Life After Married

Life After Married
Malam Pertama (?)


__ADS_3

Apartemen elit dengan fasilitas mewah milik Lea adalah satu-satunya harta peninggalan ayahnya. Sampai kapanpun Lea tidak akan menjual apartemennya ini. Karena di apartemen ini menemani hari-hari Lea sejak SMA hingga kuliah.


Pemandangan lampu-lampu indah di bawah sana sebagai tontonan tatkala bosan melanda. Dinding kaca itu tidak pernah mengecewakan menjadi perantara pemandangan dari luar sana.


"Sayang kamu mau makan malam sama apa?" tanya Lea setelah keluar dari kamar mandi.


"Terserah deh," jawab Bian yang duduk di sofa depan televisi.


"Aku pesen terserah aku ya," ujar Lea sembari memainkan ponselnya. Memesan makanan dari aplikasi, karena rasanya Lea malas untuk memasak. Hari ini cukup melelahkan bagi dirinya.


Setelah mengotak-atik ponselnya, Lea membuat dua cangkir kopi untuk dirinya dan suaminya. Lea bosan jika harus menonton televisi, makanya dia berdiri didekat dinding kaca kamarnya. Melihat pemandangan malam ibukota yang tampaknya lama tak dia rasakan.


"Sayang, jadi kapan kita berangkat ke Maldives?" tanya Bian.

__ADS_1


"Tunda dulu saja sayang. Kita masih banyak pekerjaan disini. Aku masih mau menyelesaikan kuliahku dan kamu kan harus memulihkan kondisi perusahaan kamu," ujar Lea.


Bian bangkit dari duduknya, mendekat ke posisi Lea berdiri. "Tapi aku pengen cepet-cepet liburan ke Maldives sayang. Kan itu tempat impian kamu," ujar Bian.


"Gak apa-apalah kita tunda saja dulu. Maldives bisa kapan-kapan," tukas Lea.


"Padahal aku pengen mesra-mesraan berdua sama kamu disana," Bian sudah melilitkan tangannya pada pinggang Lea. Dagunya sudah menempel dibahu mungil istrinya itu.


"Apakah mesra-mesraan harus di Maldives?" Lea mengernyitkan alisnya.


"Alasan saja kamu, mesra-mesraan bisa dimana saja kali," tukas Lea.


"Baiklah kalau begitu," ucap Bian.

__ADS_1


Bian sudah mencium dengan mesra tengkuk Lea, kemudian diputarnya tubuh Lea menghadap kepadanya. Bibirnya mendarat lembut pada bibir sang istri dan mengangkat tubuh mungil itu semakin mendekatinya. Lea melingkarkan tangannya pada leher Bian dan mengimbangi kecupan yang diberikan oleh Bian. Decak saliva keduanya saling bersautan dan bibir mereka terus bersahutan satu sama lain.


Mereka saling berpandangan karena rasa rindu tertahan selama ini yang tidak bisa tersampaikan. Hasrat keduanya yang selama ini tertunda sekian lama kini saling beradu. Menjadikan ruangan itu sebagai saksi bisu pelepas rindu.


"Katamu tak perlu ke Maldives untuk bermesraan. Baiklah akan aku kerjakan sekarang juga," bisik Bian tepat ditelinga Lea.


Meskipun penuturan Bian biasa saja, namun ditelinga Lea bak sebuah ancaman. Berarti malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Lea bersama Bian. Lea sedikit memundurkan langkahnya menjauh dari Bian. Dengan sigap Bian segara menangkap tubuh itu dan mendekapnya erat.


"Kemarilah sayang," ucap Bian.


Lilitan handuk yang menutupi rambut Lea dibuangnya ke sembarang arah. Kini rambut panjang yang basah usai mandi itu tergerai bebas. Membuat Lea tampak lebih seksi dengan rambut basahnya. Membuat tatapan Bian semakin beringas.


Perlahan handuk kimono yang menutupi tubuh Lea telah dilepaskan Bian. Diciumnya setiap lekuk tubuh seksi istrinya itu. Tubuh kecil Lea sudah terangkat dan Bian memindahkannya dari dekat dinding kaca ke ranjang. Diletakkannya tubuh Lea keatas ranjang secara perlahan dan Bian segara menyusul naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Dan malam itu keduanya menuntaskan malam pertama mereka yang telah lama tertunda.


Udah ya, nggak bisa menyusun kalimat selanjutnya 🤐🤐🤐


__ADS_2