
Berbeda dengan Dinda yang sedang sibuk melakukan pindahan rumahnya. Velove sedang melakukan SPA di sebuah salon.
Hampir setiap hari setelah kedatangannya ke rumah Dinda. Pertemuan yang membuatnya kesal karena Dinda menghina penampilannya. Kata-kata jijik itu lah yang menusuk ke dalam hatinya.
Suara deringan ponsel mengganggu aktifitasnya yang sedang tidur tengkurep, menikmati setiap sentuhan, pijatan yang merileks 'kan tubuhnya hingga membuat matanya terpejam.
Di ambilnya benda pipih itu di atas meja yang berada di samping tidurnya. Tanpa melihat nama yang tertera Velove langsung menjawabnya.
"Halo!"
" … "
"Apaan sih enggak jelas."
Merasa tidak ada yang penting Velove mematikan sambungan telepon itu lalu di tutup kembali. Kepalanya kembali ia tenggelam 'kan di atas bantal. Hingga kegiatan Spa pun selesai.
"Enaknya badanku ini. Wajahku juga semakin halus, cantik, pokoknya beda banget sama Dinda. Enak aja dia bilang jijik ada juga kamu yang jijik Dinda." Gerutu Velove seraya melangkah pergi.
Baru setengah langkah ponsel nya kembali berdering membuat Velove harus mengangkat telepon nya dan menghentikan langkahnya.
Di ambilnya benda pipih itu di dalam tasnya. Di tekannya ikon hijau dengan simbol telepon, lalu di dekatkan pada daun telinganya.
"Iya Ma ada apa?" Suaranya terdengar manja. Mungkin begitu lah anak kesayangan.
"Kamu dimana?" Pekik kan Rita terdengar di ujung sana. Sepertinya sedang marah.
"Di salon habis SPA," jawab Velove malas.
"Kamu bilang dari salon. Bukannya ke perusahaan malah pergi ke salon. Sekarang juga kamu pulang."
"Ma, di perusahaan kan sudah ada Rey, ngapain aku ke sana."
"Pulang sekarang ada yang harus kita bicarakan. Cepat!"
"Iya bawel."
Sambil menggerutu Velove, mematikan ponselnya. Rasa kesalnya masih belum hilang. Bisa-bisanya Rita memarahinya hanya karena tidak pergi ke perusahaan.
Di tempat lain, Danu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Satu tangannya bergerak membuka pintu, setelah masuk pintu itu pun di didorong kembali agar tertutup.
Dengan langkah tegap Danu berjalan ke arah meja kerja yang terlihat Fras, sedang duduk di kursi kebesarannya. Danu menunduk hormat saat tiba di depan Fras, lalu menyampaikan berita yang dinilai penting oleh Fras.
"Pagi Pak. Saya dapat kabar bahwa mereka sudah pergi dan pindah ke surabaya. Tepat pada hari ini. Dan Dinda juga sudah menandatangani suratnya." Jelas Danu yang menyodorkan satu buah dokumen ke hadapannya.
Fras, langsung mengambil dokumen itu dan hanya melihat-lihat. Lalu kembali di letak kan di atas meja.
__ADS_1
"Hubungi staf kita di Snack Food. Untuk memulai rencana kita jangan sampai di ketahui Dinda."
"Baik Pak, segera saya sampaikan."
"Kamu boleh pergi Danu."
"Pak Fras ada yang ingin saya katakan," ucap Danu ragu.
"Tentang apa? Katakan saja."
Danu terdiam sejenak. Memikirkan apa yang akan di katakannya. Danu tidak ingin perkataannya membuat sang bos drop apa lagi Fras, memiliki riwayat jantung.
Kabar yang baru saja diketahui nya jika Rita menyembunyikan rahasia besar. Velove bukan lah anak Fras melainkan anak orang lain. Danu tidak bisa tinggal diam dan harus segera memberitahukan nya pada Fras.
"Danu!" panggil Fras, mengejutkannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?"
"Sebenarnya ada rahasia besar pak."
"Rahasia besar? Rahasia apa dan siapa yang memiliki rahasia?"
Danu menghela nafasnya panjang lalu di hembuskan perlahan. Fras melihst dada sekretarisnya itu naik turun seolah sedang mengatur nafasnya. Tidak biasanys Danu bersikap seperti itu. Tegang dan gugup.
"Sebenarnya …."
