Life After Married

Life After Married
Bab 76- Bertemu


__ADS_3

"Danu, antarkan saya ke apartemen itu " Pinta Fras, pada asistennya. Danu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tidak ada maksud lain untuk pergi ke sana. Fras, hanya ingin melihat mantan istri dan putrinya. Dengan harap bisa bertemu dengan mereka hanya untuk meminta maaf atas kesalahannya yang dulu.


Fras, berdiri dari duduknya. Merapikan sedikit kerah jasnya. Membuang nafasnya pelan, setelah merasa lebih baik kakinya terayun, melangkah keluar dari ruang kerjanya.


"Mari Pak." Ajak Danu, seraya menunjuk 'kan jalannya.


"Saya tunggu di bawah ya Pak." Fras, hanya mengangguk sebagai jawaban.


Danu, melangkah lebih cepat sedangkan Fras, berjalan pelan hingga di pertemukan dengan Rey, sang menantu. Sedetik langkah keduanya terhenti, saat tubuh mereka saling berhadapan. Rey, membungkuk hormat menyambut sang ayah mertua.


"Papa mau pergi?" tanya Rey. Fras, diam sejenak lalu menjawab.


"Ya, aku akan keluar sebentar. Ada yang harus aku temui. Bekerjalah dengan benar mengerti! Aku percayakan padamu jangan buatku kecewa." Ucap Fras, sambil menepuk bahu kekar Rey.


"Tentu. Aku tidak akan mengecewakanmu Papa." Fras, hanya tersenyum. Lalu melangkah pergi meninggalkan Rey.


****


Di tempat lain Syena, terus merengek dan meminta pada Asih. Ingin bertemu dengan om pengacara yang tidak lain Willy, dan Rio. Entah sejak kapan mereka dekat. Mungkin karena Rio, mengajaknya ke mall saat itu.


"Oma, aku mau main." Pinta Syena, yang duduk di pangkuan Asih.


"Main kemana sayang?" tanya Asih.


"Om pengacara," jawab Syena, dengan suara khas nya.


"Oh … om Willy maksudnya." Syena tidak tahu siapa namanya, namun Syena, tetap mengangguk.


"Tapi sayang om pengacaranya pasti sedang kerja. Gimana kalau nanti malam saja." Bujuk Asih, seraya menatap cucunya itu yang semakin menggemaskan.


Syena, terlihat berpikir lalu berkata, "Mau main Oma," rengek Syena.


"Iya, tapi nanti sore ya sayang. Sekarang 'kan Syena, lagi nonton Marsha & the Bear. Lihat tuh Marsya-Nya nakal kaya Syena."


"Main Oma main. Om pengacala Oma."


Berkali-kali Asih, membujuk namun Syena tetap ingin bermain dengan Willy, dan Rio. Asih, tidak akan bisa lagi membujuk jika Syena, sudah merajuk.


Syena, turun dari pangkuan Asih, berlari ke arah rak sepatu dan sendalnya. Sepasang sendal Syena, ambil lalu pergi lagi dan berlari ke arah pintu. Membuat Asih, langsung bergegas mengejar Syena, menahan pintu agar tidak bisa di buka oleh cucunya.

__ADS_1


"Oma!" Syena, merengek sambil menangis dan menjerit karena kesal pintu itu di tahan oleh neneknya. Tingkah lucu Syena, kadang membuat Asih, tertawa dan sedih jika melihat cucunya menangis. Asih, seolah melihat bayangan Dinda, masa kecil.


"Oma buka Oma! Main Oma!" teriak Syena.


Segera Asih, mengunci pintu lalu memangku tubuh mungil itu di bawanya kembali ke ruang tengah. Perlakuan Asih, justru membuat Syena, semakin menangis.


"Syena, sayang dengarkan Oma, berhenti menangis."


Asih, menurunkan Syena, menududuk 'kannya di atas kursi.


"Syena, dengar Oma ya. Kita pergi main tapi Syena, janji jika om pengacaranya sedang kerja kita pulang lagi ya? Janji!"


"Janji." Ucap Syena, di iringi dengan anggukan.


*****


Sinar mentari begitu menyilaukan. Panas teriknya mampu melelehkan keringat dalam tubuh. Cuaca yang cukup mendukung aktifitas di siang ini.


Asih, memuntun Syena, untuk menuruni apartemen. Karena anak itu tidak ingin di gendong dan ingin berjalan sendiri. Namun Asih, tetap memegang tangan cucunya karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Sampai di bawah Syena, terlihat gembira. Syena, berlarian kecil membuat Asih, kewalahan. Apa lagi sampai di jalanan sepasang netra anak kecil itu berbulak-balik menatap kendaraan yang berlalu lalang di depannya.


