tidak ada angin tidak ada hujan foto itu jatuh sendiri.
Asih mengambil foto itu yang saat di lihat adalah foto Dinda bersama Syena. Hati Asih, semakin gelisah memikirkan Dinda, yang di luar sana.
Dengan segera Asih, menghubungi Dinda namun tidak kunjung di jawab. Panggilan selalu saja di alihkan, membuat Asih semakin khawatir.
"Ya Tuhan, firasat apa ini. Semoga Dinda, baik-baik saja."
Asih segera berlari ke kamar Syena, yang memang sudah menangis. Entah karena bermimpi atau takut di tinggal sendiri. Syena terus memanggil Mamanya.
"Mama … mama …."
Asih, terus mengelus punggung Syena, untuk menenangkan nya.
"Ya Tuhan kenapa ini. Kenapa hatiku tidak tenang apa yang terjadi pada Dinda."
Asih, mencoba kembali menghubungi Dinda namun tetap tidak ada jawaban. Lalu Asih memanggil nomor Karin, dengan harap ada jawaban namun tetap sama tidak ada jawaban.
Asih, semakin khawatir apa lagi Syena yang terus menangis. Akhirnya tidak ada jalan lain Asih membawa Syena dalam pangkuannya melangkah pergi menuruni apartemen. Mencari seseorang yang bisa menolongnya.
"Tante kenapa Syena menangis?" tanya Willy, yang kebetulan keluar daei kantornya.
"Nak Willy?" Asih memanggil seraya berlari ke arah Willy, yang menatapnya bingung.
"Ada apa tante? Kenapa panik. Apa terjadi sesuatu pada Syena?"
"Nak Willy, tolong bantu cari Dinda. Tante khawatir terjadi hal buruk padanya. Ponselnya tidak aktif saat di hubungi. Tante juga mendapat firasat buruk. Tante mohon bantu cari."
"Sebentar Tante, tenang ya. Sekarang masuk dulu." Willy, membawa masuk Asih ke dalam kantornya menyuruhnya untuk duduk.
Willy, segera menghungi Dinda dengan ponselnya. Berkali-kali benda pipih itu ia dekatkan pada daun telinga namun tidak tanda-tanda panggilan di jawab.
__ADS_1
"Tante? Apa tante tahu kemana Dinda pergi. Mungkin Dinda, bilang mau kemana?"
"Dinda bilang mau ketemu Karin."
"Apa tante tahu dimana mereka bertemu?"
"Sepertinya di perusahaannya. Alpicho grup itu nama perusahaannya."
Beruntung Asih, masih bisa berpikir jernih dan tenang. Dengan segera Willy, mengecek alamat perusahaan itu namun tiba-tiba panggilan masuk pada ponselnya.
"Rio," ucap Willy saat nama Rio terpampang pada layar. Segera Willy, menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu.
...Telepon...
"Ya Rio ada apa?"
"Will, Dinda!" ujar Rio, tak jelas suaranya bercampur panik. Namun ada yang membuat aneh Rio menyebut nama Dinda. Membuat Willy, khawatir.
"Dinda, ada apa dengan Dinda?" Mendengar Willy, memanggil nama Dinda. Asih semakin khawatir di buatnya.
"Mereka kecelakaan."
"Mereka?"
"Ya! Dinda bersama teman nya. Aku melihat mobil mereka menabrak pohon besar."
"Dimana? Aku akan segera ke sana."
"Kamu ke rumah sakit saja. Mereka akan ku bawa ke rumah sakit."
"Baiklah kirimkan alamatnya."
"Tentu akan ku kirimkan padamu nanti."
Tut … tut … sambungan telepon pun terputus.
"Nak Willy? Ada apa dengan Dinda?" Asih, bangkit dari duduknya menghampiri Willy.
Willy, tertegun sesaat. Ingin mengatakan kejadian yang sebenarnya namun jika ia pikirkan lebih baik tidak memberitahunya. Kasihan Asih juga Syena. Lebih baik mereka menunggu di sini dengan tenang.
"Nak Willy?"
"Eh, iya tante. Hm … barusan Rio, telepon sedang bersama Dinda dan Karin. Tante tunggu di sini saja biar Willy yang jemput Dinda."
"Tapi Dinda, baik-baik saja 'kan?"
__ADS_1
"Baik-baik saja tante. Tante jangan khawatir ya. Willy, pergi dulu."
Willy, mencium Syena sejenak lalu melangkah pergi. Asih, hanya diam mematung menatap kepergian Willy. Walau sebenarnya hatinya saat ini gelisah dan cemas.