
Beberapa saat kemudian makanan yang dipesan Lea sampai. Keduanya sarapan bersama sebelum memulai aktivitas hari ini. Dentingan piring beradu sendok menjadi irama pembuka hari ini.
"Sayang aku pengen libur saja deh hari ini," ucap Bian disela-sela makannya.
"Memang kenapa?" tanya Lea heran. Saat mereka masih berpacaran, Lea tahu betul sikap Bian. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya itu, tidak biasanya malas untuk bekerja.
"Malas aja sayang, masih capek," jawab Bian.
"Hah? Capek? Tumben banget ngeluh capek?" Lea sedikit terkejut.
"Lagi pengen berduaan sama kamu saja sayang. Ini adalah waktu melepas rindu yang berbulan-bulan aku tunggu sayang," ujar Bian.
"Astaga! Lama nggak ketemu tambah gombal aja sih kamu," ledek Lea.
"Tapi kamu suka kan sayang?" balas Bian tak mau kalah.
"Enggak lah, enek aku pengen muntah kebanyakan dengerin gombalan kamu," Lea beranjak mengambil minuman dari dalam kulkasnya.
Setelah mengambil dua gelas air putih untuk Bian dan dirinya. Lea kembali duduk dan berkata, "Kamu harus kembali bekerja sayang. Ingat perusahaan butuh kamu. Semua karyawan kamu pasti juga sudah kepengin bertemu dengan bosnya."
"Lho kan kamu juga bos-nya sayang," ujar Bian setelah meneguk minumannya.
"Tapi bos yang sesungguhnya kamu," kata Lea.
__ADS_1
"Bagaimana menjadi bos di perusahaan enak tidak? Ada yang gangguin kamu tidak?" pertanyaan Bian yang membuat Lea sedikit tersedak.
"Hati-hati dong sayang kalau minum," pesan Bian.
Lea mengelap air minum disekitar bibirnya. Mengernyit heran dengan pertanyaan Bian. Bisa-bisa suaminya itu mencurigainya.
"Yang benar saja berani godain aku. Bos besarnya saja galaknya bukan main. Mana ada yang berani godain istri bos besar," protes Lea.
"Jangan mengada-ada deh," imbuhnya.
"Ciye gitu aja ngambek," goda Bian.
"Habisnya kamu sih yang mancing-mancing," protes Lea.
"Mulai deh gombalnya. Masih pagi juga," Lea menepis ciuman Bian di punggung tangannya.
Lea melanjutkan sarapannya yang tertunda akibat suaminya itu. "Udah sekarang terusin sarapannya. Jangan gombal terus!" tegas Lea.
Sebelum menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. "Pokonya kamu harus mulai kerja hari ini!" seru Lea.
"Perusahaan butuh kamu untuk memulihkan perusahaan seratus persen." imbuhnya.
"Jika kelamaan kamu tinggal bisa-bisa perusahaan akan bermasalah lagi."
__ADS_1
"Banyak sekali PR yang harus kamu selesaikan. Jangan malas-malasan!"
"Bian yang aku kenal dulu tidak ada kata malas. Apalagi bolos masuk bekerja. Sama sekali tidak ada dalam sejarahnya."
"Tapi kan cuma sekali saja sayang," sambar Bian.
Sontak Lea memelototi Bian dengan tatapan tajamnya itu. Membuat Bian tersenyum salah tingkah.
"Bian yang dulu tidak banyak protes tetapi banyak bekerja!" serunya penuh dengan penekanan.
"Pergilah ke perusahaan atau aku akan menyeret kamu ke perusahaan?" ancam Lea.
"Lea yang aku kenal dulu tidak kejam seperti ini," lirih Bian sembari menjauhkan mukanya dari Lea.
"Bicara apa kamu barusan?" tanya Lea.
"E ... enggak kok sayang," jawab Bian gugup.
Sudah cukup panas telinganya mendengar omelan dari istrinya tersebut. Akhirnya Bian mengiyakan saja apa yang diperintahkan Lea. "Iya ... iya sayang aku akan segera berangkat," dia pun segera menyelesaikan sarapannya.
"Bagus kalau begitu," Lea tersenyum puas atas kemenangannya pagi ini.
"Aku mau ke kampus hari ini," ucap Lea sembari membersihkan sisa sarapan mereka.
__ADS_1
"Cerewet sekali," batin Bian sembari melenggang pergi ke kamar untuk bersiap berangkat kerja.