Life After Married

Life After Married
Bab 103- Apa salah menjadi seorang janda?


__ADS_3

"Willy?" panggil seorang wanita yang membuat mereka menoleh ke sumber suara.


"Mama! Mama ada di sini?" Ternyata itu adalah ibunya. Benar-benar momen yang pas untuk Dinda.


Willy segera beranjak dan bangun dari duduknya menghampiri sang ibu yang masih berdiri.


"Kapan Mama datang?"


"Baru semalam sampai. Siapa ini Wil?" tanya wanita itu yang melirik Dinda.


Dinda yang sadar akan di tanya langsung bangun lalu membungkuk hormat. Memperkenalkan dirinya pada ibu nya Willy.


"Dinda."


"Mayang," jawabnya. Awal yang baik, ternyata calon mertua tidak seperti yang di bayangkan. Mayang terlihat ramah dan menerima jabatan tangannya. Hati Dinda sedikit lega karena respon sang mertua sangat baik.


"Tumben kamu bawa cewek Wil." Pertanyaan dengan nada mengejek. Willy memang tipe cowok pendiam, dan dingin. Tidak pernah terlihat jalan atau bersama seorang wanita. Apalagi membawanya ke rumah.


Sang ibu pun sangat ingin melihat putranya menikah dan memiliki menantu idaman. Bagi Mayang, Dinda wanita cantik lembut sikap nya pun sangat sopan. Namun ada yang tidak Mayang tahu. Tentang status Dinda.


"Sekalian saja kami pergi jalan-jalan." Jawab Willy yang kembali duduk.


"Mayang duduk lah. Ada calon mantu itu harus di sambut." Perintah sang Nenek. Mayang hanya tersenyum lalu duduk di samping nenek itu.


Mayang belum menyadari kehadiran Syena. Saat hendak duduk Mayang melirik ke arah neneknya. Yang sedang tertawa bersama gadis kecil yang tidak dia kenali.


"Ini siapa?" tanya Mayang yang melihat Syena.


"Syena, anak ku tante." Sedetik Mayang menatap Dinda.


"Anak!" Mayang terlihat tidak suka, senyumnya perlahan memudar.


Di saat sedang berkumpul Willy beranjak pergi karena harus mengangkat telepon. Tinggal lah mereka bertiga di ruangan itu. Tatapan Mayang tidak henti-hentinya tertuju pada Dinda. Melihat penampilannya dari atas hingga bawah.


Cantik. Satu kata untuk memuji Dinda. Tapi Janda. Satu kata yang membuatnya tidak suka. Bagaimana mungkin putranya menikahi seorang janda.


"Jadi kamu sudah pernah menikah?" tanya Mayang tanpa melihat ke arah Dinda.


"Iya tante."


"Cerai atau …."


"Kami pisah karena cerai," jawab Dinda yang sudah tahu maksud perkataan Mayang.


Tidak mudah menerima seorang wanita yang mempunyai masa lalu. Apa lagi masa lalu itu terus menghantui.


Mayang beranjak dari duduknya pamit untuk pergi ke kamarnya. Dinda melihat itu dan merasakan perubahan sikap dari Mayang.

__ADS_1


Saat melewati kamar, Mayang berpapasan dengan Willy yang baru saja mengakhiri obrolannya pada sambungan telepon. Mayang pun mengajak putranya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Willy, Mama mau bicara."


Willy yang hendak melangkah pun terpaksa berhenti dan masuk ke dalam kamar ibunya.


"Ada apa Ma?" tanya Willy setelah berada di dalam kamar.


"Siapa Dinda? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Mayang tanpa basa-basi.


"Dia kekasih ku calon istriku."


"Kamu yakin? Dia sudah pernah menikah dan punya anak."


"Lalu dimana masalah nya?" tanya Willy santai.


"Willy, tidak mudah menjalani hubungan dengan seorang wanita yang mempunyai masa lalu."


"Aku tidak mengerti apa maksud Mama."


Mayang membuang nafasnya kasar. Terlihat jelas kekecewaan pada raut wajahnya. Sepertinya Mayang tidak menyukai hubungan ini.


"Mama tidak suka kamu berhubungan dengannya."


"Apa salahnya jika Dinda sudah pernah menikah?"


"Willy, dengarkan Mama. Mereka bercerai berarti suaminya masih ada dan mereka punya satu anak. Tidak mungkin jika Dinda dan mantan suaminya tidak pernah bertemu. Dan itu akan menjadi konflik bagi pernikahanmu nanti. Bisa saja lelaki itu terus menghantui."


"Willy, pikirkan baik-baik. Masih banyak wanita di luaran sana yang baik dan singgle."


