
Velove sedang mengayun-ngayunkan Bian, dalam pangkuannya. Tepat jam sembilan malam Rey, masih belum pulang, dan Bian terus saja menangis. Begitu lelah, karena tidak ada seorang pun yang menggantikannya menjaga Bian.
"Anak Mama sayang, jangan nangis lagi ya, bentar lagi papa pulang." Velove mencoba menenangkan Bian.
Mungkin, Bian masih merasakan sakit di bahunya karena bekas suntikan tadi pagi. Memang, bayi yang sudah melakukan imunisasi akan sangat rewel, karena memberikan efek demam pada anak.
Sudah cukup menimang-nimang, Velove pun langsung membawa Bian menidurkannya di atas ranjang.
Wajah imut itu tertidur pulas, walau masih terlihat memerah karena bekas tangisan. Di tatap wajah itu dengan lekat, yang di usap lembut dengan jari-jari tangannya.
"Syukurlah, akhirnya tidur juga. Tapi kemana Rey? Jam segini belum pulang."
Di lihatnya arah jarum jam yang terus bergerak. Di ambil sebuah benda pipih di atas nakas. Jari tangannya mulai menari-nari di atas layar datar itu. Sedetik benda itu di tempelkan pada daun telinga. Baru saja akan menghubungi Rey, tiba-tiba suara deruan mobil terdengar berhenti di depan rumahnya.
Siapa lagi kalau bukan Rey, senyum Velove langsung merekah. Langkahnya terayun segera membukakan pintu untuk sang suami.
Pintu terbuka lebar, memperlihatkan sebuah kepalan tangan yang hendak mengetuk, senyuman itu masih bertengger sebelum akhirnya menciut saat melihat seorang wanita yang berada di belakang Rey.
Sorot mata Velove berubah jadi tajam, senyum merekah seolah hanyut di telan malam. Seharian menunggu suami pulang, tetapi saat datang membawa wanita lain. Wanita yang paling dia benci.
"Kamu!" Mata tajam itu menyorot pada Angel.
"Sayang tenang dulu," tahan Rey. "Kita masuk dulu."
"Untuk apa kamu membawa wanita ini?"
"Iya, tenang dulu. Nanti aku jelaskan di dalam."
Dengan nafas memburu yang hampir saja ingin meledak. Velove terpaksa menahannya untuk mendengarkan penjelasan dari Rey.
Mereka melangkah bersamaan memasuki rumah hingga duduk di sofa. Nafas berat Velove hembuskan, lalu bertanya kembali tentang kedatangan Angel ke rumahnya.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu membawa wanita ini?"
Rey, melirik Angel sejenak dan kembali menatap Velove.
"Begini …," ucap Rey tertahan. Entah karena bingung atau memikirkan perasaan Velove, setelah mendengar penjelasannya.
__ADS_1
Angel, yang tidak sabar menunggu segera mengatakan alasan, tetapi langsung di sanggah oleh Rey. Entah apa yang akan Angel, ucapkan. Namun, wajahnya terlihat kesal setelah mendengar penuturan dari Rey.
"Angel, aku bawa untuk membantumu menjaga Bian. Selagi Mama sedang di luar kota. Setidaknya kamu tidak terlalu capek 'kan sayang."
Sedetik Angel menoleh pada Rey, mata sipit itu terbuka dengan lebar, tersirat api amarah dalam pupil mata yang tersembunyi. Mungkin, bukan itu perjanjian antara dirinya dengan Rey. Dan lagi-lagi Rey, mengingkari.
Segera wajah itu berpaling, seolah tak sudi menatap lelaki yang selalu ingkar padanya. Entah apa alasan Rey, mengatakan semua itu, yang bisa Angel lakukan hanyalah mengepalkan tangannya erat.
"Aku tidak butuh bantuannya," tolak Velove, "Sekarang suruh dia pergi."
"Sayang."
Lagi-lagi hati Angel di buat panas. Gejolak dalam hati seakan tidak lagi bisa tertahan, lahar api ingin segera membeludak. Dalam waktu yang lama tangan gagah itu menyentuh lembut jemari Velove.
Dan, hanya nafas berat sebagai pelanpiasan yang Angel lakukan. Menghela nafas sepanjang mungkin.
