
"Akan ku berikan Dinda untukmu. Tapi aku ingin kamu memberikan Syena untukku."
Sontak Willy langsung bangkit dari duduknya menatap tajam ke arah Rey, yang berdiri di hadapannya.
"Tidak akan aku berikan. Karena Syena adalah kebahagiaan Dinda."
"Oh ya! Aku tidak yakin jika Syena bahagia denganmu."
"Syena? Katakan siapa papamu? Papa atau Om Willy?"
Pertanyaan Rey, membuat bocah kecil itu bingung. Mata belonya menatap kedua pria di dekatnya.
Sebelum Syena menjawab. Willy langsung meraih tubuh kecil itu kedalam pangkuannya.
"Syena, kita pulang ya. Kita ketemu Mama." Willy langsung membawa Syena pergi dari taman itu.
"Hei!" teriak Rey penuh emosi.
Tidak ada maksud bagi Willy untuk menjauhkan Syena dari papanya. Hanya saja niat dan cara Rey, yang salah.
Tidak akan ada seorang anak yang tega dipisahkan dari ibunya. Begitu pun Syena.
"Om papa?"
Hati Willy, merasa sedih. Karena Syena terus menatap Rey, di ujung sana. Akankah Syena memanggilnya dengan panggilan papa? Entahlah. Willy tidak akan memaksa karena Syena masih kecil untuk dipaksa mengerti.
Willy langsung memasukkan Syena kedalam mobilnya. Mendudukkan nya di jok depan lalu Willy memasangkan seatbeltnya. Setelah itu Willy menutup pintu lalu berjalan memutari mobilnya menuju pintu sebelah kanan bagian kemudi.
Setelah masuk Willy, langsung menginjak pedal gas agar mobilnya segera melaju.
Rey, berlari dan hendak mengejar namun, deringan ponsel membuat langkahnya terhenti dan harus menjawab panggilan itu.
"Halo!" ucap Rey, saat benda pipih itu di dekatkan pada daun telinganya.
"Rey, kamu dimana? Cepat jemput aku sama Mama."
"Iya," jawab Rey yang langsung mematikan ponselnya.
"Ikh … nyebelin pake di matiin lagi!" rutuk Velove yang sedang menunggu Rey, di depan gerbang rumah mewah yang bukan miliknya lagi.
"Ada apa?" tanya Rita ketus.
"Kesel. Rey malah matiin teleponnya."
"Apa yang dia katakan!"
"Dia akan menjemput kita."
"Sudahlah kita tunggu saja. Mungkin Rey sedang dijalan itu sebabnya mematikan teleponnya."
"Ini semua karena Mama!"
"Loh kok nyalahin Mama!"
"Ya jelas. Seharusnya Mama gak usah bilang kalau aku bukan anak kandung papa. Jadi hari ini tidak akan terjadi dan aku masih diakui hak waris. Semuanya gara-gara Mama."
"Dasar! Nyalahin saja."
__ADS_1
Sepasang ibu dan anak itu hanya berdebat di pinggiran jalan. Tak lama mobil Willy masuk kedalam rumah itu membuat Rita dan Velove melirik tajam pada mobil itu.
"Mereka akan tinggal di rumah ini lalu kita!" Rita menggerutu.
"Tenang Mah. Rey, juga punya rumah kita akan tinggal di rumah Rey."
"Tunggu dulu Velove, Danu tidak mengatakan apa pun kan! Maksudmu dia tidak memecat Rey, dari perusahaan? Setidaknya kita masih bisa memasuki perusahaan itu. Kita masih punya kesempatan."
"Semoga saja Rey, tetap bekerja di sana. Tidak di pecat."
"Aduh Velove dimana Rey? Lama sekali panas ini."
"Tenang dong Ma, Mama pikir aku gak kepanasan!" sentak Velove yang mengibas-ngibaskan tangannya.
Tidak berselang lama mobil Rey pun terhenti. Rey, langsung turun dari mobilnya menghampiri kedua wanita yang wajahnya sudah mulai memerah karena panas matahari.
"Kenapa kalian berdiri di sini?" tanya Rey, polos yang memang tidak tahu apa pun.
"Sudah jangan banyak tanya kita pergi." Ujar Rita yang masuk ke dalam mobil Rey.
"Ada apa?" tanya Rey lagi pada Velove.
"Nanti ku jelaskan. Lebih baik kita pulang ke rumahmu dulu sekarang." Velove berkata sambil berjalan ke arah mobil Rey, lalu masuk dan duduk di samping kursi kemudi.
Rey masih bingung dengan apa yang terjadi. Namun tidak mendapat penjelasan membuat Rey, berjalan masuk ke dalam mobilnya.
