
Di sebuah taman, di belakang halaman rumah yang luas. Ibu dan anak sedang berbincang. Perbincangan mereka sepertinya sangat serius seraya di temani secangkir teh hangat di atas meja bundar di depannya.
"Aku kira, aku tidak akan merasakan hidup seperti ini lagi." Ucap Velove, sambil menyeruput tehnya menghirup udara segar di area taman.
Rita, yang duduk di sampingnya hanya fokus menatap lurus ke depan.
"Jika kamu tetap ingin hidup seperti ini, ada hal penting yang harus kamu lakukan," ujar Rita, membuat Velove, beralih menatapnya.
"Apa!" tanya Velove, yang terheran-heran.
Rita, menyeruput tehnya sejenak lalu berkata, "Menjadi ahli waris Sanjaya Grup." Katanya seraya menaruh kembali cangkir teh pada tempatnya.
"Itu sudah pasti. Karena aku anak papa. Tidak mungkin papa memberikan ahli warisnya pada orang lain." Velove, menimpali.
"Tentu, papamu akan memberikannya pada orang lain. Jika pun tidak di berikan akan ada seseorang yang mengambilnya sendiri."
"Apa maksud perkataan Mama? Siapa orang itu? Dari dulu aku tidak begitu tertarik pada bisnis, bahkan aku pernah kabur dari rumah tapi akhirnya papa tetap mencariku dan aku kembali ke rumah ini."
Rita, menatap putrinya dengan tatapan yang mengintimidasi. Bibirnya tersenyum smirk, sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak yakin kamu akan mengatakan itu setelah mendengar perkataanku," ucapnya. Membuat Velove, semakin menatapnya.
Rita, mulai beranjak dari duduknya. Menghela nafasnya dengan panjang. Velove, hanya melihat tingkah ibunya. Yang kini mulai berjalan maju beberapa langkah berdiri di depannya.
Sedetik Rita, terdiam lalu berkata, "Kamu tahu 'kan jika Mama merebut papa mu dari wanita lain," ucapnya. Velove masih menyimak dari tempat duduknya.
"Wanita itu memiliki putri dari papamu lebih tepatnya anak kandung papamu."
"Maksud Mama aku punya saudara satu papa? Dan Mama ingin aku yang menjadi pewaris tunggal." Rita, tersenyum miris mendengar penuturan kata dari putrinya.
Sedetik tubuhnya berbalik menghadap Velove, lalu kedua kakinya melangkah maju. "Ya, itu maksud Mama. Karena anak itu kembali. Dia ada di dekat kita. Walau pun papamu belum bertemu dengannya." Katanya yang kembali berjalan dan duduk di tempat semula.
Rita, tidak tahu jika Fras, dan Dinda, sudah bertemu. Bahkan Fras, saat ini sudah mencari informasi tentang Dinda, dan Asih.
"Ada alasan dari semua itu," tambahnya.
"Alasan apa?" tanya Velove, semakin di buat penasaran.
"Kamu … bukanlah anak kandung Fras." Sontak mata Velove, membulat sempurna. Dirinya benar-benar terkejut mendengar kenyataan itu. Karena yang Velove, ketahui ayah Fras adalah ayah kandungnya.
__ADS_1
"Maksud Mama, aku bukan anak papa? Lalu siapa Papaku! Jangan bergurau itu tidak mungkin, jelas-jelas dari kecil aku adalah anaknya. Hanya aku bukan yang lain."
Velove, tidak terima dengan kenyataan yang Rita, katakan. Memang sedari kecil hanya Fras, ayah yang Velove, ketahui. Namun sepertinya ada kenyataan lain yang tidak di ketahui.
"Aku tahu papa lelaki yang Mama rebut dari wanita lain. Aku tahu itu karena Mama, mengatakan semua itu. Tapi jika aku bukan anak kandung papa itu tidak mungkin." Velove, tidak terima. Rita, hanya membuang nafasnya kasar.
"Tidak penting siapa ayah kandungmu. Bagiku kamu adalah anak Fras, aku hanya ingin kamu mengetahuinya jika.Fras, bukanlah ayah kandungmu."
"Apa ayah kandungku tidak penting!" Velove, langsung berdiri dari duduknya, dengan tatapan penuh emosi. Selama 25 tahun ibunya merahasiakan itu. Merahasiakan tentang siapa ayahnya.
Rita, masih bersikap tenang. Di seruputnya sisa teh pada cangkir di hadapannya hingga habis tidak tersisa. Rita, kembali menaruh cangkir itu pada tempatnya.
"Ada yang lebih penting dari itu," ucapnya demikan.