"Tidak bisa Ma, aku sudah berjanji untuk menikahinya. Dan aku menyayangi putrinya dan akan menganggapnya menjadi putriku. Mungkin Mama belum mengenal Dinda dengan baik. Dinda tidak seperti yang mama pikirkan."


Setelah mengatakan itu Willy bergegas pergi. Berpamitan pada neneknya membawa Dinda dan Syena pulang.


"Dinda, Syena, ayo kita pulang." Ajak Willy saat sampa di ruang keluarga.


Dinda merasa heran karena sikap Willy yang berbeda, seperti kesal dan menahan amarah. Tanpa mengatakan apa pun Willy langsung meraih Syena ke dalam pangkuannya.


"Mau kemana?" tanya Neneknya.


"Mau pulang Nek."


"Kamu gak tinggal di sini Wil?"


"Aku akan menginap di hotel." Jawab Willy, dingin. Membuat sang Nenek curiga begitu pun dengan Dinda kebingungan.


"Wil, aku belum pamit sama tante Mayang."

__ADS_1


"Tidak usah ayo kita pulang. Takut kesorean kasihan Syena."


Dinda hanya pasrah saat Willy menuntun tangannya. Mayang keluar dari kamar melihat kepergian putranya.


"Apa kamu menyinggung nya?" tanya si Nenek. Yang mendelik kan matanya.


Seolah sudah tahu bagaimana hubungan anak dan cucunya. Mayang dan Willy tidak pernah satu pendapat. Mayang yang selalu menekan dan Willy yang selalu membantah. Karena tidak suka hidupnya yang selalu di atur oleh ibunya.


"Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan." Ujar Mayang yang mendaratkan bokongnya pada kursi.


"Tentang apa lagi?" Nenek Rose pun ikut duduk di sampingnya.


"Ibu ini bagaimana sih. Baru saja cucumu membawa seorang wanita yang sudah memiliki anak. Bahkan dia bilang ingin menikahinya."


"Lalu apa masalahnya? Bukannya kamu senang karena putramu akan menikah."


"Tapi tidak dengan seorang janda juga Bu. Kenapa harus single parent jika di luaran sana masih banyak yang single, perawan."


"Apa salahnya menjadi seorang janda? Apa mereka tidak berhak bahagia? Tidak penting gadis atau janda bagiku yang penting mereka sama-sama suka dan wanita itu sangat baik dan pantas menjadi menantu kita."


"Ibu! Ibu tidak mengerti."


"Tidak mengerti apa maksudmu. Kamu yang tidak mengerti keinginan putramu. Dan lihat lah sekarang anak itu pergi."


Rose terlihat kesal dan berlalu pergi. Sedangkan Mayang hanya bisa menahan kekesalan nya.


Gadis atau janda memang tidak penting. Tapi baginya itu sangat penting. Teman-temannya akan bertanya nanti. Bagaimana jika tahu kalau anaknya menikahi seorang janda. Mungkin itu akan menjadi bahan olokkan untuk teman-temannya.


"Ibu benar-benar tidak mengerti. Apa nanti kata teman ku. Menantuku seorang janda beranak satu. Padahal putraku pria hebat, pintar dan tampan kenapa harus menikah dengan janda."


Itu lah yang Mayang takut kan. Reputasinya dan harga dirinya.


*****


Sepanjang jalan Willy hanya diam dan fokus pada bundaran stirnya. Tatapan matanya sangat tajam. Terlihat urat-urat tangannya bermunculan sebagai tanda bahwa Willy sedang marah.


Dinda hanya diam, dan melihat ekpresi Willy yang tidak biasa. Ingin bertanya namun tidak berani, lebih baik Dinda bertanya setelah sampai di rumah nya.


Willy menghentikan mobilnya di depan rumah Dinda, langit saat itu terlihat mendung mungkin karena siang akan berlalu dan berganti malam.


"Kita sudah sampai. Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai dalam. Salamkan salam ku pada Ibu" ucap Willy.


Dinda langsung membuka setbelt nya. Dan hendak turun namun, tiba-tiba suara hatinya ingin berkata, "Ibumu sepertinya tidak suka denganku. Aku mengerti perasaan tante Mayang. Tidak semudah itu akan mengizinkan anaknya menikah dengan wanita seperti ku. Yang memiliki masa lalu. Mungkin tante Mayang menginginkan kamu menikah dengan wanita yang baik yang masih gadis, bukan janda seperti ku."


"Apa bedanya gadis atau janda? Bagi ku mereka sama-sama wanita."


Memang tidak ada bedanya. Tapi pandangan orang itu berbeda dan seorang janda selalu di anggap buruk oleh masyarakat.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tinggallan jejak . 🥰


__ADS_2