Life After Married

Life After Married
Bab 158- Pengorbanan menjadi istri kedua


__ADS_3

"Sekarang siapa yang kamu pilih? Aku atau dia!"


"Tenang Velove, bisa kita bicarakan baik-baik. Berikan Bian padaku dulu."


"Tidak! Aku ingin jawaban darimu. Aku atau dia yang kamu pilih. Jika kamu memilihnya kamu tidak akan bisa melihat Bian lagi."


Rey, semakin mendekat. Mencoba mengambil benda tajam yang Velove, pegang. Namun, belum sempat pisau itu dipegang. Velove langsung mundur menyadari apa yang akan Rey lakukan.


"Kamu pikir aku bodoh. Aku tidak percaya dengan semua yang kamu katakan. Sekarang aku berikan kamu pilihan terakhir. Aku atau dia!"


Suasana semakin menegang. Tidak ada satu pun yang membantu atau berani mengambil pisau yang sudah mengarah pada Bian. Bahkan para tetangga yang melihat pun hanya bisa menjerit, merasa kasihan pada Bian bayi yang tidak berdosa.


"Velove!" teriakan seorang wanita yang baru saja turun dari taksi. Semua mata tertuju pada wanita itu termasuk Velove.


"Mama," lirihnya yang melihat Rita, datang.


Rey, menjadikan kesempatan itu untuk mengambil Bian dari tangan Velove, begitu pun pisau yang dilemparnya. Gerakan itu Velove rasakan, hingga tangannya ingin segera mengambil Bian kembali.


Namun, tangan itu terlanjur dicekal oleh Rita, sehingga Velove, tidak bisa merebut Bian dari Rey.


"Rey, bawa Bian ke dalam," titah Rita. Tubuh Rey, langsung mundur memberikan Bian pada Angel.


"Mama! Lepaskan."


"Kamu sudah gila! Ingin membunuh anakmu."


"Untuk apa juga Bian hidup. Tidak akan membuat Rey, kembali padaku."


"Velove sadar! Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Rita, tetap mencekal tangan Velove, agar tidak bisa bergerak.


Velove semakin marah saat Bian dibawa oleh Rey. Seorang pria menghampiri mereka, pria itu bertanya ada keributan apa? Velove yang emosi langsung meminta pria itu mengusir Angel, dari rumah itu.


Namun, jawaban pria itu membuat Velove dan Rita terkejut. Bahwa Angel dan Rey, adalah sepasang suami istri yang baru saja pindah tiga bulan yang lalu.

__ADS_1


"Menikah! Jadi kalian …."


"Velove sudah! Lebih baik kita pulang, kita bicarakan ini nanti."


"Tidak bisa Ma, mereka menikah diam-diam. Rey, Kembalikan Bian padaku!" teriak Velove, yang semakin keras.


Rita, tetap menahan Velove agar tidak melakukan hal-hal yang berbahaya. Tiba-tiba saja suasana hati Velove berubah, dia menangis tersedu-sedu. Hingga akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Rita.


Rey, yang melihat itu langsung membawa Velove ke dalam rumahnya. Para warga pun dibubarkan.


*****


Kini mereka semua berkumpul di dalam kamar. Menatap Velove, yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Bian tertidur dalam pangkuan Angel.


"Bukan untuk pertama kalinya Velove, berniat membunuh Bian. Jika kalian berpikir Velove sudah gila, ya. Karena jiwanya sudah terganggu." Kata Rita, yang terus memandangi wajah Velove.


"Apa maksud Mama? Velove gila?" tanya Rey, yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rita.


Rita mendongak, menghela nafasnya sejenak. Bersamaan dengan itu matanya terpejam, setetes cairan bening turun dari sudut matanya.


Flashback On


"Velove! Apa yang kamu lakukan?"


Begitu terkejutnya Rita, saat melihat Bian, di tenggelamkan ke dalam air saat dimandikan. Beruntung, Rita melihat itu dan segera mengambil Bian.


Anehnya, saat Bian direbut paksa, Velove baru tersadar dan memeluk Bian kembali. Velove begitu ketakutan, memeluk Bian hingga menangis.


Flashback Off


"Aku tidak mengerti keadaan Velove, yang kadang bahagia, sedih, dan emosi. Aku pikir putriku sedang mengalami baby blues tapi ternyata … Velove mengalami gangguan Bipolar," jelas Rita.


