Life After Married

Life After Married
Mengadu


__ADS_3

"Mami!" Teriak Gigi ketika baru masuk ke rumah mewah itu.


"Mami!"


"Mami inti tidak bisa dibiarkan!"


Tidak lama Dwita keluar dari kamarnya. Dan kemudian terdengar suara Dwita yang menyahut teriakan Gigi.


"Ada apa teriak-teriak sayang?" sahut Dwita dari lantai dua.


"Kenapa sayangnya mami teriak-teriak?" tanya Dwita.


Dwita berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Dipeluknya perempuan yang baru saja datang itu. Kemudian diajaknya duduk disofa terlebih dahulu.


"Kamu kenapa sayang baru datang kok teriak-teriak?"


"Duduk-duduk dululah, malah teriak."


Gigi mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya diatas perut. Menunjukkan kekesalan yang menyelimuti dirinya. Kedengkian telah memenuhi pikiran wanita yang sempat dijodohkan dengan Bian itu.


"Kenapa perempuan payah itu menggantikan Bian mi?" Gigi pun mulai buka suara.


"Oh, gara-gara itu kamu datang terus marah-marah," ucap Dwita sembari mengelus punggung Gigi.


"Iyalah Mi, gara-gara apalagi coba. Mood gue seketika hancur lihat dia di perusahaan hari ini."


"Kesel banget tau nggak sih, berharap hari ini ke perusahaan akan mendapatkan jabatan baru. Eh malah ketemu perempuan menyebalkan itu."


"Udah ngerebut Bian dari gue, ditambah ini ngerebut jabatan gue!"


"Anak bau kencur kaya gitu memegang perusahaan sebesar Armada Trans. Gila apa!"


"Bisa apa perempuan payah seperti dia?"


"Kenapa harus dia sih Mi, apa nggak ada orang lain?"


"Kesel banget gue!"


Gigi terus saja ngomel-ngomel tanpa henti. Hingga tak ada jeda untuk Dwita memberikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan. Dwita pun menunggu sampai emosi Gigi mereda.


"Dia hanya menggantikan Bian sementara kok sayang," kata Dwita.


"Biarpun sementara jabatan itu harusnya Gigi Mi yang pegang. Gigi Mi!" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Tau nggak sih Mi, Gigi udah lama pengen berada dijabatan itu Mi. Gigi juga udah berjuang kerja keras untuk bisa naik jabatan. Pas ada kesempatan malah diserobot sama orang baru. Orang barunya anak bau kencur lagi," lanjut Gigi.

__ADS_1


Gigi pun menangis yang dibuat berlebihan. Sehingga suaranya terdengar nyaring dalam rumah itu. Sedangkan Dwita hanya bisa mengelus-elus punggung perempuan itu. Berniat untuk meredakan amarah yang sedang memenuhinya.


"Huhuhu.... Mami... Gigi kesel!" ucapnya ditengah isak tangisnya.


"Itu sudah menjadi keputusan Bian sayang," timpal Dwita.


"Masa mami dan papi tidak bisa membujuk Bian sih?"


Dwita mengangkat bahunya sebagai tanda tidak mengerti bisakah membujuk anak lelakinya itu. Melihat respon Dwita membuat Gigi semakin kesal. Seolah tidak ada yang mau membantunya untuk mendapatkan jabatan itu.


"Huaaaaa..... Huhuhu..." Suara tangisan Gigi semakin dibuat-buat.


"Sudah sudah Gigi. Coba nanti malam mami tanya ke papi dulu ya. Dan kalau bisa mami minta tolong papi untuk membujuk Bian," kata Dwita.


Mendengar penuturan Dwita tersebut Gigi tersenyum dalam hati. Namun tetap saja ekspresinya dibuat sedih dan terus menangis. Demi menarik perhatian Dwita agar iba kepadanya.


"Huhuhu...." suara tangisan Gigi.


"Sudah ya sayang berhenti nangisnya," pinta Dwita.


"Huhuhu.... Nggak bisa berhenti Mi. Sakit hati Gigi Mi. Sakit!" kata Gigi.


"Udah sekarang minum dulu. Biar tenang," suruh Dwita sembari menyodorkan segelas minuman.


"Mami mau kan bantu Gigi?" tanyanya.


"Mami sih mau mau saja sayang. Tapi bisa enggaknya itu lho," jawab Dwita.


"Yah mami," ucap Gigi dengan mendengus kesal.


