
Tanpa terasa butiran bening dari sudut mata Fras, luruh membasahi punggung tangannya. Membuat mata Fras, mengerjap setelah mengingat masa lalu pahit itu.
'Kenapa? Kenapa harus anak ku yang menerima karmanya' batin Fras, menerawang jauh Rey, di depannya.
Rey, menatap bingung. Apa yang terjadi pada mertuanya? Kenapa menangis.
"Pa? Ada apa kenapa menangis?"
Fras, tidak menjawab. Tatapannya semakin tajam pada Rey. Fras, bingung apa yang harus di lakukannya. Meminta Rey, untuk kembali pada Dinda, dan meninggalkan Velove. Tapi bagaimana perasaan Velove, nanti. Kedua putrinya akan sama-sama terluka.
Namun, hatinya begitu benci bila melihat wajah Rey, karena mencerminkan gambaran dirinya di masa lalu. Bahkan rasa sesal masih ada pada hatinya. Jika bisa Fras, ingin memukul dirinya sendiri karena mengabaikan seorang wanita yang begitu ia cinta.
Sedetik tubuh Fras, bangkit berdiri. Langkah kakinya berjalan mendekati Rey, di hadapannya.
"Apa kamu tahu siapa wanita yang kamu sakiti?" tanya Fras, dalam langkahnya.
"Maksud Papa Dinda?" tanya Rey, dengan bingung.
"Ya, apa kamu tahu siapa Dinda!"
"Memangnya siapa Pa?"
"Dia adalah putriku."
Mata Rey, seketika membulat. Tubuhnya langsung bangkit dari tempat duduknya. Terkejut iya, seorang pria yang di kenal sebagai ayah dari istrinya Velove, namun juga mengaku sebagai ayah dari mantan istrinya Dinda.
Apakah dirinya menikahi kedua wanita yang bersaudara? Entahlah Rey, pun tidak mengerti.
"Jangan pernah usik kehidupannya lagi. Jangan mencoba mengambil cucuku darinya. Jangan pernah." Ucap Fras, yang menatap tajam pada Rey.
"Tapi aku berhak atas Syena, aku ayahnya dia putriku."
"Kamu tidak berhak lagi atas anakmu setelah kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan nya."
"Tapi aku tidak meninggalkannya. Sama sekali aku tidak ingin menceraikannya. Tetapi Dinda yang …"
Perkataan Rey, terhenti. Sesaat sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya. Rey, mendongak, satu telapak tangannya ia sentuh 'kan pada pipi kanannya yang panas karena tamparan dari Fras.
Mata Fras, begitu tajam menatapnya. Baginya Rey, pantas merasakan apa yang Fras, rasakan. Terpisah dari putrinya, menahan rasa rindu yang menyiksa, bahkan putrinya sendiri membencinya.
Sebagai hukuman Rey, harus merasakan apa yang di rasakan nya dulu. Mungkin dengan membiarkan hidup putri dan cucunya tenang akan menghapus dosa dan kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
Walau pintu maaf belum sepenuhnya terbuka dan masih tertutup. Tapi Fras, berharap kehidupan putrinya akan bahagia tanpa adanya Rey, yang terus menghantuinya.
"Menjauhlah dari kehidupannya jangan pernah muncul apa lagi berani membawa cucuku pergi darinya." Kata Fras, penuh penekanan.
"Ku maafkan kesalahanmu pada putriku. Tapi jika … kamu mengulangi hal yang sama pada Velove, aku tidak akan memaafkan mu jika kamu menyakiti kedua putriku."
Rey, membuang nafasnya kasar. Tamparan itu masih membekas dan terasa panas. Kejutan apa yang Rey, terima saat ini. Sangat jauh dari bayangannya.
"Pergilah, keluar dari ruangan ku." Fras, berkata seraya membalik 'kan tubuhnya membelakangi Rey.
Rey, yang di pinta pergi pun hanya diam lalu melangkah pergi dengan hati yang penuh emosi. Diamnya Rey, bukan berarti takut atau setuju dengan perkataan Fras. Apalagi saat Fras, menampar wajahnya, membuat hatinya sakit dan semakin marah.
Di bantingnya pintu dengan keras, saat Rey, memasuki ruangannya. Emosinya semakin memuncak. Semua barang yang ada di dalamnya ia lempar dan banting ke bawah lantai. Membuat ruangan itu seketika hancur berantakan.
Rey, tidak terima menerima hinaan seperti ini. Bagi Rey, bukan sepenuhnya semua yang terjadi adalah kesalahannya. Namun mengapa hanya dirinya seorang yang selalu di salahkan dan mendapat hinaan.
Velove, juga bersalah. Karena wanita itu hidupnya hancur, rumah tangganya juga hancur, dan Rey, harus kehilangan putri satu-satunya.
"Apa yang di lakukan pria itu sudah menghancurkan dan merendahkan ku. Akan aku bawa Syena, pergi. Tidak peduli dengan semua ancaman pria tua itu. Aku ayah nya aku berhak atas putri ku."
Nafas Rey, begitu memburu. Kedua telapak tangannya ia kepalkan dengan kuat.
