Life After Married

Life After Married
Bab 112- Rasa penasaran Rita


__ADS_3

Suara decitan terdengar begitu nyaring. Gesekan antara ban dan aspal begitu mengilukan. Rio, menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit.


Dibukanya sabuk pengaman yang melekat pada tubuhnya. Segera tangan kanannya bergerak membuka, kan pintu.


Dengan cepat kakinya turun dan keluar dari dalam mobil, berjalan memutari mobil hingga tiba di pintu bagian penumpang yang Karin duduki.


Di bukanya pintu itu, tubuhnya langsung berjongkok, merengkuh tubuh wanita yang sudah tak berdaya.


Darah pada pinggangnya semakin merembes. Membuat dasi hitamnya ikut berubah warna menjadi merah seperti darah.


Tanpa menunggu lama Rio, berlari sambil menggendong Karin dalam pangkuannya.


Dokter! Dokter!


Rio, berteriak hingga urat-urat lehernya keluar. Peluh keringat membasahi wajahnya hingga kemeja putihnya ternoda dengan darah kental yang semakin merembes.


Tidak berselang lama beberapa perawat menghampiri. Mereka berlari sambil mendorong sebuah brankar.


Rio, segera menidurkan tubuh Karin di atas brankar rumah sakit. Yang berbentuk seperti ranjang namun memiliki roda yang membuat ranjang itu bisa berjalan tanpa harus membebani orang yang mendorongnya.


Brankar itu langsung membawa Karin menuju ruang UGD beserta Rio, yang membantu mendorong brankar itu.


Seorang dokter keluar dari salah satu ruangan. Berlari kearah mereka, sedetik brankar itu terhenti karena dokter itu memeriksa keadaan Karin terlebih dahulu.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Dia di tusuk. Di bagian belakang," ujar Rio menjawab.


Sang dokter pun melihat sedikit bagian luka itu. Yang menembus pakaian yang Karin kenakan hingga tercipta sebuah robekkan besar.


"Lukanya cukup dalam. Siapa yang mengikat dasi ini?" tanya Dokter yang langsung di jawab oleh Rio.


"Saya."


"Anda melakukan yang benar sehingga tidak mengalami pendarahan yang cukup parah. Sekarang bawa keruang operasi."


"Baik," jawab para perawat serempak.


Rio, hanya bisa memandangi wajah Karin yang semakin menjauh dari pandangannya.


*****


Surabaya


Di sebuah bandara internasional. Terlihat seorang pria berlari membelah keramaian dan padatnya pengunjung. Yang menunggu penerbangannya berlangsung.


Pria itu berlari tergopoh-gopoh hingga menerobos antrian. Pria itu adalah Willy yang baru saja mendapatkan kabar keadaan Dinda di jakarta. Membuatnya langsung meluncur melakukan penerbangan menuju jakarta.


Di tempat lain Danu langsung membawa Dinda dan Syena ke kediaman Fras. Yang memang saat itu terlihat sepi karena sang empunya sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Danu mendapat kabar jika kondisi Fras kembali memburuk. Membuatnya harus segera pergi ke rumah sakit. Meninggalkan Dinda yang kini sedang menidurkan Syena.


Kejadian itu cukup membuat Dinda khawatir dan takut jika Syena mengalami trauma. Namun pikirannya pun teringat pada Karin. Apalagi dengan kondisi Karin yang saat ini sedang terluka.


Dinda tidak tahu keadaan Karin di sana. Apa baik-baik saja atau tidak.


Tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar. Membuat tubuhnya harus beranjak dari atas tempat tidur. Dinda mendapatkan telepon dari Asih yang mengatakan keadaan Fras saat ini.


Hatinya sangat khawatir namun, Dinda tidak bisa pergi meninggalkan Syena.


"Ibu bagaimana keadaan ayah?"


"Masih di tangani dokter. Bagaimana dengan Syena?"


"Syena baik-baik saja Bu. Tapi Karin …."


"Karin! Ada apa dengan Karin?" Suara Asih terdengar cemas.


"Karin terluka."


"Kok bisa!"


"Ceritanya panjang Bu. Yang menculik Syena adalah Vikram, yang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk menjebak Karin, supaya Karin datang padanya."


