Life After Married

Life After Married
Bab 147- Antara kecewa dan cemburu


__ADS_3

Dinda sudah sampai di depan rumahnya. Kakinya langsung turun dari motor yang baru saja berhenti. Bahkan Dinda sampai lupa melepas penutup kepalanya jika Willy yang tidak mengingatkan. 


Dinda segera berlari masuk ke dalam, memanggil-manggil Bi Ijah serta berjalan menaiki anak tangga untuk sampai ke depan kamar Syena.


Langkahnya terhenti, saat melihat seorang pria menggendong putrinya. Rey, sudah datang lebih dulu, sepertinya Syena begitu tenang saat berada di pelukan papanya. 


Willy juga melakukan hal yang sama, menghentikan langkahnya di belakang Dinda. Tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang berada di dalam kamar sang putri. 


Bagaimana perasaan Willy jika melihat itu? Entahlah, Willy tidak mengatakan apa pun. Tubuhnya segera berbalik, menuruni anak tangga lagi dan berlalu pergi. 


Dinda masih diam mematung, sebelum akhirnya Bi Ijah melihat keberadaan majikannya. 


"Bu Dinda," ujarnya demikian. Mengalihkan pandangan Rey, yang langsung menatap ke arah Dinda. 


Bi Ijah segera berlari menghampiri Dinda, yang ada di depan pintu. Sebagai asisten rumah tangganya, Bi Ijah merasa tidak enak hati karena sudah memanggil Rey, tanpa izin. 


Namun semua itu karena terpaksa. Demi Syena yang tidak bisa berhenti menangis.


"Bu Dinda," panggilnya. Sedetik Dinda menoleh. "Maaf, Bu. Saya terpaksa telepon pak Rey, untuk datang karena Syena terus menangis. Saya pikir Bu Dinda akan pulang besok," lanjutnya.


"Aku pulang karena terus memikirkan Syena," tutur Dinda. 


"Bik bisa kita bicara?" 


"Baik Bu." 


Dinda melangkah menjauh dari pintu kamar. Kaki yang terayun terhenti di depan teras balkon. Tidak lupa Bi Ijah yang berada di belakangnya. 


"Duduk sini Bik." Pinta Dinda, yang menepuk kursi kayu anyaman di samping tempat duduknya. Hawa dingin semakin terasa, karena berada di luar rumah. 


Bi Ijah langsung mendaratkan bokongnya pada kursi, sebelum akhirnya Dinda berkata, "Bik?" panggilnya, Bi Ijah pun melirik menatapnya. 


"Bisa ceritakan apa yang sudah terjadi? Aku merasa heran, sebelumnya Syena begitu semangat untuk bermalam di rumah papanya. Tapi … tiba-tiba saja Syena pulang. Itu yang membuatku kepikiran. Sebenarnya apa yang terjadi Bik?" 


Bi Ijah menunduk dalam diam. Bingung harus berkata apa, menjelaskan seperti apa. Perlakuan Velove dari awal mereka datang sudah terlihat jelas. Jika Velove tidak begitu menyukai anak majikannya itu.


"Bik, kenapa diam?" 


"Begini Bu, sebenarnya Non Syena senang sekali bermain dengan adiknya. Tetapi Bu Velove sepertinya tidak suka melihat kedekatan Syena sama Dek, Bian," tutur Ijah. 


"Apa Velove melakukan putriku dengan tidak baik?" 


"Kurang tahu Bu, sepertinya tidak. Tadi saya sibuk di dapur Bu, gak terlalu memperhatikan." Sekilas kening Dinda mengerut. Ada yang salah dalam perkataan Ijah.


"Ngapain kamu di dapur?" 


"Saya di suruh Masak Bu." 

__ADS_1


"Masak? Kamu itu saya suruh buat jaga Syena, bukan untuk masak." 


Itulah kesalahan Ijah. Karena tidak melakukan pekerjaannya dengan benar. Bi Ijah hanya menunduk menyadari kesalahan yang sudah lalai menjaga anak majikannya. 


"Maaf, Bu. Saya salah, tapi saya gak berani menolak perintah." 


"Majikanmu itu siapa? Saya atau dia!" 


"Kamu tidak ada hak untuk melakukan perintah darinya. Percuma saja saya memintamu menemani Syena, jika kamu tidak bisa menjaganya." Dinda benar-benar emosi. Aliran darah pada nadinya semakin mendidih. Namun, percuma saja memarahi Bi Ijah, karena tidak membuatnya tahu apa yang sudah dilakukan Velove pada putrinya. 


Dinda hanya bisa berharap tidak ada luka yang tertinggal. 


"Maafin Bibik Bu Dinda." Kata Bi Ijah dengan suara yang sedikit marau. 


Sekilas tarikan nafas ia hembuskan, memejamkan mata sebagai penenang jiwanya. Setelah merasa hatinya tenang, Dinda memaafkan Bi Ijah. Karena Dinda tidak pernah bisa marah pada seseorang dalam waktu yang lama.


*****


Di antara meja panjang duduklah kedua lelaki yang berbeda. Secangkir teh yang menenami, tidak menghangatkan suasana. 


Keheningan, kebisuan, diam tanpa kata. Yang ada hanya sepasang netra saling menatap tajam. 


"Terima kasih sudah menjaga Syena," ujar Willy. Lalu meraih secangkir teh di depannya.


"Sudah tugasku sebagai ayahnya," ucap Rey, lalu mengambil cangkir teh untuk di teguknya. 


"Aku dengar Dinda sedang hamil. Jadi kamu akan segera menjadi seorang ayah sesungguhnya." 


"Kamu benar-benar menyayanginya? Bukan karena Dinda?" 