*****
Namun, saat melihat wajah Syena, hatinya begitu tenang.
"Syena, Syena!"
"Syena, di sini Dinda," ucap Asih, yang memangku Syena. Berjalan menghampiri Dinda.
Sedetik Dinda, langsung memeluk Syena, Asih, melihat nya hanya terheran-heran. Dinda, seperti takut akan kehilangan.
"Syena, kamu jangan tinggalkan Mama ya. Jangan pernah sayang." Ucap Dinda, yang masih memeluk Syena.
"Dinda, apa yang kamu katakan. Syena, tidak akan pergi kemana pun. Dia bersama kita."
"Tidak Bu! Rey, dia akan datang membawa Syena, pergi."
"Tidak akan adabyang membawa Syena, pergi darimu."Ujar Willy, yang baru saja masuk ke dalam kamar Dinda, bersama Rio.
Dinda, dan Asih, langsung menatap Willy, yang baru saja mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Kamu lupa Dinda! Aku adalah pengacara mu. Sebagai pengacara aku akan melindungi klien ku. Jangan takut Syena, tidak akan pergi. Siapa pun yang berani membawanya akan berurusan dengan ku."
Asih, yang mendengar perkataan demi perkataan yang Willy, dan Dinda, katakan membuat nya semakin bingung. Topik apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa membahas cucunya yang akan di bawa pergi seseorang.
Willy, mendekat. Di elusnya dengan lembut kepala Syena, satu senyuman ia berikan pada anak itu. Kedua tangannya langsung mengambil tubuh mungil itu dari pangkuan Dinda. Memindahkan nya pada pangkuannya.
"Syena, kita akan bermain lagi 'kan! Sekarang katakan pada ibu mu. Bahwa Syena tidak akan pergi dan akan bermain dengan om pengacara." Ujar Willy, pada Syena. Membuat Syena, menurut semua yang di perintah 'kan nya.
"Mama Syena gak akan pergi. Tapi mau main sama om pengacara," ucap Syena dengan suara khasnya. Membuat senyuman Dinda, merekah seketika.
Asih, Karin, dan juga Rio, terenyuh melihat pemandangan indah di depannya. Bagi Rio, sahabatnya itu sudah seperti seorang ayah bagi Syena, dan suami bagi Dinda.
Bagi Asih, melihat sikap Willy, saat ini seperti melihat bayangan masa depan putri dan cucunya. Bolehkah dirinya berharap jika pemandangan indah ini adalah nyata bukan sekedar rekayasa.
Ingin sekali melihat putrinya memilki keluarga utuh seperti pemandangan indah ini. Syena, yang memiliki ayah dan Dinda, yang memiliki suami yang menyayangi dirinya. Bolehkah Asih, egois sekali saja. Jika dirinya Tuhan, mungkin Asih, akan menyatukan mereka dan menjadikan sebuah keluarga.
Tanpa terasa bulir air mata luruh membasahi pipinya.
"Izinkan putri ku bahagia Tuhan." Batinnya seraya menyeka air matanya.
Sedangkan Karin, memilih untuk diam tidak bisa berkata apa pun. Namun, dalam hatinya Karin, berharap jika Dinda, akan mendapatkan kebahagiaan nantinya. Memilki keluarga yang utuh, memulai hidup baru, melupakan masa lalu.
Namun bagaimana dengan dirinya? Haruskah Karin, berharap untuk kehidupannya nanti? Berharap mendapatkan cinta yang tulus, memiliki keluarga yang utuh, suami yang baik menyayanginya juga anaknya nanti.
Rio, melangkah pergi keluar dari kamar. Karen tidak tahan melihat pemandangan yang romantis ini. Menyadari Rio, pergi Karin, pun ikut pergi menyusulnya.
Langkah Rio, baru saja keluar dari pintu. Berniat untuk pergi ke taman hanya sekedar duduk manis sambil menikmati pemandangan indah di rumah sakit ini.
Namun, belum dirinya melangkah lebih jauh suara Karin, memekik menghentikan langkah nya.
"Hei penipu!"
Rio, langsung menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Karin, yang berjalan ke arahnya. Matanya sungguh sangat malas melihat tampang wanita di depannya.
"Mau apa lagi wanita ini." gumam Rio.
Langkah Karin, terhenti dua langkah darinya. Kedua tangan Karin, lipat 'kan di bawah perut. Matanya menyunus tajam pada Rio.
Sedetik satu tangannya bergerak, telapak tangannya terulur seolah sedang meminta.
"Kembalikan ponselku. Apa kamu mau mencurinya," ketus Karin, membuat Rio, berdecak kesal.
__ADS_1
Di rogohnya satu saku celananya, untuk mengambil sebuah benda pipih, dengan lambang apple di belakangnya. Tangan Karin, langsung ngambil ponsel itu dari tangan Rio.
"Dengar ya! Jangan panggil aku penipu jika berani memanggil ku seperti itu. Ku tuntut kamu." Ujar Rio, yang memberikan kartu namanya, lalu pergi. Karin, hanya memandang rendah kartu nama itu.