Life After Married

Life After Married
Kerang Cabai Hijau


__ADS_3

Malam harinya semua anggota keluarga telah siap dimeja makan. Termasuk Gigi yang menjadi anggota keluarga sementara, alias menumpang. Entah apa maksud dan tujuannya menumpang di rumah orang. Padahal dia punya rumah sendiri.


"Wah makan malamnya tampak lezat semua," dengan tak tahu malu Gigi mengatakan itu.


"Ayo dimakan sayang, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri," ujar Dwita kepada Gigi.


Bian mengernyit heran sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua perempuan itu. Yang satu tidak tahu malu, sudah menumpang tetapi berlagak seperti rumahnya sendiri. Dan yang satunya main mengajak orang lain menumpang di rumahnya. Tak paham dengan pemikiran mereka, batin Bian.


Makan malam pun berlangsung dengan khidmat. Semua menikmati semua masakan yang tersedia dimeja makan. Dan malam ini menu yang paling laris hingga tak tersisa lagi dipiringnya adalah kerang cabai hijau.



"Kerangnya enak ya tante," ucap Gigi usai menyuapkan sendok terakhirnya.


"Iya dong sayang, jelas enak. Itu kerang cabai hijau masakan bibi," ucap Dwita.

__ADS_1


"Kalau kamu suka mami suruh bibi sering-sering masakin kerang cabai hijau deh. Soal ini adalah makanan kesukaan kamu dan Bian," imbuhnya.


"Beneran enak tante," puji Lea sembari mengecap-ecapkan sisa makanan yang ada di mulutnya.


Mata Bian sibuk melirik tingkah perempuan tidak tahu malu itu. Sudi rasanya menoleh kearah perempuan itu. Jadinya dia hanya melirik tingkah joroknya itu. Dasar Nggak tahu malu, pikirnya.


Seperti biasanya setelah acara makan malam selesai. Yati datang ke meja makan dan membereskan piring yang telah selesai digunakan.


"Bibi kerang cabai hijaunya enak banget," puji Gigi.


"Baik nyonya," Yati mengiyakan permintaan majikannya dengan sopan.


"Tapi untuk kerang cabai hijau malam ini hasil masakan Nona Lea," sambungnya.


Dwita dan Gigi terkesiap mendengar penuturan Yati. Bahkan saking kagetnya mulut keduanya ternganga. Rasanya campur aduk, ada rasa malu sekaligus menyesal telah memuji habis-habisan masakan Lea malam ini.

__ADS_1


"M4mpus lo," batin Bian seraya tersenyum sinis. Langsung saja dia mengerlingkan matanya kearah Lea. Dan dibalas senyuman manis dari bibir istrinya itu.


"Memang masakan Lea selalu enak ya mami. Padahal ini Lea baru saja belajar memasak lho," sindir Bian.


"Bian pinter kan milih istri, ternyata pinter masak," sambungnya.


"Terimakasih ya sayang aku. Sudah masakin makanan kesukaan aku dan rasanya lezat sekali," ucap Bian seraya mencium kening istrinya.


"Sering-sering ya masak kaya gini. Biar semua anggota keluarga ini merasakan nikmat tiada Tara dari masakan kamu sayang," pungkasnya seraya melepaskan ciuman pada kening Lea. Lea pun hanya mengangguk dan tersenyum bangga. Akhirnya masakannya benar-benar tidak mengecewakan.


Sementara itu ekspresi datar ditunjukkan dari Dwita dan Gigi. Pasalnya pujian-pujian atas masakan Lea sudah terlontar indah dan tidak bisa ditarik kembali. Ya memang sejujurnya dari hati mereka mengatakan masakan Lea sangatlah lezat. Namun, setelah mengetahui bahwa itu masakan Lea yang telah mereka puji habis-habisan. Kedua perempuan itu menyesal dan ingin rasanya menarik semua ucapannya.


Untuk menutupi rasa malunya, Dwita segera beranjak berdiri dari kursinya. "Maaf masakannya tidak jadi enak," sewot Dwita sembari berlalu dari meja makan.


"Huek! ... Bentar mau muntah dulu karena masakan ini," ucap Gigi yang juga berlari menyusul Dwita.

__ADS_1


Bian beserta Pranoto hanya mengelengkan kepalanya. Lea dan Yati hanya tersenyum melihat tingkah dua orang itu. Dan Olivya terdiam seraya membatin, "Untung gue diam dari tadi."


__ADS_2