
Tiga tahun kemudian
Matahari pagi mulai naik. Menampakkan cahayanya menyinari bumi. Jalanan kota yang semula sunyi kini kembali ramai dengan macam-macam kendaraan yang memadati jalanan.
Semua insan dibuat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Para ayah yang sudah siap untuk pergi bekerja dan para ibu yang sibuk menyiapkan bekal dan sarapan untuk para anak dan suaminya.
Waktu pagi adalah waktu yang cukup melelahkan. Karena di waktu itu semua aktifitas, berbagai kegiatan dimulai.
"Pagi Mama!"
"Pagi sayang."
Satu kecupan menjadi awal penyemangat dan sapaan di pagi hari. Begitu pun yang dilakukan keluarga kecil ini.
"Syena, dimana papa?"
"Masih di kamar Ma." Jawabnya yang mengambil satu potong roti di atas meja.
"Kamu sarapan dulu ya sayang. Mama mau panggil papa dulu."
"Iya Ma." Jawab Syena sambil mengoles roti dengan selai coklat kesukaannya.
Tiga tahun sudah berlalu, bocah kecil itu kini berusia lima tahun. Ada yang berbeda darinya. Di pagi ini ia mengenakan seragam sekolah.
Walau masih lima tahun Syena tidak manja seperti anak-anak yang lain. Yang menunggu di suapi lalu bisa makan. Sedangkan Syena tidak mengandalkan sang ibu.
Sarapan sendiri mengambil roti dan mengolesnya sendiri. Dinda selalu mengajarkan putrinya untuk mandiri. Namun kata mandiri bukan berarti semua pekerjaan harus dikerjakan sendiri.
Di usianya yang masih dini, setidaknya hal-hal kecil yang Dinda ajarkan. Seperti makan tanpa harus di suapi harus bisa dilakukan.
"Mas! Ya ampun. Kamu masih belum siap sedangkan ini sudah siang."
Hardik Dinda, pada siapa lagi jika bukan pada suaminya.
Saat hendak masuk kedalam kamar Dinda masih melihat Willy yang baru mengenakan kemejanya. Tiga tahun pernikahan mereka, membuat Dinda mengerti jika suaminya tidak bisa bergerak cepat tanpa Dinda bantu.
Bukan karena Willy tidak mampu, hanya saja sudah menjadi kebiasaannya menjawab telepon diwaktu pagi. Tidak peduli keadaannya sudah rapi atau belum sarapan sama sekali.
"Sini Mas biar aku bantu."
Dengan gerakkan cepat kedua tangannya bergerak turun mengancingkan kemeja suaminya. Willy masih sibuk berbicara pada sambungan teleponnya.
Tanpa menghiraukan Dinda yang dengan sabar memakaikan jas juga dasi pada lehernya.
"Terima kasih sayang."
Satu kecupan mendarat mulus pada bibir ranumnya. Walau pun sibuk dan tidak sempat memakai kemejanya Willy, tidak pernah lupa untuk mengecup bibir ranum istrinya itu.
"Sudah selesai?"
Dinda bertanya dengan mata mendelik. Kesal sudah pasti, karena Willy tidak pernah mengabaikan panggilan dari kliennya itu.
Namun, sepertinya amarah Dinda tidak pernah membuat Willy takut. Melainkan membuatnya semakin gemas.
Melihat bibir yang mengerucut Willy semakin ganas melahap benda kenyal itu. Di lingkarkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang ramping istrinya bersamaan dengan kecupan manis yang diberikan.
"Sudah." Ucapnya dengan senyuman.
__ADS_1
Dinda hanya mendengus kesal. Namun ia tidak bisa marah jika bibir ranumnya sudah disentuh oleh Willy.
"Ayo cepat. Sudah siang Syena nanti terlambat."
"Baik ratuku." Lagi-lagi kecupan itu kembali mendarat membuat mata Dinda membulat sempurna. Ada rasa kesal namun juga senang.
Tangannya langsung menarik Willy untuk segera keluar dari kamar.
"Pagi sayang." Sapa Willy yang langsung mengecup kening Syena, lalu duduk di kursinya.
"Anak papa pintar sekali sarapan sendiri."
"Papa ayo Pa berangkat sudah siang."
"Oh ya! Jam berapa ini." Willy langsung melihat arah jarum jam pada arlojinya. Membuat Willy kembali beranjak dari duduknya dan hanya menyeruput sedikit kopi manisnya di pagi ini.
"Mas mau kemana? Sarapan dulu."
"Sudah siang sayang. Kasihan Syena nanti terlambat. Aku akan sarapan di kantor nanti." Kata Willy yang langsung mengecup lembut kening Dinda.
"Sayang salam dulu sama Mama."
"Mama aku berangkat dulu." Satu tangan kanannya terangkat meraih tangan Dinda dan mencium punggung tangan itu. Bibirnya seketika melengkung menatap kepergian suami dan anaknya.
"Dadah Mama!" teriak Syena, seraya melambaikan tangannya.