Di anggap apa keberadaannya? Baru saja beberapa menit tinggal bersama sudah banyak sakit yang ia rasakan. Ingin rasanya berontak tapi … apa daya tangan hanya bisa mengepal dan mulut tak bisa berkata. Jeritan hati yang kini ia rasakan.
Namun, apakah Rey, akan mendengar? Mustahil, Tuhan pun belum tentu mendengar. Dosakah Angel, mengingkari Tuhan-Nya? Yang Maha mendengar dan melihat, begitupun dengan yang di alaminya saat ini.
Mata indah Velove terus menatap tangannya yang di genggam. Perlahan tatapannya mendongak, beralih kepada Rey, yang menyambut dengan senyuman manisnya. Tentu saja hati Velove, luluh seketika.
"Aku tidak ingin kamu lelah, bukankah kamu yang bilang, jika kamu butuh seseorang yang menjaga Bian. Sebelum Mama Rita kembali setidaknya ada Angel yang menemani."
"Percuma saja, dia tidak akan membantu karena setiap pagi dia akan pergi ke kantor bersamamu!" protes Velove.
"Tidak," sanggah Rey. "Angel, sudah tidak bekerja lagi denganku. Itu sebabnya aku membawanya. Angel, juga membutuhkan pekerjaan."
Bibir Angel tersungging tipis, tidak menyangka jika dirinya hanya di anggap seorang pengasuh bukan istrinya.
"Jahat kamu Mas, kamu bilang akan mengatakan semuanya, tapi apa? Semua yang kamu katakan tidak sesuai janji." Angel, mengatakan semua itu hanyalah dalam hatinya.
"Baiklah, aku terima dia jadi pengasuh anakku. Tapi ingat! Jangan pernah kamu goda suamiku!" tegas Velove, dengan mata mendelik. Lalu tubuhnya segera bangkit dan masuk ke dalam kamar.
Kini tinggal Angel dan Rey berdua.
"Ikut aku."
__ADS_1
Rey, menuntun Angel membawanya ke halaman belakang. Sudah pasti jauh dari pantauan Velove. Angel masih kesal, sesekali ingin melepas genggaman tangan Rey, tetapi cengkraman Rey lebih kuat di bandingkan tenaganya.
"Lepas!"
Sesampainya di belakang, tangan itu Angel hempaskan.
"Kamu anggap aku apa Mas? Semua yang kamu katakan tidak sesuai janjimu."
"Dengarkan aku dulu."
"Apa lagi yang harus aku dengarkan! Aku butuh pengakuanmu bukan untuk menjadi pengasuh anakmu!"
"Kamu yang ingin kita tinggal bersama 'kan? Inilah cara satu-satunya agar kita bisa tinggal bersama."
"Dasar pecundang."
"Terserah mau kamu bilang apa. Angel, berikan aku waktu untuk menjelaskan. Setidaknya sampai Velove sembuh. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya, kamu tahu apa yang terjadi sebelumnya? Bian hampir jadi korban, jika kita mengatakan pernikahan kita siapa yang akan jadi korban? Bian atau Velove, yang mungkin saja dia akan melukai dirinya sendiri."
"Apa kamu tidak berpikir? Aku juga korban Mas, sampai kapan aku harus berkorban."
"Sabar, sabarlah dulu. Aku mohon."
Belaian lembut Rey, berikan. Di sentuhnya tangan Angel, lalu di kecupnya dengan hangat.
"Setelah ada waktu yang tepat. Aku janji akan mengatakan semuanya."
Satu kecupan mendarat di keningnya, menurun menyusuri setiap inci wajahnya, hingga mendarat mulus pada benda kenyal yang siap di hisap dengan lembut.
Hanya sedetik kecupan itu Rey, berikan sebelum akhirnya di lepaskan.
"Aku akan segera kembali. Kamarmu ada di sana, dekat ruang tamu." Katanya yang menangkup wajah Angel, lalu mengecup kembali bibir itu yang sudah menjadi candu.
Rey, berlalu pergi tanpa menghiraukan Angel yang masih menatapnya.
"Lihat saja nanti Mas, jika kamu tidak bisa menepati janjimu. Aku yang akan mengatakan semuanya," batin Angel, dengan sorot mata tajamnya.
Dengan satu kali hentakan ia melangkah menuju kamar yang Rey, arahkan.
__ADS_1