*****
"Mama!" teriak Syena yang berlari ke arah Dinda yang berdiri bersama Asih dan Danu.
Tubuh Dinda langsung berjongkok meraih tubuh mungil itu. Menciumnya lalu memangkunya.
"Main ketemu Papa."
Deg!
Senyum Dinda langsung menciut. Tatapannya kini beralih pada Willy yang berjalan ke arahnya.
"Dinda Asih saya pamit. Jika kalian butuh apa-apa hubungi saya."
"Terima kasih pak Danu," ucap Asih diiringi dengan senyuman.
"Dinda aku sarankan untuk segera mendaftarkan pernikahan kalian." Danu memberikan usul yang hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Dinda.
"Akan saya bicarakan nanti."
"Jaga mereka aku titip padamu," ujar Danu pada Willy yang baru saja sampai di depan mereka. Willy hanya mengangguk saat Danu menepuk bahunya.
Setelah merasa cukup berpamitan Danu pun melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Asih mengajak Dinda dan Willy untuk duduk di sofa. Dinda langsung bertanya pada Willy tentang perkataan Syena.
"Apa kamu membawa Syena menemui Rey?" tanya Dinda dengan tatapan yang tidak biasa.
"Rey yang datang sendiri menemui kami," jelas Willy membuat hatinya sedikit tenang. "Itu sebabnya aku membawanya pulang. Karena aku tahu kamu tidak akan suka jika mereka bertemu," tambah Willy.
"Aku tidak melarang Syena bertemu papanya. Namun, aku takut Rey, akan membawanya dariku."
__ADS_1
"Tidak akan. Karena aku tidak akan membiarkan itu." Ujar Willy seraya menggenggam tangan Dinda lembut.
"Mama Oma!" panggil Syena gemas
"Iya sayang," jawab Asih dan Dinda serempak.
"Tadi aku ketemu papa. Papa bilang papa aku Om pengacara atau Papa? Aku bingung Ma?"
Asih dan Dinda saling pandang. Sedetik pandangan mereka tertuju pada Willy. Asih takut jika Willy tersinggung karena hal ini Bagaimana pun Willy, adalah suami Dinda sekarang dan akan menjadi ayah Syena juga.
"Dinda, pergilah ke kamar. Willy sepertinya lelah dia perlu istirahat. Biar Ibu yang bicara dengan Syena."
"Iya Bu."
"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Dinda dan Willy beranjak dari tempat duduk mereka. Berjalan meninggalkan ruang tamu yang luas juga Asih dan Syena.
Kini tinggallah Asih dan Syena yang duduk di sofa itu.
"Syena cucu oma sini sayang." Asih membawa Syena duduk dalam pangkuannya.
"Syena tadi bilang apa?"
"Syena bingung Oma, papa Syena itu Om pengacara atau papa?"
"Dua-duanya benar," ucap Asih. Lalu menangkup wajah chubby itu agar menatapnya.
"Papa Rey, adalah papa Syena dan Om pengacara juga papa Syena. Karena Mama dan Om pengacara sudah menikah. Jadi sekarang Syena panggil Om pengacara dengan panggilan Papa jangan Om lagi ya? Syena harus terbiasa."
"Jadi Syena punya papa dua Oma?"
Asih tidak tahan ingin tertawa.
"Iya, kamu punya papa dua. Syena juga punya Mama dua kok."
"Mama dua!" Mata belo itu membulat sempurna, sungguh menggemaskan. Asih semakin melebarkan tawanya. Syena begitu terkejut mendengar bahwa dirinya punya mama dua.
"Tapi mama aku satu lagi siapa Oma?"
"Nanti Syena juga tahu."
"Oh iya Oma. Kalau Syena punya papa dua, Syena bingung Oma." Ujar Syena sambil memegang pucuk kepalanya.
"Syena bingung kenapa?"
"Takut tertukar Oma."
Sontak mata Asih membulat. Tawa yang sedari tertahan langsung terdengar keras. Asih tergelak hingga perutnya terasa sakit.
"Ya tuhan, Syena-Syena. Lucunya cucu Oma." Cubit Asih pada Syena.
"Oma kok ketawa sih!"
"Ouh … Oma ketawa gak boleh ya. Abis Syena lucu makin gemes Oma jadinya."
"Oma! sakit Oma!" rengek Syena saat Asih kembali mencubit pipi chubbynya.
...----------------...
__ADS_1
Syena jangan bingung dong. Author jadi bingung juga 😂😂.
Gimana ada saran gak buat Syena. Panggil Willy dengan panggilan apa ya?