
Daripada suntuk hanya di rumah saja. Bian mengajak Lea untuk pergi ke mall dan berbelanja. Mumpung weekend dan keduanya sedang tidak ada pekerjaan.
Sesampainya di mall terbesar di ibukota itu. Bian dan Lea memutuskan untuk menonton bioskop. Kebetulan sudah lama sekali tidak menonton bioskop. Terakhir waktu mereka pacaran dulu.
"Kamu mau belanja apa sayang?" tanya Bian saat keluar dari studio bioskop usai film yang mereka tonton selesai.
"Hmm ... Nggak usah belanja saja deh," jawab Lea.
"Bingung juga mau belanja apa. Kayaknya nggak ada kebutuhan yang mendesak deh," sambungnya seraya berpikir lagi. Siapa tahu dia sedang membutuhkan sesuatu.
"Yakin nih?" Bian memastikan.
Lea hanya menggelengkan kepalanya. Rasa-rasanya memang dia tidak membutuhkan sesuatu. Jadi dia pun menolak untuk berbelanja. Tapi sebentar dulu, Lea masih memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Sudah belanja aja. Bebas barang yang kamu mau," perintah Bian.
"Ih beneran tau. Lagi nggak pengen apa-apa," balas Lea.
"Sayang sekali punya istri irit, jadi uang aku semakin banyak kalau nggak kamu gunakan," ucap Bian.
Lagi-lagi Bian terkesima melihat perilaku istrinya saat ini. Soalnya dia tahu betul, dahulu Lea adalah seorang perempuan yang gila belanja. Mungkin jika dihitung setiap minggu ke mall bisa 5-6 kali. Dan sepulang dari mall, pasti akan banyak bawaan ditangan kanan dan kirinya. "Kok sekarang dia nggak gila belanja lagi ya," batin Bian.
"Ya sudah sekarang kamu mau apa?" tanya Bian.
"Hmm ... apa ya?" Lea tampak berpikir.
__ADS_1
"Udah jalan-jalan muter mall aja deh," sambungnya.
"Yakin nih?" Bian memastikan lagi. Langsung saja Lea menyambar lengan Bian dan mengajaknya melanjutkan langkah mereka.
Setelah berkeliling mall dengan sesekali duduk dan memesan minuman atau makan ringan. Akhirnya mereka merasa lelah karena terlalu bersemangat jalan. Dan keduanya duduk pada salah satu bangku yang disediakan untuk umum.
"Makan yuk," ajak Bian.
"Gak mau ah!" tolak Lea.
"Lho kenapa?"
"Kan niatnya jalan-jalan, ngapain makan?"
"Tapi kan lapar sayang. Masa jalan-jalan nggak pake makan."
Puas jalan-jalan di mall itu, mereka memutuskan untuk pulang. Dengan bergandengan tangan mereka menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba langkah kaki Lea berhenti melangkah.
Bian menoleh ke arah istrinya sembari mengangkat salah satu alisnya. Sebagai isyarat pertanyaan, Mengapa berhenti?
"Kayaknya aku melupakan sesuatu deh sayang," ucapnya pelan karena takut Bian akan marah.
"Apa?" tanya Bian.
"Aku pengen beli sesuatu," ucap Lea segera berbalik dan masuk kembali ke dalam mall.
__ADS_1
Meskipun pemikiran Lea sudah berubah manjadi lebih dewasa dari sebelumnya. Ternyata untuk sifat pelupanya masih menempel erat pada dirinya.
Lea berjalan ke sebuah butik yang menjual pakaian branded. Dia mengambil kemeja putih polos dan rok hitam selutut. Pakaian itu akan digunakan untuknya menghadapi sidang skripsi nanti. Walaupun masih beberapa bulan lagi, tetapi Lea adalah tipe manusia yang suka mempersiapkan segala sesuatu lebih awal.
"Sudah segitu saja?" tanya Bian mengeluarkan kartu ATM-nya.
"Sudah kok," jawab Lea singkat.
Bian mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri. Seraya berkata, "Kau jangan mempermalukan aku. Kita menghabiskan uang yang sedikit di toko berkelas ini. Ayo tambah belanjaannya lagi," bisik Bian.
"Oh ini biar aku saja yang bayar," kata Lea.
"Bukan begitu maksudnya. Ayo cepetan tambah barang belanjaannya!" perintah Bian.
Melihat barang yang akan dibeli Lea dengan total harga Rp. 2.499.000, Bian merasa keberatan untuk membayarnya. Bukan karena uang yang akan dia keluarkan. Namun, merasa tidak enak jika belanja di toko berkelas yang menjual barang-barang branded dan hanya mengeluarkan uang segitu.
"Kamu meragukan uangku sehingga belanjaan kamu hanya segitu?" Bian tampak sinis.
"Bukan begitu, uang bisa kita tabung untuk masa depan sayang," ucap Lea.
"Bisa buat buka usaha baru, buat sekolah anak, buat investasi, dan masih banyak lagi sayang. Kita harus memikirkan masa depan kita," sambung Lea.
"Masa depan udah aku persiapkan untuk kekayaan tujuh turunan pun. Jangan sekali-kali kamu meremehkan uangku ya," Bian tidak terima dengan perkataan Lea.
"Kalau mau ini mall aku beli saja bisa!" pungkasnya.
__ADS_1
"Ya sudah beli saya mall-nya sekalian buat investasi," ucap Lea seraya cengengesan dan mengacungkan dua tangannya membentuk huruf V.
Memang Lea tidak hanya dewasa dalam berpikir. Rupanya kedewasaannya juga dalam urusan finansial keluarga. Baguslah anak manja sudah lebih mandiri. Lanjutkan Lea!