"Hingga sekarang papa terus mencari putrinya. Bilangnya dia hanya ingin meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Tapi aku tidak percaya, jika mereka bertemu bukan hanya kata maaf, mungkin saja papa akan memberikan hak warisnya juga."
"Masa bodo dengan hak waris aku tidak peduli." Velove, berkata dengan dingin. Matanya enggan menatap Rita, di sampingnya.
"Masa bodo! Kamu akan tidak akan mengatakan itu jika mengetahui kebenaran," ujar Asih, menimpali.
"Kamu telah merebut suami dari anaknya. Itulah kebenarannya." Velove, mengerutkan keningnya, menatapnya dengan heran. Perkataan Rita, jelas terdengar dan membuatnya bingung.
"Maksud Mama?"
"Kamu tidak mengerti? Rey, lelaki yang kamu cinta dan kamu rebut adalah suami kakak tirimu. Anak kandung papamu."
Sontak, mata Velove, membulat sempurna. kebenaran dan kenyataan yang baru di ketahui membuatnya syok. Antara percaya atau tidak. Kenyataan dirinya bukan anak kandung Fras, dan kenyataan yang mengejutkan bahwa Dinda, adalah anak kandung Fras, saudara tirinya.
"Bagaimana mungkin," lirih Velove, dengan suara sedikit melemah.
*****
Keadaan Dinda, sudah membaik. Walau wajahnya masih sedikit pucat. Hari ini Dinda, akan pergi ke perusahaan tempatnya bekerja. Namun bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengajukan surat pengunduran diri.
Setelah pertemuan itu dengan Fras, membuat Dinda, ingin berhenti dari perusahaan. Entah apa yang Dinda, pikirkan.
Di sebuah ruangan. Tubuhnya berdiri di hadapan Miranda. Dinda, masih diam menunggu sang bos memberikan keputusan.
__ADS_1
"Aku bingung denganmu Dinda. Kamu memohon pekerjaan padaku, lalu kamu meminta cuti semaumu, setelah kembali kamu pergi begitu saja saat meeting. Dan sekarang kamu memundurkan diri dari perusahaan. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Dinda, langsung membungkuk meminta maaf pada bosnya. Sedetik tubuhnya kembali berdiri tegak.
"Maaf Bu, saya minta maaf. Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya harus berhenti. Namun tidak bisa saya jelaskan."
Miranda, membuang nafas kasar. Tatapannya ia lemparkan ke sembarang arah. Miranda tidak mengerti apa yang terjadi pada kedua sekretarisnya itu. Pertama Mirna, dan sekarang Dinda.
Surat itu Miranda, ambil dan tunjuk 'kan di acungkannya ke udara lalu di lemparnya ke arah samping laptopnya.
"Aku tidak tahu apa masalahmu. Surat pengunduran diri ini aku terima."
Wajah Dinda, langsung berseri. Hatinya merasa lega, karena sang bos mengizinkannya dan tidak marah. Berkali-kali Dinda, ucapkan terima kasih sambil membungkuk 'kan badannya.
"Aku harap kamu tidak mengkhianatiku." Perkataan Miranda, membust Dinda, tertergun. Tidak mengerti apa maksud perkataan bosnya.
"Maksud Bu Miranda?"
"Kemarin ada seseorang dari Sanjaya Grup menanyakan dirimu, informasi lengkap tentangmu. Dan sekarang tiba-tiba kamu berhenti. Bukankah itu mencurigakan!"
"Apa Ibu memberitahukan tentang tempat tinggalku?"
"Tentu," jawab Miranda, sedikt heran. Karena melihat Dinda, yang bersikap berbeda.
"Ibu tidak berhak memberitahukan identitasku pada orang lain. Seharusnya ibu tidak melakukan itu!" Dinda mendadak emosi.
"Kenapa kamu marah padaku!" ujar Miranda, tidak kalah membentak.
Bukannya menjawab perkataan bosnya. Dinda, malah berlalu pergi dengan nafas yang memburu. Langkah kakinya semakin cepat meningalkan ruangan Miranda.
"Ayah tidak boleh tahu tempat tinggalku. Aku tidak ingin putriku terkena kutukan karena bertemu dengannya." Dinda, menggerutu sepanjang langkahnya.
Hingga sampai saat ini Dinda, masih berpikir bahwa pernikahan nya kutukan. Karena masalah yang di alaminya. Dinda tidak ingin kutukan itu berlanjut pada Syena.
Sedangkan di bawah sana. Asih dan Syena, sedang bermain di depan kantor New-Dream karena sang cucu ingin bertemu dengan om pengacara.
Tanpa mereka sadari, di sebrang jalan sebuah mobil BMW hitam memantau pergerakan mereka. Dari dalam seorang pria terus memperhatikan Asih, dan Syena.
__ADS_1