Kini mobil yang sedari tadi terparkir di depan rumahnya sudah melaju jauh pergi.
Dinda hanya geleng-geleng kepala. Lalu melangkah masuk kedalam rumah.
*****
Tidak sedikit dari mereka yang diantar kedua orantuanya. Seperti halnya Syena yang diantar papanya.
Willy segera turun dari mobil. Berjalan memutari depan mobilnya, membuka pintu untuk sang putri. Satu tangannya bergerak untuk menggendong sang putri agar turun dari mobilnya.
"Belajar yang rajin. Jangan nakal ya."
"Siap Pa. Syena masuk dulu Pa."
Hm … hanya itu yang Wilky ucapkan. Setelah mengecup punggung tangannya Syena langsung berlari memasuki rumahnya. Lambaian tangan tidak henti-hentinya mereka berdua lambaikan.
Setelah langkah Syena semakin dalam dan jauh. Willy kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju meninggalkan sekolah itu.
****
"Pagi Bu." Sapa para karyawan pada Dinda yang melangkah memasuki perusahaannya.
Tiga tahun lamanya Dinda memimpin perusahaan ini. Dan perusahaan semakin pesat. Danu yang masih setia menemani sebagai asistennya. Usia yang tidak muda lagi tidak membuatnya berhenti dan lelah mengabdi pada keluarga majikannya itu.
Danu benar-benar menepati janjinya pada Fras. Bahwa dirinya akan selalu menjaga keluarga bos ya.
Pintu lift terbuka, terlihat Dinda yang melangkah keluar dari lift itu. Berjalan menyusuri setiap ruangan dan divisi sebelum menuju rungannya.
Langkahnya terhenti sejenak, saat tiba di depan sebuah ruangan Direktur. Sedetik matanya terpejam sesaat setelah mendengar suara dari dalam. Entah apa yang Dinda dengar. Membuat bulu kuduknya meremang. Sedetik tatapan tajamnya ia lirikkan pada arah pintu.
Setelah itu Dinda kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam sana. Terdapat dua insan yang sedang memadu kasih saling mengecup dan saling menyesap.
Terlihat Rey, yang langsung mengusap lembut bibirnya. Bersamaan dengan seorang wanita yang juga menyapu bibir dengan lidahnya.
"Pak, sepertinya tadi ada yang berhenti di depan pintu ruangan bapak. Apa mungkin …."
"Husst, tidak ada siapa pun. Lihatlah kaca sudah kututupkan."
"Tapi Pak."
"Kita tidak melakukan apa pun. Kita hanya berciuman saja "
Hm … gumam wanita itu yang terlihat takut.
"Sekarang kembalilah kemejamu. Nanti siang kita lunch bareng di tempat biasa." Bisik Rey, seraya memeluk wanita itu.
Bibir wanita itu seketika melengkung. Lalu pergi meninggalkan ruangan Rey.
Sedetik tubuhnya langsung terjatuh pada kursi. Satu tangannya bergerak untuk melonggarkan dasi yang terikat kerah kemejanya.
Tanpa rasa berdosa Rey, melakukan hal itu. Tanpa memikirkan seorang wanita yang menjadi istrinya selama ini. Entah sejak kapan Rey, kembali melakukan hal yang sama. Kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu.
Deringan ponsel mengehentikan pekerjaannya. Satu tangannya langsung mengambil sebuah ponsel yang tergeletak di samping laptopnya.
Di dekatkannya benda itu pada telinganya. Agar dapat mendengar suara seseorang di sebrang sana.
"Sayang?"
"Hm,"
"Bisa kah kamu transfer uang. Aku butuh untuk membeli perlengkapan bayi kita."
"Apa uang kemarin sudah habis?"
"Ya, sudah kupakai untuk membeli ranjang bayi. Dan pemotretan kita."
Rey, menghela nafasnya panjang setelah mendengar perkataan wanita yang tengah mengandung anaknya. Siapa lagi jika bukan Velove, yang masih menjadi istrinya.
Begitulah Velove, kehidupan mewahnya tidak bisa dihilangkan. Bahkan Rey, sempat kesal karena hampir setiap minggu yang selalu ditanyanya hanyalah uang dan uang.
Tanpa memikirkan Rey, yang juga harus di perhatikan.
"Nanti akan aku transfer. Jangan terus main dan jalan-jalan. Jaga kandunganmu. Aku tidak ingin bayi kita kenapa-napa."
"Iya sayang. Terima kasih i love you."
"Love you to," ucap Rey, dengan malas. Lalu menutup sambungan teleponnya.
...********...
Gak kerasa ya reader sudah tiga tahun saja. Hehe
Setelah tiga tahun lamanya ada yang berubah dan ada yang tidak berubah. Apakah itu? Kalian pasti tahu jawabannya.
Jangan lupa like, komentar, vote, hadiah dan bintang 5 nya ya 🙏 terima kasih.
Salam author
__ADS_1
Dini_ra 😘