
"Dari mana kamu?"
Bukannya menyambut, malah pertanyaan dan ekspresi membunuh yang Velove tunjukkan. Rey menatap Velove sejenak, netranya berpindah pada jam dinding yang berdetak.
Tarikan nafas kasar Rey hembuskan, tepat jam satu malam dia baru pulang, wajar saja jika Velove marah dan curiga.
"Kenapa diam? Apa pertanyaanku tidak penting?" Bagai pertanyaan terus Velove lontarkan.
Rey sangat malas meladeni, apalagi tubuhnya sudah sangat lelah.
"Dari apartemen Dika, ada urusan yang harus dibahas," jawab Rey, melangkah malas ke arah ranjangnya.
Velove masih belum puas dengan apa yang Rey katakan. "Urusan? Apa sangat penting hingga tidak ada waktu selain malam ini?" Pertanyaan Velove selalu memancing emosi.
Rey mendongak sejenak lalu berkata, "Bisakah tidak bertanya terus? Tunda semua pertanyaanmu besok,
aku lelah," ketus Rey, lalu menutup mata, berpura-pura untuk tidur.
Tarikan nafas kasar Velove hembuskan, dengan kesalnya Velove keluar kamar.
"Sikap Rey sungguh berubah, seperti ada wanita lain. Aku harus selidiki ini," ujar Velove, masih bertengger di depan kamar.
.
.
"Dika jangan lupa rencana kita hari ini," Dika mengangguk, menanggapi perkataan Rey.
Rey segera turun dari mobil, melangkah memasuki perusahaan. Sedangkan Dika, pergi meninggalkan kantor.
Dika menghentikan mobilnya di depan sekolah, lalu masuk menemui pihak sekolah. Rey tidak meminta Dika untuk sembunyi-sembunyi, Dika mendatangi sekolah untuk menjemput Reyhan.
Reyhan memasuki ruangan guru, anak itu tertegun melihat Dika, yang tidak pernah dia kenal mengaku sebagai teman ibunya, meminta Reyhan untuk ikut.
"Reyhan." Seorang guru wanita menghampiri Reyhan yang masih mematung di depan pintu.
Ekspresi Reyhan datar, yang memandang Dika walau pria dewasa itu tersenyum padanya.
"Reyhan, duduklah!" titah sang guru menuntun Reyhan ke atas sofa.
"Reyhan apa kamu mengenal Om ini? Dia bilang teman ibumu," ujar guru itu.
Reyhan menatap Dika, sesaat lalu menggeleng dan berkata, "Tidak, aku tidak mengenalnya Bu Guru."
"Yakin?" tanya Guru itu. Reyhan pun mengangguk.
"Reyhan, kita memang belum kenal, nama Om, Dika, Mamamu juga mengenal Om jadi jangan takut. Om ke sini ingin bicara sebentar," ujar Dika merayu.
"Maaf, Bu Guru Reyhan tidak kenal. Kata Mama jangan mudah percaya sama orang lain karena sekarang banyak orang yang menipu."
'Reyhan anak yang cerdas, dia tidak mudah dibujuk,' batin Dika.
"Bu Guru apa aku boleh kembali ke kelas?" tanya Reyhan. Namun, disanggah oleh Dika.
"Tunggu dulu, Bu biarkan saya bicara sebentar, ada yang ingin saya sampaikan pada Reyhan," ujar Dika memohon pada guru itu.
Guru itu diam sejenak, berbisik pada Reyhan lalu mengizinkan mereka bicara lalunberdiri di depan pintu. Dengan tenang Reyhan membiarkan Dika bicara.
__ADS_1
Dika berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Reyhan.
"Reyhan, kita memang baru bertemu dan mengenal, tapi Om bukan orang jahat, Om hanya menjalankan perintah dari ayahmu, dia ingin bertemu denganmu."
"Ayah? Aku tidak punya ayah," jawab Reyhan.
Dika tersenyum sesaat lalu berkata, "Pasti ibumu pernah bercerita siapa ayahmu dan di mana dia," ucap Dika.
"Mama tidak pernah mengatakannya, tapi aku selalu bertanya di mana ayah dan seperti apa dia. Apa kamu benar-benar utusan ayahku?" tanya Reyhan.
"Ya," jawab Dika.
"Tapi itu aneh," ucap Reyhan membuat dahi Dika mengerut. "Jika ayah masih ada kenapa harus dirimu yang datang bukan ayahku? Dan kenapa baru sekarang dia mencariku tidak dari dulu? Usiaku sudah 5 tahun, tapi tidak ada yang pernah datang mencariku dan mengakui sebagai ayahku kecuali ayah Jo, yang selalu ada untuk aku dan Mama."
Perkataan Reyhan begitu lantang dan pasih. Dika sedikit bungkam, perkataan Reyhan jauh dari pemikirannya. Jika anak kecil akan percaya pada siapa pun dan mudah dibujuk, tetapi Reyhan beda dari anak lain.
"Begini, Om tidak bisa jelaskan karena masalahnya sangat rumit," balas Dika.
"Orang dewasa selalu saja begitu, apa kalian pikir anak kecil sepertiku tidak pusing? Kadang aku pusing memikirkan masalah orang dewasa yang rumit itu," kata Reyhan semakin membuat Dika melongo.
"Apa kamu mau bertemu ayahmu? Hanya sebentar," tawar Dika, Reyhan tetap menggeleng.
"Tidak. Aku tahu Om penipu, Om mau menculikku bukan? Aku akan katakan pada Bu Guru dan teman-teman."
