Life After Married

Life After Married
Kembali Pulang


__ADS_3

Demi menuruti janji Bian tempo hari. Weekend ini Bian dan Lea pulang ke rumah orang tua Bian. Meskipun dengan berat hati, Lea harus melakukan itu semua.


Ceklek.


Pintu utama rumah mewah itu dibuka oleh Bian. Ketika hendak masuk menuju kamar Bian dan Lea yang berada di lantai dua. Mata keduanya menangkap pemandangan seorang perempuan yang bukan anggota keluarga itu. "Ngapain pagi-pagi kaya gini orang itu ada disini?" batin Bian.


Bian dan Lea menyapa anggota keluarga yang lainnya yang sedang sarapan di ruang makan. Ada Dwita, Pranoto, Olivya dan Gigi duduk melingkari meja makan. Ya, orang yang dimaksud tersebut adalah Gigi.


"Apa kabar kalian berdua?" sapa Pranoto.


"Sini sarapan dulu," ajaknya mempersilahkan Bian dan Lea duduk pada dua kursi yang ada disampingnya.


"Baik Pi," jawab Bian singkat seraya menuntun Lea ke meja makan. Dan tidak lupa menarik salah satu kursi itu untuk diduduki Lea.


"Papi sendiri apa kabar?" Bian balik bertanya.


"Baik nak," balas Pranoto.


Bian tersenyum mendengar jawaban dari papinya. Kemudian tangannya bergerak untuk mengambilkan makan untuk Lea dan untuk dirinya sendiri. Sungguh mesra sekali perlakukan Bian terhadap Lea ini. Membuat tiga perempuan yang ada di meja makan saat itu ikut memanas.

__ADS_1


"Mami seneng kamu udah bebas lagi sayang," tanya Dwita.


"Oh iya, untuk sementara Gigi akan tinggal disini," imbuhnya.


"Soalnya kasian dia tidak ada teman di rumah. Mamanya juga sudah pindah ke luar negeri."


Bian sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dan tidak menyahuti apa yang dikatakan oleh Dwita itu. Fokusnya kini hanya pada makanan yang ada dihadapannya.


Melihat respon Bian yang datar, membuat Dwita menjadi geram. Tatapan sinisnya mulai mengarah pada Lea. "Kok kamu diam saja sih Bian? Mami lagi ngomong lho ini," seru Dwita.


"Terus Bian harus respon bagaimana Mi?" Bian menghentikan makannya dan menatap maminya.


"Kalau boleh jujur Bian nggak setuju Mi," ucap Bian.


"Hah? Kenapa? Seharusnya kamu kasian dong sama dia. Sekarang nggak ada keluarga dekat. Dan hanya punya kita." ucap Dwita.


"Bian nggak peduli," ucap Bian penuh penekanan.


Tentu saja penuturan Bian tersebut membuat Dwita dan Gigi naik pitam. Bisa-bisanya jawaban "Bian nggak peduli" lolos begitu saja dari mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu jahat sekali nak? Telah menjebloskan Tommy ke dalam penjara. Terus kamu berkata seperti itu?" Dwita tidak terima.


"Mami tidak pernah mendidik anak mami menjadi anak yang tidak sopan dan tidak punya belas kasihan terhadap orang lain," sambungnya.


Bian mengernyit heran, menampilkan senyum miring seolah mengejek kata-kata maminya. "Apakah Bian harus berbelas kasih untuk keluarga yang telah bermain jahat di belakang Bian?" Bian mulai menaikkan nada bicaranya.


"Asal mami tahu, dalam dibalik kasus Bian ini adalah perempuan ini dan keluarganya!"


"Masih untung perempuan ini bebas! Dan tidak Bian jebloskan ke dalam penjara bersama papanya!"


"Terus Bian harus berbelas kasih terhadap orang seperti dia?" pungkasnya dengan menunjuk tepat ke arah wajah Gigi.


"Stop!" sahut Pranoto menengahi perdebatan antara ibu dan anak pagi itu.


"Sebaiknya mami jangan ikut campur pada urusan yang mami tidak tahu asal muasalnya," pesan Pranoto.


Tampak raut wajah kecewa di wajah Dwita. Karena justru sepertinya Pranoto membela Bian. Padahal dia pikir awalnya saat Pranoto menghentikan perdebatan itu. Dia akan membela istrinya. Ternyata dugaannya salah.


Sementara itu, Bian sudah tidak berselera untuk makan. Dia menggandeng tangan Lea untuk naik ke kamar mereka. Lea pasrah menuruti suaminya dan diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2