"Iya... Iya... Mami usahakan ya sayang. Mami sih pengennya ya kamu yang memegang Armada Trans," ucap Dwita.


"Iya jelaslah Gigi yang lebih pintar dan lebih mumpuni dibandingkan perempuan itu mi," Gigi pun menyombongkan dirinya.


"Mami tahu kok sayang, kamu itu lebih segala-galanya daripada perempuan payah itu," sahut Dwita.


Hati Gigi berbunga-bunga mendengar hal itu. Saking senangnya, dia tersenyum tetapi tidak sampai kelihatan oleh Dwita. "****** lo perempuan payah. Gue dapet dukungan dari mami," batinnya.


"Tolong ya Mi, bantu Gigi," pintanya lagi.


"Mami usahakan sayang," ucap Dwita sembari memeluk Gigi.


Pelukan keduanya tiba-tiba terhenti ketika Gigi melihat Lea masuk ke dalam rumah. Tatapan tajam sekaligus senyum sinisnya kembali dia tunjukkan kepada Lea. Lea pun terpaku tepat didepan pintu masuk.


"Ups... Perempuan payah sudah pulang," sindir Gigi seraya melirik Dwita.

__ADS_1


"Oh ada perempuan payah ya," Dwita ikut mengatai.


"Iya tuh Mi," sahut Gigi.


Lea yang sedari tadi terdiam pun, sejujurnya merasa tersindir. Dengan berat hati dia menanggapi, "Tak apa kau katakan aku payah, tenang saja aku tak akan menyerah."


**


Malam harinya.


Setelah malam malam Dwita dan Pranoto kembali ke kamar. Tak lupa Dwita menceritakan tentang masalah Gigi tadi siang. Dia ceritakan panjang lebar atas keinginan Gigi untuk memegang perusahaan anaknya tersebut. Dan meminta tolong kepada suaminya untuk menuruti permintaan Gigi.


"Ya tidak bisalah Mi. Keputusan itu semua berada ditangan Bian," ucap Pranoto.


"Tapi kan papi juga masih mempunyai pengaruh di perusahaan itu Pi. Pasti papi bisalah membantu," bujuk Dwita.


"Perusahaan itu sepenuhnya ada ditangan Bian Mi. Papi tidak bisa bertindak apapun lagi."


"Papi ini pengusaha besar, lagian Armada Trans juga anak perusahaan papi. Masa untuk hal seperti ini saja papi tidak bisa membantu?"


Pranoto agak tersinggung dengan ucapan istrinya tersebut. Namun, dia tetap tenang dengan mencoba menarik napas dalam, kemudian dihembuskannya.


"Mami ingat meskipun papi mempunyai kuasa atas perusahaan itu. Tapi papi sudah lepas tangan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Bian. Karena papi rasa Bian sudah dewasa untuk hal itu," Pranoto mulai menjelaskan.


"Tapi kondisi kali ini berbeda Pi. Perusahaan dalam keadaan tidak stabil dan Bian di penjara. Apa papi hanya tetap diam dengan hal tersebut?" Dwita terus mendesak.


"Papi paham kondisi perusahaan sekarang, namun bukankah Bian telah memberikan kuasanya kepada istrinya?" ucap Pranoto.


Dwita menatap lekat mata suaminya yang sedang menatapnya juga.


"Papi perempuan payah itu tidak bisa diandalkan. Dia kuliah saja belum lulus. Disuruh mengurus petugas besar? Haha lelucon macam apa ini Pi?" Dwita terus mencari alasan.


"Jika itu sudah menjadi keputusan Bian. Kita bisa apa?" ucap Pranoto.


"Papi tolonglah Pi," rengek Dwita.


"Udahlah Mi! Itu bukan urusan kita."


"Enak aja bukan urusan kita. Jelas ini urusan kita papi. Kalau perusahaan anak kita bangkrut bagaimana? Siapa yang mau tanggung jawab? Papi juga akan kerepotan kan," protes Dwita.


"Perusahaan akan baik-baik saja. Sudahlah Mi, papi capek. Mau istirahat dulu," tutup Pranoto yang bersiap tidur.


Melihat respon suaminya yang cuek akan masalah ini. Dwita menjadi kesal dan ngedumel sendiri. Memikirkan cara lain supaya bisa membantu Gigi untuk menjadi penganti Bian di perusahaan.


Tak apa kau katakan aku payah, tapi aku tak kan menyerah.

__ADS_1


__ADS_2