
Entah bagaimana caranya, Bian dan Lea saat ini sudah berada di atas tempat tidur. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Rasa lelah akibat pergulatan itu masih terasa dan tengah malam begini keduanya masih terjaga.
"Sayang bagaimana dengan pekerjaan kamu kau kita pergi ke Maldives?" Lea membuka suara.
"Kan kamu sedang memperbaiki perusahaan yang sempat kacau," lanjutnya.
Lea yang tiduran pada lengan Bian pun menoleh menatap suaminya. Sedangkan Bian yang semula menatap langit-langit kamarnya, menoleh kearah istrinya. Memberikan senyuman kepada istrinya itu.
"Itu masalah yang mudah sayang. Kan masih ada Farhan yang sangat bisa aku andalkan," jawab Bian dengan santai.
"Kamu tenang saja. Oke!" ucap Bian.
"Yakin tidak kenapa-kenapa?" Lea kembali meyakinkan.
"Aku gak mau perusahaan dan karir kamu kenapa-kenapa, cuma karena kamu mau mewujudkan mimpi aku sayang," imbuh Lea.
Lea benar-benar khawatir dengan perusahaan Bian. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan jika Bian meninggalkan perusahaannya untuk beberapa waktu. Karena Lea tahu sendiri selain karena perusahaan itu sedang bangkit dari keterpurukan. Perusahaan juga banyak mendapatkan ancaman dari perusahaan lain yang tidak suka akan kesuksesan perusahaan Bian. Banyak yang ingin menjatuhkan perusahaan itu lagi.
__ADS_1
"Sungguh akut takut itu terjadi sayang," ucap Lea yang kini melemparkan pandangannya pada langit-langit kamar.
"Takut apa lagi?" tukas Bian.
"Takut kalau terjadi sesuatu dan aku yang akan disalahkan karena kamu pergi untuk mewujudkan impian aku," lirih Lea.
Bian terhentak saat mendengar penuturan sang istri. Bisa-bisanya pemikiran istrinya sampai sejauh itu. Padahal hal tersebut sama sekali tidak ada pada pikiran Bian.
"Sayang ..." Bian menidurkan kepala Lea pada bantal. Dan mendekatkan wajahnya tepat diatas wajah Lea.
Mungkin jarak wajah keduanya hanya lima centimeter. Sehingga hembusan napas keduanya saling terdengar satu sama lain. Mata keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta.
"Kali ini percayalah pada aku bahwa semua akan baik-baik saja."
"Tidak akan terjadi apapun pada perusahaan."
"Aku akan menghandel perusahaan selama kita berada di Maldives."
__ADS_1
"Lagian ini hanya satu minggu sayang."
Lea meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Bian. Sebenarnya satu yang membuat hati Lea merasa janggal. Yaitu mami mertuanya yang pastinya tidak suka dengan hadiah yang baru saja diberikan Bian untuknya. Selain itu hadiah yang sangat mahal dan mewah. Pasti mami mertua tidak suka Bian dan Lea berdekatan terus. Lea tahu itu semua karena beberapa bulan tinggal di rumah ini. Sedikit tahu tentang sifat maminya yang tidak suka padanya.
"Tetapi pasti mami akan tidak suka akan hal ini," batin Lea dalam hati.
"Aku takut mami akan memaki aku," batinnya lagi.
Pandangan Lea sejenak kosong, mengetahui hal itu. Bian melambaikan satu tangannya tepat di wajah Lea. Agar Lea kembali mengedipkan matanya.
"Dan satu lagi, siapapun yang menyalahkan kamu. Dia akan berurusan denganku," ucap Bian.
"Siapapun yang menjelekkan istriku, akan berurusan denganku."
"Siapapun itu," ucap Bian dengan tegas.
Ya sudahlah Lea hanya pasrah dengan keputusan Bian. Karena Lea tahu Bian akan menjaganya dengan segala kemampuan yang dia miliki. Kini Lea hanya bisa berdoa semoga semua rencana akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1
"Percayalah padaku sayang," tutup Bian yang mendapat anggukan kepala dari Lea. Kembali Bian melumatt bibir ranum sang istri yang membuat dirinya selalu ketagihan. Dan kembali adegan panas keduanya dimulai dari awal.