"Lalu bagaimana keadaannya saat ini?"


"Dinda belum tahu Bu, tapi Rio sudah membawanya ke rumah sakit."


"Ibu kenapa ayah bisa seperti itu? Bukannya ayah baik-baik saja?"


"Ayahmu mendengar kabar hilangnya Syena. Itu sebabnya serangan jantungnya kambuh lagi. Dan ini semua gara-gara wanita ular itu."


"Wanita ular?" Dinda merasa heran.


"Ya, siapa lagi jika bukan Rita. Sekarang ibu melihat dengan jelas Rita memang tidak tulus mencintai ayahmu. Saat ayahmu sedang sekarat saja wanita itu hanya diam melihat tanpa melakukan apa pun. Dia mengharapkan ayahmu mati."


"Biar Danu yang urus mereka ibu. Lebih baik ibu jaga ayah. Dan sebaiknya kita jangan dulu pulang kondisi ayah masih belum pulih. Di tambah kejadian yang menimpa Syena."


"Iya, Ibu juga berpikir seperti itu."


"Sudah dulu ya Bu, jika ada apa-apa kabari Dinda. Dinda lelah ingin istirahat sejenak."


"Iya sayang. Jaga baik-baik Syena ya."


"Iya Bu." Sambungan telepon pun di tutup.


*****


Asih masih menunggu dengan Rita yang duduk tidak jauh darinya. Matanya saling mendelik dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Ada apa kamu menatapku seperti itu!" sinis Rita dengan nada bicara yang ketus.


"Dasar wanita tidak tahu malu."


"Apa kamu bilang!" Rita terlihat emosi.


"Masih punya muka kamu berada di sini. Setelah apa yang kamu lakukan!"


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Memang jantungnya saja sangat lemah."


"Kamu pikir aku tidak melihat apa yang kamu lakukan! Seorang istri yang dengan terangnya ingin membunuh suaminya," sindir Asih, yang masih mengingat perlakuan Rita saat akan mencabut selang oksigen yang melekat pada bawah hidung mantan suaminya.


"Akan aku pastikan kamu akan mendapatkan hukuman. Akan aku katakan perlakuanmu pada Danu."


"Dasar! Main adu."


Tidak berselang lama Danu pun datang bersamaan dengan keluarnya seorang dokter dari dalam kamar Fras.


Asih dan Rita pun bangun dari tempat duduk mereka. Berjalan menghampiri dokter yang berdiri di sana.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Rita, yang so' perhatian.


"Apa ada yang bernama Danu?" tanya Dokter itu yang langsung mendapatkan jawaban dari Danu.


"Saya Dok." Jawab Danu yang menunjuk dirinya.


"Pasien ingin bertemu dengan anda."


"Baik Dok." Danu pun melangkah masuk mengikuti langkah dokter.


Rita dalam hati bertanya. Ada apa dan kenapa Fras hanya menginginkan Danu. Apa yang akan mereka bicarakan.


Masih dengan rasa penasaran Rita kembali duduk di kursinya. Begitu pun dengan Asih.


Tidak berselang lama seorang pria datang. Dengan pakaian formalnya beserta tas jinjing yang dibawanya. Mata Rita membulat sempurna, tercengang dengan kehadiran pria itu.


Rita sangat mengenalnya karena pria itu adalah pengacara keluarganya. Membuat Rita semakin penasaran.


Pintu kamar terbuka Danu muncul dari balik pintu menyambut kedatangan pria lalu membawanya masuk.


Asih hanya diam masih menunggu kabar dari keadaan Fras. Tidak begitu tertarik dengan pria yang baru saja melewatinya.


"Ada apa ini. Kenapa Fras memanggil pengacara juga." Rita berpikir keras. Merasa ketakutan jika mereka membicarakan sesuatu hal yang penting.


Tidak berselang lama pengacara itu pun keluar bersama Danu dan berlalu pergi.


Rita semakin penasaran apa yang mereka bicarakan.


Rita langsung berdiri mengikuti langkah Danu dan pria itu. Sedangkan Asih hanya menatap bingung melihat kelakuan Rita yang seperti itu.

__ADS_1


"Aneh! Ada apa dengan wanita itu?"


__ADS_2