Panggilan seseorang menghentikan ucapannya. Danu dan Fras melirik ke arah sumber suara di lihatnya Rita sedang menutup pintu. Lalu berjalan ke arah mereka.
"Mama, ada apa ke sini?" tanya Fras tercengang dengan kedatangan Rita. Dengan cepat Fras, langsung menyembunyikan dokumen yang baru saja di berikan oleh Danu.
"Apa tidak boleh Mama datang Pa. Mama ingin mengajak Papa makan siang. Sudah lama 'kan kita tidak makan siang bareng. Sekalian saja Mama ingin melihat Rey, apa bekerja dengan baik atau tidak." Ujar Rita, yang menaruh tas nya di atas meja memeluk Fras lalu mengecup pipinya.
Danu yang berdiri di depannya merasa tidak di anggap. Mata jelinya menatap sinis pada istri bosnya itu seakan tidak suka karena mengetahui sifatnya.
"Masih lama Ma, masih ada waktu satu jam untuk makan siang."
"Sengaja Mama datang lebih awal Pa." Ujar Rita lalu duduk di sofa. Dengan satu kaki yang di tumpu kan.
Fras kembali menatap Danu, yang sempat akan mengatakan sesuatu padanya.
"Danu tadi kamu bilang apa?"
"Tidak pak, tidak ada." Ujar Danu yang langsung menunduk hormat.
"Apa perlu saya memesan satu ruang VIP untuk kalian makan siang?" tanya Danu mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Boleh juga iya 'kan Papa." Ujar Rita, yang tersenyum simpul pada Fras, namun sepasang netranya menatap Danu dengan tajam.
"Kalau begitu saya permisi. Saya akan booking ruang VIP untuk makan siang anda." Danu pun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Rita terus menatap tajam punggung Danu yang mulai menghilang.
"Papa, Mama keluar dulu ya." Ujar Rita yang langsug berdiri dari duduknya. Fras hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun.
Di ayunkan langkah jenjang itu berjalan keluar dari ruangan itu. Setibanya di luar sepasang netranya mencari sosok pria yang baru saja pergi. Di lirik nya kiri dan kanan pria yang dia cari masih berjalan gontai menyusuri koridor hingga sampai di depan lift.
Tidak ingin tertinggal Rita langsung mengejar pria itu yang tidak lain adalah Danu.
Pintu lift terbuka, Danu memasuki lift itu. Jari tangannya menekan satu tombol angka yang akan dia tuju. Pintu lift mulai tertutup namun, tertahan terbuka kembali.
Danu menatap datar pada Rita yang tengah ada di hadapannya saat ini. Sedetik Danu membungkuk masih dengan wajah datarnya.
Rita memasuki lift dan berdiri di samping Danu. Pintu lift kembali tertutup dan mulai bergerak menurun.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Suasana hening seketika. Tatapan keduanya sama-sama fokus ke depan. Selang beberapa menit Rita, mulai membuka suara.
"Apa yang akan kamu katakan pada Fras?"
Seketika Danu menoleh setelah mendapat pertanyaan itu dari Rita.
"Tidak penting hanya pekerjaan," jawab Danu datar.
"Oh ya, pekerjaan apa? Sehingga kamu tidak jadi mengatakannya saat di depanku."
Danu masih diam tanpa kata.
"Apa tentang aku yang merahasiakan tentang Velove?" Danu merasa heran apa Rita mendengar pembicaraannya dengan Fras.
Sedetik wajah Rita melirik ke arah Danu yang berdiri di sampingnya. Tatapan nya begitu tajam tanpa senyuman sedikit pun.
"Aku tahu kamu akan mengatakan jika Velove bukan lah anak kandung Fras bukan."
Danu membelalak kan matanya. Darimana Rita tahu jika dirinya sudah mengetahui rahasia nya tentang Velove bukan anak kandung Fras.
"Lebih baik kamu diam, jangan mengatakan apa pun pada suamiku. Akan ku berikan setengah saham untukmu jika kamu bisa tutup mulut."
"Setengah saham?" Danu menaik kan sedikit alisnya, memicingkan kedua matanya.
"Ya, setengah saham. Bagaimana bukan kah itu tawaran yang bagus. Asal kamu mau tutup mulut tidak akan mengatakan apa pun pada Fras."
Danu tersenyum simpul.
__ADS_1
...----------------...
Kira-kira Danu terima gak ya tawarannya?