Rey, menatap seolah merendahkan.


"Tidak perlu aku jelaskan. Dinda bisa menilainya," skak Willy. Rey hanya tersenyum sinis.


Terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Dinda yang begitu cantik, hanya mengenakan daster polos berwarna purple. Rambut yang terurai, wajah polos tanpa make up tidak memudarkan aura kecantikannya. Tanpa sadar dirinya menjadi pusat perhatian kedua lelaki yang kini sedang menatapnya. 


Willy pantas mengagumi, karena dia berhak atas Dinda sebagai istrinya. Namun bagaimana dengan Rey? Apa berhak mengagumi kecantikan Dinda sang mantan istri ibu dari anaknya. 


Debaran hati semakin bertalu-bertalu. Dekupan jantung semakin terpacu lebih cepat. Apalagi saat jari manis dengan rentetan kuku-kuku lentik menyibak rambut yang sedikit berwarna coklat ke belakang telinganya. 


Memperlihatkan leher jenjang yang begitu mulus dan indah. Dinda masih sibuk dengan aktifitasnya, membuat teh hangat untuk dirinya. Tanpa menyadari tatapan kedua pria yang berada di belakangnya. 


"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Rey, membuat Willy sang pemilik hati merasa cemburu. 


Sekilas tatapan tajamnya, ia hunuskan. Tidak ada rasa bangga sedikit pun saat pria lain memuji istrtinya. Apalagi pria itu adalah mantan suaminya. Membuat gejolak api dalam hati membara, kepalan tangan masih ia tahan. 


Hingga sebuah kata terdengar menjengkelkan, "Aku masih mencintaimu Dinda, dan aku akan tetap mencintaimu."

__ADS_1


Satu tamparan mendarat mulus pada wajah Rey, hingga tubuhnya terdorong dan terjatuh di atas lantai. 


"Willy!" teriak Dinda yang menyadari kegaduhan diantara kedua lelaki itu. Segera dirinya berlari mendekati Willy, yang siap menghantam Rey, untuk kedua kalinya.


"Stop Wil!" teriaknya. Dinda langsung mengadang tubuh Willy dengan pelukannya. Sedangkan Rey, masih terbaring di atas lantai. Satu tangannya ia biarkan mengusap lembut sudut bibirnya yang memerah. 


Willy masih belum bisa merendam emosi. Nafasnya masih tercekat, dan tidak beraturan. Tatapannya begitu menakutkan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar?" 


Kedua pria itu masih diam belum ada yang menjawab. Suasana hening sejenak sebelum akhirnya kegaduhan kembali terjadi. Saat tangan Rey, menarik paksa tangan Dinda membawanya ke dalam pelukannya. 


Namun, itu tidak bertahan lama, karena Willy segera menariknya kembali. Membuat tubuh Dinda berpindah dalam dekapannya.


"Jangan pernah menyentuhnya," tegas Willy, namun tidak membuat Rey jera. Dan semakin menggila. 


"Kenapa? Kamu tidak percaya Jika aku dan Dinda saling mencintai." Sontak mata Dinda membulat seketika saat mendengar penuturan kata dari Rey. 


"Pergi dari rumahku sekarang juga," ujar Willy penuh penekanan. Tatapannya tidak berubah tajam dan dingin. 


Menyadari suasana yang sudah tidak sehat. Dinda mencoba menenangkan Willy. 


Jujur, Dinda pun merasa kesal pada Rey, yang berani memanasi suasana. Apa maksud perkataannya yang mengatakan jika dirinya masih mencintai. Mungkin dulu iya tapi tidak dengan sekarang.


"Sayang, tenang jangan dengarkan dia," pinta Dinda pada Willy. Lalu berbalik menghadap Rey, untuk segera pergi dari rumahnya.


"Aku berterima kasih padamu Rey, karena telah menjaga Syena. Tapi aku mohon kamu pergi dari rumahku sekarang juga." 


"Dinda apa kamu lupa? Pertemuan indah kita saat di cafe." Senyum licik Rey, mengembang. Membuat mata Dinda terbelalak, tidak mengerti apa yang Rey ucapkan.


Begitu pun dengan Willy yang menatap Dinda penuh tanda tanya. Entah apa yang Willy pikirkan. Namun itu membuat Rey, tersenyum mekar. Meninggalkan rumah itu penuh kemenangan. 


"Apa ada yang kalian rahasiakan?" Kepala Dinda langsung menggeleng. 


"Pertemuan indah di cafe, apa itu?" Dinda lagi-lagi menggeleng. Namun, kecemburuan Willy sudah merasuki hatinya. Sangat sulit membuat Willy percaya untuk saat ini.


"Jangan dengarkan dia Wil, aku tidak pernah bertemu dengannya. Apalagi di cafe," bantah Dinda, namun sepertinya Willy tidak butuh penjelasan. 


"Kenapa tidak? Kamu sering bertemu dengannya, dengan alasan Syena. Bahkan malam ini kamu memintanya datang untuk menenangkan Syena. Apa kamu meminta pulang malam ini hanya karena ingin bertemu dengannya?" 


"Tidak, itu tidak benar Willy." 


"Karena aku bukanlah ayah Syena, jadi kamu tidak percaya padaku. Aku tidak akan bisa menenangkan Syena." 


"Willy!" teriak Dinda, saat Willy berlalu pergi meningalkannya. 


Rasa kecewa dan cemburu menjadi satu. Membuatnya merasa tidak dianggap dan tidak berarti bagi Dinda. 

__ADS_1


Langkahnya terus terayun menapaki anak tangga, tidak peduli pada Dinda yang terus memanggilnya.


 


__ADS_2