Life After Married

Life After Married
Mendadak Pergi


__ADS_3

Dering ponsel milik Olivya terdengar nyaring. Si pemilik ponsel segara merogoh ponsel dari saku celananya. Ditempelkannya ponsel itu pada telinganya.


Dengan seksama Olivya mendengarkan orang yang berbicara dengan dirinya melalui sambungan telepon itu. Tidak lama Olivya pun beranjak berdiri menjauh dari posisinya semula. Lebih tepatnya seperti menjauh dari Lea.


"Telepon dari siapa? Kok kayaknya rahasia banget," batin Lea.


Mungkin dia sedang membicarakan sesuatu yang rahasia. Lea pun memaklumi hal tersebut dan membiarkan adik iparnya itu menerima teleponnya dulu.


"Mendingan lanjut ngerjain tugas saja deh," Lea kembali fokus pada laptop di depannya.


Olivya masih mendengar pembicaraan dari seseorang diseberang teleponnya. Dia pun melangkah mendekati Lea dengan ponsel yang masih menempel pada telinganya. Dengan isyarat tangan, Olivya mengatakan sampai jumpa. Lea mengerti apa maksud lambaian tangan Olivya.


"Oliv mau kemana?" tanya Lea lirih agar tidak menganggu pembicaraan di telepon Olivya.


"Mau pergi kemana?" lanjutnya.


"Ada urusan penting dan mendadak," ucap Olivya yang telah melangkah pergi..

__ADS_1


"Sama siapa Oliv?" tanya Lea lagi.


"Bukan urusan lo!" jawab Olivya singkat, padat, dan jelas.


Gadis itu segera berjalan menjauh dari mejanya. Jika sudah mendengarkan kalimat tersebut. Lea sudah tidak berani lagi bertanya apalagi melarang Olivya untuk pergi. Bisa-bisa dirinya yang akan terkena marah dari Olivya.


Namun tak berselang lama, suara Lea terdengar kembali.


"Oliv ... Olivya ..." teriak Lea.


"Oliv ... buku kamu ketinggalan," imbuhnya.


Lea yang sadar akan kesalahannya pun, mengatakan "maaf" dengan gerakan mulut dan tanpa bersuara. Untuk menutupi rasa malunya dia segara kembali menatap laptopnya.


"Eh dasar Olivya," batinnya.


"Mau pinjam buku kok bukunya ditinggal."

__ADS_1


Lea menggelengkan kepala melihat sikap adik iparnya itu. Tetapi beruntungnya dia hari ini tidak mendapat bentakan keras dari Olivya. Sedikit bentakan yang keluar dari mulut Olivya, tidak apalah bagi Lea. Karena Lea paham betul sifat Olivya sebelumnya. Apakah ini artinya Olivya sudah luluh dengannya. Atau memang Olivya sudah menjadi anak yang baik dan tidak suka marah-marah? Semoga saja Olivya tetap seperti ini.


Dirasa cukup mengerjakan tugasnya, Lea bergegas untuk kembali pulang. Tidak lupa memasukkan buku yang dipinjam Olivya ke dalam tasnya. Siapa tahu Olivya masih membutuhkan buku itu. Dengan sumringah Lea melangkah keluar perpustakaan.


*


*


*


Sementara itu Olivya tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang di siang itu. Beberapa kali dia tetap mengoperasikan ponselnya untuk mengirim pesan singkat.


Sebuah restoran menjadi tujuan mobil yang ditumpangi tumpangi oleh Olivya. Setelah masuk ke dalam restoran. Matanya memindai setiap sudut restoran. Mencari sosok yang telah meneleponnya tadi. Dan ketika menemukan orang yang dicarinya. Langkah kakinya mendekat kepada orang itu.


"Udah lama?" sapa Olivya sembari mengecup kedua pipi orang itu.


"Lumayan, kenapa kamu lama sekali?" tanya lawan bicara Olivya.

__ADS_1


Seorang pelayan mendekati meja itu dan memberikan buku menu. Keduanya pun memesan banyak sekali makanan untuk makan siang. Padahal jelas-jelas hanya ada dua orang di meja tersebut. Namun kenapa pesanan memenuhi meja itu.


__ADS_2