"Bipolar?" tanya Rey, yang belum paham.

__ADS_1


"Saat melihat percobaan pembunuhan pada Bian, aku penasaran dan membawanya ke psikiater. Dan kecurigaanku ternyata benar. Dokter mengatakan jika Velove, mengalami gangguan mental, lebih tepatnya Bipolar. Dimana suasana hatinya akan berubah-ubah. Kadang sedih, marah, dan bahkan sampai ingin membunuh."


Rey, dan Angel begitu terkejut, mendengar penjelasan dari Rita. Tubuhnya terduduk lemah, dengan tatapan kosong yang menerawang.


Sedetik tatapannya tertuju pada Velove, yang tertidur. Entah apa yang ada dalam pikiran Rey saat ini. Entah penyesalan atau hanya sebatas rasa kasihan.


"Lalu apa kata dokter? Apa Velove bisa diobati?" tanya Rey.


"Tidak bisa menjamin kapan Velove akan sembuh. Yang Velove butuhkan saat ini adalah kamu Rey." Kata Rita yang langsung melirik pada Rey.


"Mama tahu kamu sudah menikah lagi, tapi kamu belum menceraikannya. Bagaimanapun juga Velove masih istrimu. Dan tidak mungkin juga Mama memintamu untuk menceraikan Angel. Kalian sudah menikah, tidak ada yang bisa Mama lakukan. Tapi Mama mohon demi kesembuhan Velove, luangkan waktumu untuknya. Kamu mau 'kan Rey?"


Bibir Rey masih bungkam, tubuhnya pun masih terdiam. Sejenak Rey, menatap Angel di sampingnya. Angel pun tidak bisa mengatakan apa pun, keputusan ada pada Rey. Apapun itu harus Velove terima.


Anggukan yang Rey berikan, merupakan jawaban yang paling pahit untuk Angel namun harus Angel lakukan.


"Aku mohon kamu mengerti," lirih Rey lalu memeluk Angel sebelum dia pergi. Tidak hanya meninggalkan untuk sementara ternyata pernikahan mereka pun harus di rahasiakan.


Rey, melangkah pergi keluar membawa Velove terlebih dulu ke dalam mobilnya. Sedangkan Rita, masih menahan langkahnya untuk mengatakan sesuatu pada Angel.


"Dan aku mohon padamu. Jika Velove bertanya pernikahan kalian, tolong rahasiakan. Kamu lihat apa yang terjadi tadi 'kan? Dan Velove sangat membutuhkan Rey, saat ini. Jika mengetahui Rey sungguh-sungguh sudah menikahimu aku takut, itu akan mengganggu mentalnya. Aku tidak akan meminta kaliam untuk pisah, aku hanya ingin kamu mengerti tentang keadaan Rey saat ini."


Angel terdiam, bahkan saat bahu itu diusap lembut oleh Rita, tidak ada satu pun kata yang terucap dari mulutnya.


Bagaimana perasaan Angel saat ini? Mungkin sangat sakit hati. Menjadi istri kedua tidak sebahagia yang kalian pikirkan. Bahkan Angel, harus selalu mengalah dan terus mengalah.


Rita, dan Rey, pun pergi meninggalkan rumahnya. Tanpa bertanya apakah dirinya baik-baik saja?.


Dua koper yang sudah di siapkan untuk berlibur hari ini, terpaksa harus ditunda. Bayangan hari ini hanya sebatas angan. Dengan langkah malas, satu persatu koper Angel tarik di simpannya ke dalam kamar.


Sarapan pagi yang sudah dingin, terpaksa Angel buang. Jangankan untuk sarapan, nafsu makan pun tidak berselera. Sepasang netranya terus memindsi setiap sudut rumah. Yang dulu ramai kini kembali sepi.


Bahkan, sebuah kotak kado yang sudah di siapkan untuk hadiah ulang tahun Syena hanya dipandang tanpa di sentuh. Tarikan nafas kasar Angel hembuskan. Diambilnya kado itu lalu di simpannya ke dalam lemari.

__ADS_1


Suara getaran ponsel terdengar. Dirogohnya benda pipih itu di dalam saku celananya, saat dilihat satu pesan yang Rey, kirimkan untuknya entah apa isi pesan itu, wajah Angel begitu datar tanpa ekspresi.


Sedetik ponsel itu dilempar ke sembarang arah. Angel, langsung pergi dari kamarnya.


__ADS_2