"Eh! Tunggu, Om bukan penculik," elak Dika tetapi Reyhan langsung pergi meninggalkan ruang guru berlari ke kelasnya. Memberitahukan teman-temannya.
"Teman-Teman!" teriaknya memasuki kelas, para siswa pun berkumpul mengerumuni Reyhan.
"Ada apa Reyhan?" tanya seorang siswa.
"Kalian harus hati-hati, karena sekarang sudah maraknya penculikan."
"Reyhan dari mana kamu tahu?" tanya temannya.
"Barusan ada yang mengaku sebagai teman ayahku, tetapi aku tidak mengenalnya. Dia ada di ruang guru sekarang," jelas Reyhan.
"Aku jadi takut," kata seorang siswi.
"Aku ingin lihat seperti apa culik itu," kata siswa lain.
Reyhan membawa mereka ke ruang guru. Dika sedang bernegosiasi pada seorang guru, bahwa dia bukan penculik. Namun, para guru itu tidak yakin sehingga akan membawa Dika ke pihak berwajib.
Tiba-tiba Bian datang menyelamatkannya. Bian mengatakan jika Dika adalah teman ayahnya.
"Itu culikny," ujar seorang siswa.
"Dia bukan culik," sanggah Bian menghadang kerumunan. "Aku mengenalnya, dia teman ayahku," jelas Bian.
Dika sedikit lega, akhirnya ada yang mengenalinya.
"Kalian dengar, kan? Om bukan orang jahat, ini salah paham saja," jelas Dika. "Buktinya ada orang yang mengenali Om," tambah Dika.
"Siapa yang bilang Om ku penculik?" tanya Bian tajam. Sepasang bola mata kecil itu menatap pada teman-temannya.
"Reyhan, Reyhan yang bilang." Seorang siswi berkata sambil menunjuk Reyhan.
"Kau!" Tatap Bian dengan tajam.
__ADS_1
"Apa? Jangan marah padaku, Om mu yang bilang jika dia utusan ayahku padahal aku tidak kenal dia," jelas Reyhan dengan suara gemasnya.
Bian melirik Dika lalu berkata, "Om Dika, ayah yang mana yang kamu maksud? Apa ada ayah yang lain selain ayahku?" Dika terdiam, matanya melotot pad kedua bocah itu.
'Kenapa jadi seperti ini? Aku merasa dihakimi anak-anak,' batin Dika.
Akhirnya Dika pergi meninggalkan sekolah, setelah meminta maaf pada semua murid. Pria itu merutuki dirinya sepanjang jalan.
Hendak masuk ke dalam mobil, deringan ponsel mengganggunya. Hingga langkahnya terhenti mengharuskan Dika menjawab telepon itu lebih dulu.
Malasnya kedua bola mata itu berputar, saat tahu Rey menghubunginya.
.
.
Angel mendapat satu pesan dari wali kelas Reyhan, yang mengatakan jika ada seorang pria yang datang menemui Reyhan. Hati Angel semakin gelisah, ketakutan pun semakin menjadi.
"Rey datang menemui Reyhan di sekolah," kata Angel yang berpikir jika pria itu adalah Rey.
Joshua langsung menghentikan pekerjaannya ketika Angel mulai gelisah.
"Rey, pasti ingin membuktikan bahwa Reyhan putranya. Mungkin dia ingin mengakui sebagai ayahnya tapi Reyhan tidak akan mudah percaya benar, kan?" tanya Joshua.
"Ya, wali kelasnya bilang begitu. Namun, aku semakin khawatir," ucap Angel yang sama sekali tidak fokus bekerja.
"Sepertinya kamu butuh istirahat, pulanglah dan jemput Reyhan. Sementara waktu kamu bisa ambil cuti untuk menenangkan diri." Joshua berkata sambil menatap Angel. Joshua pria yang sangat pengertian. Angel pun segera pergi menjemput Reyhan.
"Mama!" teriak Reyhan berlari ke arah Angel.
Angel tersenyum lalu memeluk Reyhan.
"Mama, datang lebih awal? Tadi ada seorang Om-Om yang mendatangiku. Dia bilang utusan ayah."
"Wali kelasmu sudah memberitahu Mama. Itu sebabnya Mama segera datang, takut jika pria itu akan membawamu," tutur Angel.
"Mama tenang saja, Reyhan tidak akan semudah itu percaya," ujar Reyhan. Angel tersenyum.
"Ya, Mama percaya karena kamu anak pintar. Sekarang kita pulang," ajak Angel menuntun tangan Reyhan menuju mobil. .
"Apa kita masih tinggal di rumah ayah Jo?" tanya Reyhan, Angel pun mengangguk. Mungkin Angel akan lebih lama tinggal bersama Jo.
Dari jauh Velove baru datang, langsung memparkirkan mobilnya, dia turun berjalan ke arah gerbang. Bersamaan dengan itu Angel dan Reyhan keluar dari gerbang.
"Mama, aku lupa meninggalkan buku gambarku," ujar Reyhan mengalihkan pandangan Angel yang hampir bertemu pandang dengan Velove.
"Coba Mama lihat di dalam tasmu." Angel berkata seraya menunduk, mencari buku gambar milik Reyhan.
Velove berjalan melewatinya.
"Ini ada," ujar Angel membuar langkah Velove terhenti.
Velove terdiam sejenak, merasa sangat mengenal suara itu. "Angel," ucapnya hendak menoleh.
Namun, teriakan Bian menghentikannya.
"Mama!" teriak Bian. Velove tersenyum yang berjalan ke arah Bian dam tidak jadi menoleh.
__ADS_1
Angel dan Reyhan kembali melanjutkan langkahnya ke arah mobil.