
Di kamar.
Sepanjang perjalanan dari ruang makan menuju kamarnya. Bian terus saja menggerutu tidak jelas. Tampaknya mood - nya hancur seketika pagi ini.
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Bian kepada Lea yang cekikikan saat sudah ada di dalam kamar.
"Habis kamu lucu sayang," jawab Lea yang masih terus tertawa.
"Kenapa bisa lucu, aku kan lagu kesel," ucap Bian dengan nada kesalnya.
"Iya lah lucu, orang mami berbicara seperti itu untuk memanas-manasi aku. Eh taunya kamu yang tersulut emosi," jelas Lea.
Bian langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk ditepian tempat tidur. Raut wajahnya seperti sedang memikirkan kata-kata Lea barusan. "Benar juga ya. Terus apa kamu tidak merasa kesal sayang?" tanya Bian.
Lea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Bian. Membuat Bian tidak habis pikir dengan istrinya itu. "Kenapa kamu bisa tidak kesal?" tanya Bian lagi.
"Kenapa harus kesal?" Lea malah balik bertanya.
__ADS_1
"Terus kamu tidak merasa keberatan kalau perempuan ganjen itu tinggal di rumah ini?" timpal Bian.
"Aku merasa salah telah memaksa kamu untuk kembali ke rumah ini. Eh taunya belum ada sehari disini sudah membuat kita jengkel," lanjutnya.
"Hah? Siapa yang jengkel? Kita?" Lea memperjelas pertanyaan Bian.
"Kita? Kamu saja kali sayang, aku santai kok," ucap Lea enteng.
"Sudahlah sayang kamu tidak perlu menutup-nutupi kalau kamu sebenarnya juga jengkel kan dengan kejadian pagi ini," tebak Bian seraya merangkul bahu Lea.
"Enak aja main tuduh. Aku sama sekali tidak merasakan apapun. Aku biasa saja sayang mau dia disini sementara atau selamanya, aku tidak peduli," ucap Lea yang terlihat bijak.
Jujur saja Bian terpana dengan kata-kata istrinya yang tampak bijaksana. Tidak seperti Lea yang dia kenal dulu yang ketergantungan dengan orang lain. "Apa ini efek gue di penjara ya? Dia jadi mandiri," batin Bian.
"Tadinya aku mau ngajak kamu balik ke apartemen atau kita beli rumah sendiri saja," ucap Bian.
"Haha ... tidak usah kali. Aku orangnya kalau sudah mengambil keputusan harus aku selesaikan sampai akhir," tolak Lea.
__ADS_1
"Beneran tidak apa-apa tetap tinggal disini? Lalu kenapa tadi awalnya kamu ragu dan tidak mau?" selidik Bian.
"Awalnya memang aku ragu untuk balik kesini. Tapi kan kamu berhasil meyakinkan aku untuk semuanya akan baik-baik saja jika aku kembali ke rumah ini. Ya sudah aku percaya dan sudah ambil keputusan untuk kembali kesini," jawab Lea.
Rasanya gemas sekali dengan jawaban Lea yang terlihat santai dan bertanggungjawab. Bertanggungjawab dengan keputusan yang telah dia ambil. "Lama-lama keren juga nih pemikiran istri gue," batin Bian.
Disisi lain Bian juga meragukan hubungan Lea dengan Dwita. Yang sampai saat ini masih memanas serta belum ada tanda-tanda perdamaian.
"Lalu bagaimana dengan mami?" tanya Bian.
"Mami? Tenang saja sayang, perlahan aku yakin akan bisa menaklukkan hati mami," jawab Lea.
"Mungkin untuk saat ini mami benar-benar tidak menerima aku. Tapi aku yakin kok suatu saat aku bisa membuatnya menerima aku," ucapnya dengan pasti.
"Masa dapetin hati anaknya aja bisa. Dapetin hati orang tuanya jelas bisa dong," imbuhnya sembari menjulurkan lidahnya. Bian yang tidak tahan dengan tingkah istrinya itu langsung membekapnya dalam pelukan manja.
"Anak kecil sekarang udah mandiri dan berpikir dewasa ya," ucap Bian didalam pelukannya.
__ADS_1
Bian berterimakasih atas semua ini, dibalik cobaan pasti ada hikmah didalamnya. Berkat perpisahan Bian dan Lea sementara saat Bian di penjara. Membuat Lea bisa hidup mandiri dan dewasa. Jika dibandingkan perubahannya jauh lebih baik dibandingkan Lea yang dulu.