
Perpustakaan yang biasanya selalu padat pengunjung, kala itu tampak sepi. Mungkin saat Lea berada disana bertepatan dengan waktu istirahat.
Ketika sedang asyik sibuk dengan laptopnya, tanpa sengaja matanya melihat seorang gadis yang sangat dia kenal. Gadis itu tampak sedang fokus dengan deretan rak buku yang ada didekatnya. Berkali-kali mondar-mandir ditempat yang sama.
"Tumben Oliv ke perpustakaan," lirih Lea.
"Mungkin lagi cari referensi buat skripsi."
Seketika Lea ingat bahwa tempat Olivya berdiri saat itu bukanlah deretan rak buku yang sesuai dengan jurusan kuliah Olivya. Justru dia sedang ada di rak buku bidang kesehatan. Bukan kumpulan rak buku sosial humaniora yang ada di lantai dua perpustakaan itu.
"Aneh sekali," batin Lea kemudian.
"Kalau buat skripsi kenapa di rak kesehatan ya," imbuhnya.
"Samperin saja ah," ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
Olivya tersentak melihat kakak iparnya sudah berdiri tepat disampingnya. Seketika tangan yang tadinya sibuk memilah buku, kini mendadak berhenti. Kelihatan sekali bahwa dirinya seperti sedang salah tingkah.
"Lho kok Oliv aneh sih," batin Lea sebelum membuka pembicaraan.
"E ... e ... eh Lo," ucap Olivya gugup.
"Nga-pain lo disini?" lanjutnya.
"Lagi ngerjain tugas tuh," jawab Lea sembari menujuk tempat duduknya tadi.
__ADS_1
"Kamu ngapain di rak buku kesehatan Oliv?" tanya Lea.
"E ... e ... ini ..." ucapnya terbata dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Lagi nyari buku," jawabnya sekennya.
Ya iyalah sedang nyari buku. Tanpa dikasih tahu Olivya pun, Lea sudah tahu kalau adik iparnya itu sedang nyari buku. Masa nyari ikan dideretan rak buku perpustakaan kampus. Haduh.
"Maksud aku buku apa? Bukannya buku anak komunikasi ada di lantai dua?" ucap Lea.
"Hah? Iyakah?" Olivya tampak terkejut.
"Gue nggak tahu sama sekali. Soalnya gua Beru pertama kali masuk ke perpustakaan," imbuh Olivya.
Ekspresi wajah Lea sedikit terkejut, mekipun dia tidak menghujat adik iparnya yang ternyata tidak pernah ke perpustakaan kampus selama ini. Padahal jika dibilang sibuk, ya tidak. Mungkin karena malas saja ke perpustakaan.
"Ya sudah ayo aku anterin cari buku komunikasi," Lea menawarkan diri.
"Lo mau cari judulnya apa?" tanya Lea.
"Oh iya skripsi lo mau ambil tema apa?" tanya Lea lagi sembari menarik tangan Olivya dan mengajaknya ke lantai dua.
Meskipun dengan langkah ragu, Olivya mengikuti ajakan Lea. Dengan tangan yang digandeng Lea dia berjalan dibelakang dan sedikit pelan. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Olivya. Seharusnya dia senang karena ada pemandu gratis di perpustakaan yang baru pertama kali dia menginjakkan kakinya.
"Oliv kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu mau cari buku judulnya apa?" tanya Lea ketika mereka telah sampai di lantai dua.
__ADS_1
"E ... e ... apa ya ..." Olivya berpikir kembali.
"Gue lupa judulnya," jawab Olivya.
"Yah ..." sahut Lea.
"Udah gue cari sendiri saja. Lo kembali ke aktivitas lo saja," pinta Olivya.
"Coba diingat-ingat dulu deh judulnya," paksa Olivya.
"Siapa tahu aku tahu letaknya," imbuhnya.
Olivya tampak kebingungan karena gagal menyuruh Lea untuk meninggalkannya.
"Sumpah gue lupa," jawab Olivya.
"Gue muter-muter saja sendiri. Nanti juga ketemu," ucapnya.
"Yakin kamu gak apa-apa?" tanya Lea memastikan.
"Gak apa-apa," jawab Olivya singkat.
"Gue ke bawah dulu ya," ucap Lea yang akan beranjak pergi.
Olivya bernapas lega akhirnya Lea pergi dari hadapannya. Tanpa mengucapkan terimakasih, Olivya segera mengelilingi rak buku itu.
__ADS_1