Life After Married

Life After Married
Kejutan


__ADS_3

Lupakan sejenak cerita Olivya, kita kembali pada kemesraan Bian dan Lea. Sepulang kerja, Bian memasuki kamar dengan sumringah. Menampakkan wajah yang berseri-seri, satu tangannya dia sembunyikan dibalik tubuh kekarnya.


Sementara Lea yang sedang menonton drama melalui televisi LED-nya, sama sekali tidak sadar dengan kehadiran Bian. Dia tetap fokus pada drama yang sedang ditontonnya. Satu tangan Bian yang lainnya menutup kedua mata Lea.


"Eh, sudah pulang sayang?" tanya Lea yang sudah menebak itu suaminya.


"Sayang apa-apaan sih. Kenapa harus jail gini?" protes Lea.


"Lepasin dong sayang," pintanya.


Cukup lama tangan itu menutup penglihatan Lea. Namun, tidak juga ada niatan tangan itu beralih. Jangankan beralih, si pemilik tangan saja enggan untuk mengeluarkan suaranya. Jadilah keadaan menjadi hening seketika.


"Lepasin nggak? Nggak usah jail deh!" seru Lea yang mulai kesal.


"Nggak usah sok misterius deh! Aku tahu kamu Bian. Suami aku yang sok misterius," tebak Lea.


"Buruan lepasin!"


"Kamu gak bisa jahil sama aku. Bau badan kamu saja sudah ketahuan kok!" ledek Lea sembari menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Merasa gagal dalam hal kejahilannya, Bian pun langsung melepaskan tangannya dari penglihatan Lea. Dan Lea pun mengercapkan matanya. Mencoba beradaptasi dengan ruangan sekitar. Kemudian dia berbalik dan menatap orang yang berbuat kejahilan padanya.


"Tuh kan! Lea tidak bisa kamu jahili ya!" ledek Lea ketika tebakannya benar.


"Iya deh, iya ..." ujar Bian.


"Kamu ngapain pakai acara tutup mata segala sih?" tanya Lea.


"Habisnya fokus banget nonton dramanya. Sampai-sampai aku datang saja kamu gak tahu sayang," protes Bian dengan sok cemberut.


"Habisnya lagi seru ini dramanya," balas Lea dengan senyum tanpa salahnya.


Bian masih berdiri pada posisinya semula dengan satu tangan yang masih dia sembunyikan. Lea yang penasaran pun mencoba mencari sesuatu dibalik badan sang suami. Dengan cepat Bian menghalanginya dengan bergerak ke kanan dan kiri.


"Sini coba mau lihat." Lea masih berusaha mencari sesuatu dibalik badan Bian.


"Mau tahu aku bawa apa?" tanya Bian.


"Kiss dulu!" pinta Bian sembari memajukan bibirnya.

__ADS_1


Dan ciuman sekilas itu pun terjadi sebagai syarat agar Lea bisa mengetahui apa yang sedang disembunyikan suaminya. Dalam hitungan ketiga, sesuatu yang dibawa Bian sampai tepat dihadapan Lea. Buket bunga mawar biru yang dirangkai dengan indahnya.


"Apa-apaan ini?" Lea penasaran karena saat ini tidak ada hari perayaan apapun. Tetapi kenapa suaminya memberinya bunga kesukaan.


Setelah menerima bunga pemberian suaminya, mata Lea menangkap sebuah surat yang terselip diantara bunga-bunga tersebut. Diambilnya surat itu dan segera dibuka, matanya membaca dengan seksama isi didalamnya.


"Wah! Terimakasih sayang!" Lea menghambur memeluk Bian.


"Terimakasih banyak sayang," lanjutnya.


"Kamu suka?" tanya Bian.


"Suka banget ... banget ... benget ..." jawab Lea bersemangat.


Bian mengusap punggung istrinya yang masih berada dipeluknya. Berada dipelukan Bian adalah tempat ternyaman. Karena hanya Bian yang saat ini Lea miliki di dunia ini.


"Ini yang aku impikan sejak dulu sayang," lirih Lea.


Ya, amplop tersebut berisi dua tiket bulan madu ke Maldives. Bian memang sudah sejak dulu tahu, bahwa istrinya itu memimpikan bulan madu di pulau tersebut. Pulau kecil yang dikelilingi laut biru yang menawan. Siapapun pasti tidak akan menolak jika diajak bulan madu di Maldives.

__ADS_1


"Terimakasih," tutup Lea sebelum akhirnya melumatt bibir Bian dengan lembut. Memberikan sebuah hadiah kecil bagi sang suami yang baru saja memberikan sebuah hadiah besar. Mungkin hanya dengan melayani suami yang dapat Lea berikan untuk Bian.


Tanpa ampun Bian membalas ciuman yang diberikan sang istri. Saling membalas ciuman satu sama lainnya. Bahkan Bian terlihat lebih rakus dari permulaan yang diberikan Lea. Hingga tangannya dengan tidak sabar menjamah semua bagian badan milik Lea. Mendorong istrinya perlahan ke atas sofa, karena hanya sofa tempat yang saat ini dekat dengan keduanya. Dan akhirnya malam itu pun mereka lewati dengan keringat yang bercucuran.


__ADS_2