
Kaki Lea terus berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan utama. Kini dia sudah mempunyai tujuan untuk sejenak melepaskan isi hatinya. Mungkin tempat itu satu-satunya yang bisa dia singgahi saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Lama sudah Lea berjalan, namun rasanya tidak sampai-sampai ditempat tujuannya. Sesekali dia mempercepat langkahnya, namun lama kelamaan langkahnya kembali melambat. Rasanya tenaganya sudah terkuras habis, belum lagi seharian sama sekali tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Miris sekali bukan?
Lea menghentikan langkah kakinya tepat disebuah kafe yang bertuliskan Euforia disana. Benar sekali tujuannya malam ini adalah kafe milik sahabatnya, Renata. Semoga saja Renata masih ada di kafe, pikirnya.
Tampak pengunjung satu persatu pergi meninggalkan kafe itu. Sebentar lagi kafe akan tutup, ya jelas saja waktu sudah menunjukkan pukul 21.55 WIB. Beberapa karyawan kafe mulai membersihkan kafe itu.
"Permisi mbak, apa Renata masih disini?" tanya Lea pada perempuan yang sedang mengelap meja.
"Oh Mbak Renata sepertinya masih ada didalam mbak. Saya panggilkan dulu ya," ucapnya seraya beranjak dari Lea.
__ADS_1
Tidak lama kemudian perempuan berparas tinggi berkulit sawo matang itu menghampirinya. Berteriak histeris seraya memeluk Lea. Renata adalah sosok perempuan yang selalu ceria, selalu berteriak tatkala bertemu orang yang dekat dengannya.
"Ya ampun Lea lo kenapa malam-malam kesini?" tanyanya seraya melepaskan pelukannya. Renata mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan Lea dari ujung kepala hingga kaki. Penampilan yang tidak seperti Lea biasanya yang selalu cantik, feminim, rapi, dan menawan.
"Astaga!" jerit Renata melihat penampilan Lea.
"Lo kenapa Lea? Katakan sama gue lo kenapa?" tanya Renata tak sabar.
"Lea, are you oke?" tanya Renata yang jelas tahu pasti Lea sedang tidak baik-baik saja. Lalu kenapa dia harus bertanya lagi. Dasar Renata, heheh.
"Ayo duduk," ajaknya sembari menarik pelan lengan Lea.
__ADS_1
"Mbak tolong minta segelas minuman hangat ya!" seru Renata kepada pelayan.
Keduanya duduk saling berhadapan dalam sebuah bangku. Renata mencoba menenangkan Lea dengan mengusap tangannya. Menyodorkan minuman yang telah dia diantarkan oleh pelayannya tadi.
"Ayo minum dulu. Biar sedikit lebih tenang," suruh Renata.
Setelah Lea sedikit lebih tenang, perlahan Renata menanyakan apa yang terjadi. Lea pun menceritakan semua kejadiannya dari awal hingga siang tadi. Tampak Renata manggut-manggut mendengarkan cerita Lea dengan seksama.
"Lo yang sabar ya Lea," ucap Renata beranjak berdiri dan memeluk Lea.
Tak kuasa air mata Lea keluar lagi tanpa izin dan membanjiri pipinya. Renata yang melihat pun merasa tak tega dengan apa yang dialami sahabatnya itu. Rasa kecewa bercampur marah juga turut dirasakan Lea. Bagaimana bisa Bian yang tampak setia dan cinta mati sama Lea berbuat seperti itu. Sebuah pertanyaan janggal singgah dipikirannya.
__ADS_1
"Malam ini lo nginep di rumah gue saja ya," pinta Renata karena tahu pasti sahabatnya itu bingung mau pulang kemana.
Tidak perlu menunggu jawaban dari Lea. Renata yang sudah membawa tasnya beranjak berdiri dan mengajak Lea masuk ke dalam mobilnya. Pokoknya malam ini dan beberapa hari kedepan sahabatnya itu harus berada bersamanya. Karena Renata takut hal buruk terjadi pada Lea.