"Tayo! Tayo!" teriak Syena, saat melihat sebuah bus berwarna biru yang melintas


"Oma, bus Oma. Naik … naik." Asih, hanya tersenyum lalu berlutut.


"Syena mau naik bus? Memangnya Syena, mau pergi kemana?"


"Papa," jawabnya membuat senyum Asih, seketika memudar.


"Syena!"


Panggilan seseorang mengalihkan pandangan mereka berdua. Asih, dan Syena, langsung menoleh ke sumber suara.


"Om pengacala!"


Di lihatnya Willy, yang sedang berdiri di depan kantornya. Satu tangannya terangkat melambai ke arah Syena. Dengan cepat gadis kecil itu berlari menghampiri Willy, membuat Asih, merasa lega.


Rasa lega dan rasa sedih yang di rasakannya saat ini. Syena yang seharusnya bermain dengan sang ayah, mendapatkan kasih sayang sang ayah terpaksa harus tertahan. Masalah kedua orang tuanya telah merenggut kebahagiaannya.


Hingga sampai saat ini Syena, selalu mengharapkan kedatangan sang ayah. Berharap datang untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Maafkan Oma sayang," gumam Asih.


Sedikit hatinya merasa bersalah karena telah melarang Rey, untuk bertemu dengan cucunya. Namun itulah yang terbaik untuk menghindari konflik yang akan datang. Syena, pasti merasa sedih dan juga bingung jika tahu ayahnya telah menikah lagi dan memiliki istri selain ibunya.


Waktu yang belum tepat untuk Syena, tahu semuanya. Karena itu akan menyakitkan hati cucunya.


"Oma!" teriak Syena, sambil melambaikan tangannya.


"Iya!" teriak Asih. Lalu menyeka cairan bening yang sempat turun dari kelopak matanya. Kedua kakinya mulai terayun dan melangkah menghampiri Syena, yang sedang bermain dengan Willy.


Syena, begitu gembira berada di pangkuan Willy, senyumnya begitu merekah. Seolah tidak ada beban dalam hidupnya.


"Oh Tuhan, seandainya Willy, adalah papanya." Sedetik pikiran itu langsung di tepisnya dari benaknya. "Apa yang aku pikirkan ini. Berharap memiliki menantu sepertinya. Aku saja tidak menikah lagi apa lagi Dinda, anak itu juga pasti sangat trauma." Gumam Asih, yang kembali melanjutkan langkahnya.


Di sebrang jalan sebuah mobil BMW hitam terparkir tepat di sebrang kantor New-Dream. Sedetik kaca mobil itu menurun dan terbuka. Memperlihatkan seorang pria tua namun masih terlihat muda.


Pria itu duduk di jok belakang bagian penumpang. Sepasang netranya terus tertuju pada Asih, dan Syena.


"Apa itu cucuku?" tanya Fras, pada Danu, asistennya yang duduk di bagian kemudi.


"Iya Pak. Namanya Syena," jelas Danu.


"Aku seperti melihat putri kecilku. Mereka sangat mirip," gumam Fras. Danu, hanya mengulum senyum seraya menatap ke arah jendela yang memperlihatkan Asih, dan Syena. Danu, sangat mengerti perasaan bos-Nya saat ini.


"Lalu siapa pria itu?" Tatapan Fras, beralih kepada Willy, yang menggendong Syena.


"Sepertinya itu tetangganya Pak," ujar Danu.


"Cari tahu tentang lelaki itu," ucap Fras, lalu beralih menatap gedung di samping kirinya.


Kaca jendelanya mulai di turunkan. Di dongakkan kepalanya ke atas untuk melihat nama yang terpampang di atas gedung itu.


"Miranda Grup," gumamnya lirih.


"Miranda Grup, salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan kita. CEO-Nya bu Miranda, sekretarisnya putri anda." Danu, menjelaskan.


"Jadi di sini putriku bekerja." Lirihnya yang masih terus menatap gedung itu. Dalam waktu bersamaan Dinda, keluar dari dalam gedung itu. Fras, masih mengingat wajah Dinda, yang sempat memanggilnya kemarin. Dan sekarang Fras, kembali di pertemukan dengan putrinya.


"Dinda," ucap Fras, yang tercengang.


Dinda, terus berjalan tanpa melihat ke sekelilingnya. Yang di lihatnya saat ini hanya Syena, putrinya yang sedang bermain di sebrang jalan sana.

__ADS_1


Sedangkan di dalam mobil. Tangan Fras, mulai membuka pintu mobilnya. Berniat untuk menemui Dinda.


__ADS_2